Dalam tradisi masyarakat Jawa dan pesantren, tirakat diartikan sebagai suatu bentuk latihan batin (riyadhoh) dan pengendalian diri untuk mencapai tujuan yang lebih mulia. Kata tirakat sendiri sering dikaitkan dengan usaha mengekang hawa nafsu, melatih kesabaran, memperkuat spiritualitas, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bagi seorang santri, tirakat bukan sekadar melakukan amalan-amalan berat seperti puasa atau ibadah lainnya. Lebih dari itu, tirakat adalah segala bentuk perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan dalam rangka menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Oleh karena itu, tirakat santri tidak hanya berupa ibadah ritual, tetapi juga mencakup kedisiplinan dalam belajar, menjaga akhlak, serta menghindari segala sesuatu yang dapat menghambat proses mencari ilmu.
Berikut beberapa bentuk tirakat yang lazim dilakukan oleh seorang santri :
1. Ngaji
Selaras dengan pengertian santri itu sendiri, yaitu seseorang yang mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mencari ilmu di pondok pesantren, maka tirakat yang paling utama dan paling harus diprioritaskan adalah mengaji. Adapun tirakat-tirakat lainnya pada hakikatnya merupakan pelengkap dan penunjang agar proses mencari ilmu menjadi lebih sempurna.
Sering kali seseorang terlalu bersemangat melakukan berbagai macam riyadhoh, tetapi justru mengabaikan kewajiban utamanya sebagai santri, yaitu ngaji. Padahal, tujuan utama berada di pesantren adalah menuntut ilmu. Jangan sampai seseorang rajin berpuasa sunnah, rajin wiridan, bahkan rajin melakukan berbagai amalan tambahan, tetapi malas menghadiri pengajian atau kurang serius dalam memahami pelajaran. Mengaji merupakan tirakat yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Duduk berjam-jam di hadapan guru, mendengarkan penjelasan kitab, mencatat pelajaran, dan mengulanginya kembali merupakan bentuk perjuangan yang memiliki nilai ibadah tersendiri.
2. Puasa
Pada umumnya, hampir setiap pondok pesantren, khususnya pesantren salaf, memiliki budaya tirakat yang berbeda-beda, seperti puasa yang diijazahkan oleh para kiainya. Para santri dianjurkan untuk mengamalkan puasa tersebut sebagai bentuk riyadhoh atau latihan dalam mengendalikan hawa nafsu.
Beberapa jenis puasa yang umum diamalkan di lingkungan pesantren antara lain puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa Nyireh, puasa Mutih, serta puasa yang berkaitan dengan amalan tertentu seperti puasa Dalailul Qur’an maupun Dalailul Khairat.
Hakikat dari puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan melatih diri agar mampu mengendalikan keinginan, memperkuat kesabaran, serta mendidik jiwa untuk hidup sederhana. Dengan berpuasa, seorang santri diharapkan mampu mengendalikan nafsunya sehingga lebih mudah berkonsentrasi dalam belajar dan beribadah.
Namun demikian, puasa hendaknya dilakukan sesuai kemampuan dan tetap memperhatikan kewajiban utama seorang santri, yaitu belajar dan menjaga kesehatan agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.
3. Mujahadah
Ada sebuah pepatah : “Pukul dua pagi hingga pukul empat subuh adalah majelisnya orang-orang saleh, majelisnya orang-orang yang dipilih Allah untuk bangun ketika kebanyakan manusia sedang terlelap tidur.”
Tidak sedikit kiai-kiai besar yang terkenal alim dan mendalam ilmunya memiliki kebiasaan bangun pada sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat Tahajud, Taubat, Hajat, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.
Mujahadah merupakan bentuk kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagi seorang santri, bangun malam bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana memohon keberkahan ilmu, kemudahan memahami pelajaran, serta kekuatan untuk istiqamah dalam menempuh perjalanan mencari ilmu. Karena pada hakikatnya, ilmu bukan hanya hasil dari kecerdasan berpikir, tetapi juga buah dari keberkahan dan pertolongan Allah SWT.
4. Muthala’ah (Membaca dan Menulis)
Sebenarnya, poin ini merupakan satu kesatuan dengan tirakat mengaji. Namun muthala’ah merupakan salah satu cara agar ilmu yang telah dipelajari benar-benar melekat dalam diri seorang santri.
Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah dawuh :
“Tirakat santri yang paling utama adalah membaca, dan ibadah santri yang paling membekas adalah menulis.”
Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang saling melengkapi. Seorang santri yang tidak gemar membaca akan kesulitan memperluas wawasan dan memperdalam ilmunya. Sebaliknya, santri yang tidak membiasakan menulis juga akan mudah melupakan ilmu yang telah diperolehnya.
Oleh sebab itu, setelah selesai mengikuti pengajian bersama kiai atau ustadz, seorang santri sepatutnya membuka kembali kitab yang telah dipelajari, mengulang pelajaran, mencatat poin-poin penting, serta mendiskusikannya bersama teman-temannya. Inilah yang disebut muthala’ah. Kebiasaan membaca dan menulis juga akan melatih kemampuan berpikir kritis, memperkuat daya ingat, serta menjadi bekal berharga ketika suatu saat nanti santri harus mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
5. Zuhud Amali
Sekaya apa pun latar belakang seorang santri, ketika berada di pondok pesantren biasanya ia dilatih untuk hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan. Kesederhanaan tersebut tampak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari tempat tidur, pakaian, alas kaki, hingga makanan sehari-hari.
Di pesantren-pesantren salaf, tidak jarang santri tidur beralaskan karpet atau bahkan sejadah, mengenakan pakaian dan sarung yang sederhana, memakai sandal seadanya, serta makan dengan lauk yang sederhana seperti tahu dan tempe.
Hal tersebut bukanlah pendidikan untuk hidup melarat, melainkan latihan agar seorang santri tidak terlalu bergantung pada kemewahan dunia. Pondok pesantren adalah tempat menuntut ilmu, bukan hotel atau tempat hiburan. Kesederhanaan mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari pakaian, tempat tidur, ataupun makanan yang dimilikinya, tetapi dari ilmu, akhlak, dan ketakwaannya.
6. Tidak Berbuat Maksiat
Gus Baha pernah menyampaikan sebuah dawuh yang sangat menarik,
“Guru saya itu tidak terlalu suka pada santri yang terlalu banyak tirakat puasa. Tirakat santri yang paling penting adalah jangan maksiat, karena meninggalkan maksiat itu tirakat yang paling berat.”
Secara logika, amalan sunnah seperti puasa boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan. Namun, maksiat adalah sesuatu yang wajib dijauhi dan tidak boleh dilakukan.
Akan tetapi, dawuh tersebut tidak boleh dipahami secara sempit seolah-olah puasa sunnah tidak penting. Maksudnya adalah seorang santri harus lebih mengutamakan kewajiban daripada amalan tambahan. Jangan sampai rajin berpuasa, tetapi masih suka berdusta, ghibah, menyakiti teman, melanggar aturan pesantren, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Di sisi lain, puasa sunnah justru dapat menjadi sarana untuk membantu seseorang meninggalkan maksiat. Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan para pemuda yang belum mampu menikah agar memperbanyak puasa sebagai benteng dalam menjaga hawa nafsu.
7. Membatasi Penggunaan HP
Di era modern seperti sekarang, muncul bentuk tirakat baru yang sangat relevan dengan kehidupan santri.
Gus Yusuf Chudlori pernah dawuh :
“Tirakat sing paling penting jaman saiki iku poso nyekel HP.”
Artinya, tirakat yang paling penting pada zaman sekarang adalah membatasi penggunaan telepon genggam.
Gus Yusuf melanjutkan dawuhnya “Santri-santri yang tidak pegang HP setengah tahun, insyaAllah itu setara dengan puasa tiga tahun, karena tidak HP an di zaman sekarang itu lebih berat”. Sebab godaan HP pada zaman sekarang jauh lebih berat dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Penulis sangat sepakat dengan dawuh tersebut. Sebab, sebanyak apa pun bentuk tirakat yang dilakukan, jika seseorang sudah kecanduan HP, maka banyak tirakat lainnya yang akan terganggu. Misalnya lebih mementingkan bermain HP daripada mengaji, lebih senang bermain game daripada muthala’ah, lebih sering begadang untuk berselancar di media sosial daripada mujahadah, bahkan tidak sedikit yang terjerumus pada tontonan dan konten yang tidak pantas.
Padahal, HP sejatinya hanyalah alat. Jika digunakan dengan baik, ia bisa menjadi sarana belajar dan berdakwah. Namun, jika tidak dikendalikan, justru dapat menjadi penghalang terbesar dalam menjalankan tirakat.
Oleh karena itu, “puasa HP” atau membatasi penggunaan HP merupakan salah satu bentuk tirakat yang sangat penting bagi santri di era digital.
Penutup
Tirakat santri tidak selalu identik dengan amalan-amalan yang berat dan luar biasa. Tirakat yang paling utama justru adalah menjalankan kewajiban sebagai santri dengan sungguh-sungguh. Mengaji, muthala’ah, menjaga akhlak, menghindari maksiat, hidup sederhana, membiasakan bangun malam, berpuasa, hingga mampu mengendalikan penggunaan HP merupakan berbagai bentuk tirakat yang saling melengkapi.
Dari seluruh bentuk tirakat tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa tujuan utama tirakat bukanlah mencari kesaktian, karomah, ataupun pujian manusia, melainkan membentuk pribadi santri yang berilmu, berakhlak, disiplin, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, ilmu yang bermanfaat tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga melalui kesungguhan, adab, dan keberkahan dalam proses mencarinya.
Editor: Cheppy Eka J


baca juga
Rupo-rupo Khidmahe Santri
Puncak Kesuksesan Seorang Orang Tua
Keutamaan Orang Mengaji Walau Belum Sampai Paham