Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, Dr. KH Marzuqi Mustamar, M.Ag., mengupas tuntas sejarah akulturasi budaya dan bahasa dalam perkembangan Islam di dunia. Hal tersebut beliau sampaikan saat mengisi pengajian rutin kitab At-Tadzhib di Masjid Nur Ahmad pada Senin (8/6/2026).
Dalam ceramahnya, KH Marzuqi Mustamar menegaskan bahwa kehadiran agama Islam di tengah masyarakat tidak serta-merta bertujuan untuk menghapus atau memberangus kebudayaan lama yang sudah mengakar kuat. Sebaliknya, Islam hadir untuk mengisi wadah budaya tersebut dengan nilai-nilai tauhid.
Beliau membeberkan bukti historis global yang terjadi saat Islam menyebar ke wilayah Persia (Iran). KH Marzuqi mengungkapkan bahwa kata “menara” atau manarah dalam bahasa Arab pada mulanya merupakan tradisi kaum Majusi untuk menyebut bangunan tinggi tempat menyalakan api suci sembahan mereka (abadatun-nar). Ketika Islam menguasai wilayah tersebut, bangunan tinggi itu tidak dihancurkan dan istilahnya tidak diganti, melainkan dialihfungsikan sebagai tempat muazin mengumandangkan adzan.
“Nama atau bangunannya tetap disebut manarah (menara) menggunakan istilah lama. Asalkan maknanya sudah Islami, itu tidak apa-apa. Di Iran dulu yang dihilangkan hanya apinya saja, lalu muazinnya naik ke atas untuk adzan,” Abah Yai Marzuqi, panggilan akrab beliau di kalangan para santri.
Fenomena serupa juga terjadi di Nusantara saat para Wali Songo menyebarkan Islam. Abah Yai mencontohkan penggunaan kata “Sembah Hyang” yang berasal dari tradisi menyembah Sang Hyang dalam agama Hindu. Oleh para Wali, istilah tersebut tetap dilestarikan namun esensi ibadahnya diganti menjadi salat menghadap Allah SWT. Hal yang sama juga berlaku pada istilah puasa (poso) dan penggunaan kain sarung yang dipertahankan karena sudah memenuhi kriteria syariat Islam dalam menutup aurat.
“Dengan tetap melestarikan istilah lama, maka kita mendeklarasikan datangnya Islam tidak harus menghapus dan memberangus budaya lama. Wadahnya tetap pakai yang lama tidak apa-apa, yang penting isinya Islam. Wadahnya Pancasila, isinya tauhid dan hablum minallah hablum minannas,” ujar Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang ini.
Menurut Abah Yai Marzuqi, metode dakwah yang memanfaatkan bahasa, istilah, dan pakaian lokal ini sangat efektif agar masyarakat setempat tidak merasa asing atau dijajah secara budaya oleh bangsa lain. Ia menilai dakwah tidak harus selalu diformalisasikan atau diubah agar tampak kearab-araban.
Lebih lanjut, beliau juga menjelaskan eksistensi tempat ibadah seperti “langgar” atau mushala di perkampungan Jawa. Istilah dan fungsinya sengaja dirancang lebih fleksibel oleh para ulama terdahulu agar masyarakat awam maupun lingkungan yang heterogen bisa tetap nyaman berinteraksi di sekitar tempat ibadah, berbeda dengan aturan formal masjid yang jauh lebih ketat.
Di akhir kajiannya, beliau berpesan kepada umat Islam, khususnya para penggerak dakwah, untuk selalu menggunakan kecerdasan dan memperbanyak strategi pendekatan sosial budaya dalam merangkul masyarakat. Tujuannya adalah untuk menjaga keharmonisan dan perasaan sesama manusia tanpa harus mengorbankan hukum-hukum syariat Islam yang utama.


baca juga
Rupo-rupo Tirakate Santri
Rupo-rupo Khidmahe Santri
Puncak Kesuksesan Seorang Orang Tua