Lapo Ra Gelem Ngaji?

Beberapa tahun yang lalu saya sempat mendapat kabar dari guru ngaji saya di kampung halaman. Beliau menyampaikan bahwa saat ini Madrasah Diniyah mulai terasa sepi. Anak-anak zaman sekarang, setelah lulus SMP atau SMA, mulai merasa gengsi untuk tetap mengaji. Entah apa penyebab utamanya. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sekolah, organisasi, atau pekerjaan. Ada pula yang merasa dirinya sudah dewasa, sehingga menganggap tidak perlu lagi belajar agama sebagaimana ketika masih kecil.

Padahal, kondisi seperti ini justru menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi para orang tua. Mereka harus mampu membimbing, merayu, memberikan teladan, serta menanamkan kesadaran kepada anak-anaknya agar tetap mencintai majelis ilmu. Sebab, godaan di zaman modern saat ini semakin berat. Arus informasi yang begitu cepat, pergaulan yang semakin bebas, serta berbagai tantangan kehidupan menuntut seseorang memiliki benteng yang kokoh. Dan tidak ada benteng yang lebih kuat selain ilmu agama yang menjadi pegangan hidup.

Kita tentu sudah sangat familiar dengan dawuh yang berbunyi:

أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ


“Tuntutlah ilmu dari buaian (lahir) hingga ke liang lahat (wafat).”

Memaknai thalabul ‘ilmi (mengaji), sejatinya mengaji bukanlah program jangka pendek. Mengaji tidak dibatasi oleh usia maupun status pendidikan. Mau lulusan SMP, SMA, sarjana, magister, doktor, profesor, pejabat, pengusaha, ataupun masyarakat biasa, semuanya tetap memiliki kewajiban untuk terus belajar. Karena pada hakikatnya, mengaji adalah proyek kehidupan yang berlangsung sepanjang hayat (long life learning). Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula kita membutuhkan ilmu untuk memperbaiki diri.

Baca juga Keutamaan Orang Mengaji Walau Belum Sampai Paham

Ada sebuah fenomena yang begitu indah saya saksikan di Pengaosan Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek pada pagi hari ini, Selasa (07/07/2026). Dimana salah satu alumni santri Abah Dr. KH. Marzuqi Mustamar turut hadir mengikuti pengajian, yaitu Prof. Dr. KH. Anis Humaidi, M.Ag. Beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Ampel Kediri sekaligus Ketua Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam (PAI) di UIN Syaikh Wasil Kediri. Meskipun memiliki gelar akademik yang tinggi dan jabatan yang terhormat, beliau tetap duduk bersama santri lainnya dengan penuh kekhusyukan, membawa kitab kuning di tangan, umumnya seorang santri yang sedang menimba ilmu.

Saat mengikuti pengajian, penulis juga sering duduk bersebelahan dengan Dr. Chamim Chabibie, S.Pi., M.Pd., seorang santri abdi ndalem sekaligus dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pemandangan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek. Justru inilah keindahan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Santri yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang masih duduk di bangku SMP, SMA, mahasiswa, sarjana, magister, doktor, bahkan profesor. Semuanya duduk berdampingan tanpa sekat status sosial maupun jabatan. Tidak ada perbedaan derajat di hadapan ilmu. Semua sama-sama menjadi santri. Mereka membawa kitab kuning, pulpen, dan catatan masing-masing, lalu duduk dengan penuh adab untuk menyimak dawuh kiai. Inilah nilai lebih dari pengajian di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek. Di hadapan seorang kiai, tidak ada yang lebih tinggi karena gelar, pangkat, maupun kedudukan. Yang ada hanyalah santri yang sedang belajar. 

Lalu, jika baru lulus SMP atau SMA saja sudah minder dan enggan mengaji dengan alasan gengsi, apakah tidak merasa malu ketika melihat para sarjana, magister, doktor, bahkan profesor saja masih rela meluangkan waktunya untuk ngaji?

Baca juga Ngaji Ora Butuh Koe, Koe Sing Butuh Ngaji

Sesungguhnya, yang memalukan bukanlah duduk mengaji bersama para santri. Yang memalukan adalah ketika merasa sudah cukup ilmu, padahal masih banyak yang belum kita ketahui. Sebab, orang yang berhenti belajar sejatinya sedang menghentikan proses memperbaiki dirinya sendiri.

Mari kita renungkan, usia boleh bertambah, gelar boleh semakin tinggi, jabatan boleh semakin banyak, tetapi kebutuhan kita terhadap ilmu agama tidak akan pernah berkurang. Yuk, bisa yuk… ngaji yuk! 

Editor. Cheppy Eka