Foto. Gasek Multimedia
Sebagai seorang santri yang masih aktif dan tinggal di pondok pesantren, sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap hari menjalani aktivitas ngaji dan ngabdi. Keduanya merupakan bagian dari tradisi pesantren yang telah diwariskan sejak dahulu dan sama-sama memiliki nilai kebaikan serta keutamaan.
Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit santri yang terkadang kesulitan membedakan antara amalan yang bersifat prioritas dan amalan yang bersifat pelengkap. Akibatnya, ada yang tanpa sadar lebih mengutamakan suatu amalan yang sebenarnya bukan kewajiban utama, hingga mengabaikan tanggung jawab pokoknya sebagai santri.
Kita semua tentu memahami bahwa kewajiban utama seorang santri di pondok pesantren adalah ngaji. Ya, ngaji. Yaitu usaha seorang santri untuk selalu hadir dan duduk di majelis ilmu guna memperoleh pemahaman yang disampaikan oleh kiai atau ustadz, baik dalam pengajian wetonan (ngaji umum) maupun madrasah diniyah (kelas). Dari kegiatan inilah ilmu diperoleh, dipahami, dan diwariskan. Tanpa ngaji, seorang santri akan kehilangan tujuan utama keberadaannya di pesantren.
Adapun ngabdi adalah amalan yang sangat mulia. Bentuknya bermacam-macam, seperti menjadi sopir kiai, bu nyai, atau gus, menjadi pengurus pondok, petugas keamanan, takmir masjid, pengelola media pondok, penjaga koperasi, maupun tugas-tugas lain yang mendukung jalannya kegiatan pesantren. Semua itu merupakan bentuk khidmah yang memiliki nilai ibadah dan menjadi sarana melatih keikhlasan serta tanggung jawab.
Akan tetapi, ketika waktu ngaji dan waktu ngabdi berbenturan, terkadang seorang santri harus menentukan pilihan. Sikap yang bijaksana adalah apabila urusan ngabdi tersebut masih bisa diwakilkan atau ditunda, maka yang seharusnya diprioritaskan adalah tetap mengikuti ngaji. Sebaliknya, apabila tugas ngabdi tersebut benar-benar darurat, mendesak, dan tidak memungkinkan untuk diwakilkan, maka meninggalkan ngaji pada saat itu dapat dimaklumi sebagai suatu keadaan yang tidak dapat dihindari.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seorang santri sudah terbiasa meninggalkan ngaji dengan alasan ngabdi. Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan rasa nyaman sehingga muncul anggapan bahwa ngabdi lebih penting daripada ngaji. Akibatnya, semangat untuk hadir di majelis ilmu semakin berkurang, hingga akhirnya terbiasa malas ngaji.
Kita memahami bahwa ngaji dan ngabdi sama-sama merupakan bentuk kebaikan. Pada dasarnya, kebaikan tidak layak dibandingkan dengan kebaikan, melainkan dengan keburukan. Namun, ketika terjadi ketimpangan dalam pelaksanaannya, kita tetap harus mampu membedakan antara kebaikan yang bersifat prioritas dan kebaikan yang bersifat pelengkap. Jangan sampai sesuatu yang sifatnya tambahan justru didahulukan daripada sesuatu yang menjadi kewajiban utama.
Pemahaman yang paling berbahaya adalah ketika seorang santri memiliki anggapan, “Tidak apa-apa tidak pernah ngaji, yang penting ngabdi. Nanti bisa alim karena barokahnya kiai,” Cara berpikir seperti ini bahaya dan dapat merusak karakter dan semangat belajar seorang santri. Mereka menganggap bahwa dengan banyak ngabdi, seseorang akan menjadi alim. Padahal, kenyataannya jalan untuk menjadi alim adalah dengan menuntut ilmu melalui ngaji. Adapun ngabdi hanya berfungsi sebagai penyempurna yang menghadirkan keberkahan pada ilmu yang dipelajari, bukan sebagai penambah apalagi pengganti proses belajar itu sendiri.
Barokah tidak akan menggantikan usaha. Sebagaimana seseorang tidak akan pandai membaca kitab hanya dengan membantu menjaga koperasi atau menjadi pengurus pondok, demikian pula seseorang tidak akan memahami ilmu alat, fiqih, tafsir, atau hadist tanpa duduk di hadapan guru dan mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh. Ngaji adalah sebab bertambahnya ilmu, sedangkan ngabdi menjadi sebab datangnya keberkahan dan manfaat dari ilmu tersebut.
Karena itu, jika seorang santri ingin ilmunya bertambah, maka jalannya adalah dengan rajin ngaji, istiqamah hadir di majelis ilmu, tekun mutha’laah kitab, gemar membaca dan mencatat pelajaran yang disampaikan oleh kiai, serta bersungguh-sungguh dalam belajar. Sementara itu, ngabdi tetap harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan pengabdian kepada pesantren, tetapi tidak sampai menggeser kedudukan ngaji sebagai prioritas utama.
Ngaji dan ngabdi adalah dua amalan mulia yang saling melengkapi dalam kehidupan seorang santri. Akan tetapi, keduanya memiliki porsi dan kedudukan yang berbeda. Ngaji adalah jalan menjadi alim, sedangkan ngabdi adalah jalan menjaga adab dan mengundang barokah. Keduanya harus berjalan beriringan, tetapi ilmu tetap menjadi tujuan utama, dan khidmah menjadi penyempurnanya.
Editor. Cheppy Eka J


baca juga
Menara Api Majusi di Iran hingga Sembah Hyang di Jawa, KH Marzuqi Mustamar Kupas Akulturasi Budaya dalam Islam
Rupo-rupo Tirakate Santri
Rupo-rupo Khidmahe Santri