Website Resmi Ponpes Sabilurrosyad Gasek Malang

Khidmah Konten dari Pesantren

Beberapa Paradoks

Filosofi Mandala

Gambar. pngtree

Utara, Hitam. = Fase Benci

Tidak semua fase kehidupan kita, akan selalu berhiaskan rona bahagia. Dikelilingi hal-hal indah dan terpenuhi dengan cinta. Tidak selalu, perjalanan kita ramai menyenangkan. Ditemani banyak orang, disamping kiri-kanan. Tidak selalu pula, hari-hari kita diliputi keberuntungan. 

Terkadang, impian tidak semudah itu untuk diwujudkan. Ini kenyataan. Bukan kisah-kisah romansa, tak masuk logika yang sering digambarkan dilayar kaca. Semua gambaran indah. Bertaburan bunga, seolah sempurna, berjalan mulus lancar dan Berjaya. 

Selatan, Merah = Fase Amarah

Manusia, seringkali pelupa. Dan memang… harus sering pula diingatkan. Sibuk bermain dengan egonya. Hingga lupa sedikit mengulurkan tangannya, melihat sekitar, berempati dan peduli. Seringkali gegabah dengan rasa, emosinya. Hingga berbuat sesukanya. Kemudian… sesaat menyesalinya. Dan ternyata… kehilangan adalah jawabannya. Sesal… tak banyak merubah jalan garisnya. Terbuai dengan masa, dianggap lama. Padahal… segala sesuatu ada jangka waktunya. Kebahagiaan yang lama dan banyak, terasa singkat dengan adanya satu duka. 

Tidak ada banyak pilihan. Sendiri, menjadi suatu keniscayaan. Mencoba bangkit. Berdiri dikaki sendiri. Menata kembali langkah, yang sempat lunglai dan sedikit berantakan. Mau tidak mau… menghadapinya. Mencoba menerima, yang mungkin adalah porsi terbaiknya.

Tapi, baiknya Sang Pencipta, juga mengirimkan bala. Orang-orang baik, datang tanpa prediksi sebelumnya. Membuat diri dan kondisi, jauh lebih baik dari sebelumnya. 

Walau, beberapa part cerita diwarnai duka, dan tidak bisa dengan mudah dilupakan begitu saja. Dunia ini yang sepi, atau kita yang terlalu pemilih? Atau memang sepi? Dan coba kita ramaikan sendiri. Cerita itu sudah selesai dan usai. Tapi, memori terputar secara otomatis seringkali tanpa diminta. 

Sakitnya masih sama, tangisnya masih ada. Kerinduannya terasa. Kenangannya menggenggam jiwa. 

Barat, Kuning = Fase Cinta

Perjalanan ikhlas adalah proses berkelanjutan. Tidak mungkin, seketika bisa menerima, harus banyak mengeja, membaca dan belajar dengan diri. Kedalam diri. Kenangan, sakit dan luka masih sesekali mampir menyapa. 

Bagaimana mensyukuri yang sudah dipunya?

Melihat lagi romansa dan gambaran cerita lama. Ternyata…

Larut kesedihan itu teraduk dengan air, melarut dan kembali tenang. Sosok bahagia muncul kembali. Mengisi hari dengan beberapa kejutan kecil. 

Tidak semua harus berjalan seperti ingin kita, karna kita hidup juga dengan manusia lainnya. Yang mereka, juga sama. Punya keinginannya. 

Lagi-lagi baiknya Pencipta, selalu mengirim sosok baik yang suka rela membantu, menemani, serta banyak memahami. Tapi… hadirnya, tidak terlalu, lebih berarti dengan kekehnya mau hati. (sebelum diri menyadari). 

Timur, Biru = Fase Ikhlas

Lagi-lagi ikhlas seolah harus menjadi jawaban, dan titik akhir untuk kembali menyadari dan sadar. Semesta kita luas. Beberapa perih, pilu dan duka akan reda. Deras peluh, akan berhenti juga. Yang terasa gagal dan sia-sia masih bisa kembali kita tata. Membuka mata. Se sadar-sadarnya. 

Tak perlu meminta banyak, karna yang Pencipta beri sudah pas sesuai takaran. Cocok dengan butuh kita. Panjang perjalanan, banyak pelajaran. Yang perlahan, menghantar kita pada jawaban. Perihal ikhlas denting penerimaan, menjelma tenang. Seluruh dan menyeluruh. Semua masa, semua rasa… kita adalah hamba. Tetap, berada dibawah tangan kuasa-Nya.

Penulis. Dewi Mardiyah