Hakikat Mondok

Mungkin ada sebagian dari masyarakat kita yang masih memiliki anggapan “Mondok bertahun-tahun kok gak kelihatan hasilnya? kok gak jadi apa-apa? kok gak jadi ustadz/penceramah?”

Mau heran tapi itu nyata, hal tersebut terjadi karena sebagian orang terlanjur memiliki pandangan dan tolak ukur yang terlalu sempit tentang makna kesuksesan. Mereka mengukur keberhasilan seorang santri hanya dari apa yang tampak oleh mata.

Baca juga Keutamaan Orang Mengaji Walau Belum Sampai Paham

Banyak yang menganggap bahwa seseorang yang pernah mondok atau nyantri baru bisa disebut sukses dan berhasil apabila setelah mondok mereka memiliki banyak jamaah, mendirikan pesantren yang megah, menjadi penceramah, atau setidaknya menjadi praktisi hikmah (peruqyah atau orang yang sering dimintai air doa). Jika tidak menjadi salah satu dari semua itu, misalnya hanya menjadi seorang pedagang, petani, guru, pegawai, karyawan, atau profesi lainnya, maka dianggap percuma karena sudah mondok lama-lama. Bahkan tidak sedikit yang berkomentar, “Sayang ya, sudah mondok lama-lama, tapi akhirnya tidak jadi apa-apa.”

Padahal, sudut pandang seperti inilah yang keliru. Cara berpikir semacam ini justru menunjukkan betapa sempitnya sudut pandang masyarakat kita memaknai pesantren. Kita terlalu sibuk menilai dari kulit luarnya, hingga lupa bahwa pondok pesantren bukanlah pabrik pencetak profesi, pesantren adalah tempat menempa jiwa, membangun karakter, dan membentuk akhlak.

Kita harus menyadari bahwa dunia ini tidak hanya membutuhkan penceramah dan mubaligh. Kehidupan juga membutuhkan orang-orang saleh di berbagai bidang. Kita membutuhkan pedagang yang jujur dan tidak mengurangi timbangan. Kita membutuhkan pekerja yang amanah dalam menjalankan tugasnya. Kita membutuhkan guru yang ikhlas mendidik, dokter yang berintegritas, pejabat yang tidak korupsi, pengusaha yang bertanggung jawab, dan pemimpin yang takut kepada Allah. Selama nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren tetap hidup dalam perilaku sehari-hari—baik ketika berada di pasar, di kantor, di kampus, di ruang kelas, maupun di tempat kerja—maka disitulah sesungguhnya hasil mondok akan tampak.

Baca juga Saingan Terbesarku: Diriku Sendiri

Karena itu, berhentilah menganggap bahwa mondok lama-lama itu tidak ada gunanya hanya karena seseorang tidak menjadi dai atau pengasuh pesantren. Jangan menilai hasil mondok hanya dari aspek yang tampak di permukaan. Hakikat mondok bukan sekadar mencetak orang yang pandai berbicara tentang agama, melainkan membentuk karakter yang mampu menghadirkan nilai-nilai agama dalam setiap profesi dan setiap langkah kehidupannya. Itulah keberhasilan seorang santri yang sesungguhnya.