Insan-Insan Pilihan, Istiqamah hingga Syahadah

Ponpesgasek.id – Menjadi seorang santri bukanlah sebuah kebetulan. Semua itu adalah takdir yang Allah tetapkan kepada insan-insan pilihan-Nya. Tidak semua orang diberi jalan untuk hidup di lingkungan pesantren, tidak semua orang diberi kesempatan untuk senang ngaji, dan tidak semua orang pula diberi kekuatan untuk bertahan hingga menyelesaikan prosesnya. Karena itu, jika hari ini kita masih diberi kesempatan menjadi santri dan masih bisa merasakan ngaji, sejatinya kita sedang menikmati salah satu nikmat dan kepercayaan terbesar dari Allah SWT.

Dalam kegiatan ngaji wetonan ba’da Magrib, Abah KH. Marzuqi Mustamar menyampaikan sebuah renungan yang begitu mendalam:

“Coba bayangkan, dari jutaan manusia kamu termasuk orang yang ditakdirkan Allah untuk kuliah. Dari sekian ribu orang yang kuliah, kamu termasuk yang Allah takdirkan kuliah sambil mondok. Dari sekian ratus orang yang mondok, kamu termasuk yang Allah takdirkan betah (krasan) dan bertahan di pondok sampai detik ini. Dan di antara orang-orang yang bertahan, kamu Allah takdirkan sampai pada momen pelepasan.”

Kalimat sederhana tersebut mengajarkan bahwa setiap tahapan demi tahapan dalam hidup ini bukanlah semata-mata hasil kemampuan diri, melainkan karena ketetapan Tuhan yang telah digariskan. Ya, kamu adalah orang-orang pilihan. Banyak orang yang ingin mondok tetapi belum memiliki kesempatan. Ada yang sempat mondok namun tidak mampu bertahan. Ada pula yang bertahan beberapa waktu, lalu memilih berhenti di tengah jalan. Maka, ketika Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah hingga akhir, itu adalah nikmat yang patut disyukuri, bukan untuk dibanggakan.

Menjadi santri bukan hanya tentang tinggal di pesantren, tetapi juga tentang menempa diri dan jiwa. Setiap hari kita belajar melawan rasa malas, mengatur waktu, memperbaiki akhlak, serta membiasakan diri hidup dengan kesederhanaan. Semua proses itu adalah pendidikan yang tidak selalu bisa diukur dengan nilai rapor, tetapi akan sangat menentukan kualitas seseorang ketika terjun di tengah masyarakat.

Tidak berhenti di situ, Abah juga melanjutkan dengan gaya khas beliau yang mengundang senyum sekaligus renungan:

“Kamu (wisudawan-wisudawati) tidak hanya insan pilihan Tuhan, tapi kamu juga layak menjadi jodoh pilihan. Sudah tidak perlu diseleksi lagi. Ada sedikit kurang dan lebihnya itu wajar. Jangan terlalu milih-milih, gak nikah-nikah nanti.”

Di balik candaan tersebut tersimpan pesan bahwa proses panjang menjadi santri telah membentuk karakter, akhlak, dan cara pandang seseorang mereka. Bekal ilmu dan adab yang diperoleh selama di pesantren menjadi nilai yang sangat berharga. Sebab, pasangan yang baik bukan hanya dinilai dari kesempurnaan dirinya, tetapi juga dari kesediaannya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama.

Menjadi santri sekaligus mahasiswa memang bukan perkara yang mudah. Seseorang dituntut mampu mengelola waktu dengan sebaik-baiknya agar tetap seimbang antara aktivitas perkuliahan dan kegiatan mengaji. Siang hari berjuang di bangku kuliah, malam hari menghidupkan majelis ilmu di pesantren. Maka, bagi kalian yang hari ini mampu melewati seluruh proses tersebut hingga akhir, sungguh itu adalah pencapaian luar biasa yang patut disyukuri. 

Momen penyerahan syahadah bukan sekadar formalitas penyerahan rapor atau sertifikat kelulusan. Lebih dari itu, momen ini menjadi “saksi” bahwa dulu kalian pernah berjuang, pernah menahan lelah, mengalahkan rasa ingin menyerah, dan tetap istiqamah hingga mampu bertahan sampai hari ini.

Namun demikian, penyerahan syahadah bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Justru inilah awal dari amanah yang lebih besar. Pada saat itu Abah Marzuqi benar-benar mewanti-wanti dengan berpesan:

“Jangan pernah merasa sudah pintar, lalu tidak mau lagi ngaji. Tugas seorang santri, kalau tidak thalab (ngaji), ya ta’lim (mengajar). Jadi kalau bisa, mas-mas dan mbak-mbak yang sudah lulus ini diberikan kesempatan untuk mengajar diniyah, baik di jenjang SMP, SMA, maupun mahasiswa.”

Awwalu Hasbi Nasrulloh bersama Abah KH. Marzuqi Mustamar saat penyerahan penghargaan santri terbaik.

Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa seorang santri tidak pernah benar-benar selesai belajar. Selama hayat masih dikandung badan, ia tetap menjadi pencari ilmu. Dan ketika Allah telah menganugerahkan ilmu kepadanya, maka sudah menjadi tanggung jawab untuk menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain. Dengan harapan, untuk terus menghidupkan agama Allah melalui ilmu yang kita miliki.

Semoga momen ini tidak menjadi akhir dari perjalanan belajar kalian, tetapi menjadi awal untuk melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu mengajar, berdakwah, dan mengabdi kepada masyarakat. Semoga ilmu yang telah diperoleh menjadi ilmu yang barakah serta menjadi sebab hadirnya manfaat bagi masyarakat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Penulis : Fauzan Sidik