(Foto. Gasek Multimedia)
Idul adha merupakan salah satu syiar agung dalam Islam yang sarat dengan nilai spiritual, Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan qurban sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial. Namun dalam perspektif tasawuf, makna Idul Adha jauh lebih dalam daripada sekadar ritual penyembelihan.
Para ulama sufi memandang bahwa hakikat qurban bukan hanya menyembelih hewan, lebih dari itu sebenarnya yang disembelih adalah hawa nafsu, ego, serta sifat-sifat buruk yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah. Oleh karena itu, Idul Adha menjadi momentum penyucian jiwa dan latihan spiritual agar manusia mampu mencapai derajat ketakwaan yang lebih tinggi.
1. Menyembelih Hawa Nafsu
Dalam pandangan tasawuf, hakikat qurban bukan semata-mata menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat-sifat tercela yang ada dalam diri manusia, seperti kesombongan, riya, iri hati, dengki, cinta dunia yang berlebihan, serta hawa nafsu yang menjauhkan hati dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga Biar Qurban Sah, Panitia Wajib Tahu 6 Pesan Abah KH Marzuqi Mustamar Ini!
Hewan kurban hanyalah simbol lahiriah, sedangkan qurban sejati adalah ketika seseorang mampu menundukkan egonya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah.
Dalam kajian fiqih dijelaskan bahwa memang yang dipotong dalam penyembelihan adalah tiga, hulqum (حلقوم), yaitu saluran pernapasan; mari’ (مرئ), yaitu saluran makanan dan minuman; serta wadajain (ودجان), yaitu dua urat tempat mengalirnya darah. Namun para ulama tasawuf memandang bahwa secara maknawi yang sesungguhnya harus dipotong adalah sifat-sifat kebinatangan dan nafsu hewani yang tertanam dalam diri manusia.
2. Belajar Ikhlas dan Totalitas Cinta kepada Allah
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberikan teladan agung tentang keikhlasan dan kepatuhan total kepada Allah. Beliau rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah, yaitu putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan segala bentuk keterikatan duniawi. Dalam dunia tasawuf, keadaan ini disebut sebagai bentuk penghambaan yang sempurna, yakni ketika seorang hamba lebih mendahulukan ridha Allah daripada kepentingan pribadinya.
Para sufi menjelaskan bahwa seseorang belum mencapai maqam kedekatan kepada Allah selama hatinya masih terikat secara berlebihan kepada dunia. Oleh sebab itu, Idul Adha mengajarkan keikhlasan dalam beribadah, kerelaan berkorban, dan kesiapan melepaskan apa pun yang dapat menghalangi perjalanan menuju Allah.
3. Iduladha sebagai Jalan Taqarrub kepada Allah
Kata “qurban” berasal dari bahasa Arab:
قَرُبَ — يَقْرُبُ — قُرْبَانًا
yang berarti “dekat”. Dari makna tersebut, kurban dipahami sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam perspektif tasawuf, kedekatan kepada Allah tidak hanya dicapai melalui ibadah lahiriah, tetapi juga melalui penyucian hati, keikhlasan niat, dan ketundukan total kepada-Nya. Oleh karena itu, ibadah qurban bukan hanya tentang membagikan daging kepada sesama, tetapi juga tentang menghadirkan hati yang bersih dan penuh ketakwaan. Semakin seseorang mampu mengorbankan ego dan hawa nafsunya, maka semakin dekat pula dirinya kepada Allah.
4. Makna Spiritual Iduladha
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa jika tubuh menyembelih hewan, maka ruh pun harus menyembelih hawa nafsu. Banyak orang mampu berkurban secara lahiriah, tetapi belum mampu mengorbankan sifat-sifat buruk dalam dirinya.
Padahal, hakikat Idul Adha terletak pada perubahan batin dan perbaikan akhlak. Iduladha seharusnya menjadi momentum introspeksi diri: apakah kesombongan masih memenuhi hati, apakah riya masih mengotori amal, dan apakah kecintaan terhadap dunia masih mengalahkan kecintaan kepada Allah.
Karena itu, nilai spiritual Idul Adha akan terasa ketika ibadah qurban mampu melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, lebih ikhlas, lebih dermawan, dan lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Hikmah Iduladha bagi Kehidupan
Idul Adha mengandung banyak pelajaran penting bagi kehidupan seorang Muslim. Di antaranya adalah kesabaran dalam menghadapi ujian, tawakal kepada Allah, kepedulian terhadap sesama, serta penghambaan total kepada-Nya.
Ibadah qurban juga mengajarkan solidaritas sosial. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk kasih sayang dan kepedulian sosial dalam Islam. Dengan demikian, Idul Adha bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dimensi kemanusiaan.
Orang yang memahami hakikat Idul Adha tidak hanya bergembira karena datangnya daging padanya, tetapi juga berusaha memperbaiki hati dan akhlaknya. Ia menjadikan Idul Adha sebagai sarana muhasabah untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa.
Karena itu, hakikat Idul Adha sejatinya terletak pada keberhasilan seorang hamba dalam menyembelih sifat-sifat buruk dalam dirinya dan menggantinya dengan ketakwaan, keikhlasan, serta akhlak yang mulia.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Semoga Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah dan memperbaiki kualitas iman serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Cheppy Eka J

