Filosofi Jadah: Tradisi, Rasa, dan Makna

(Foto. Google Image)

Saat ngaji wetonan kitab At-Tadzhib beberapa hari yang lalu membahas tentang bab faraidh (warisan). Dalam bab tersebut terdapat sebuah kata “Jadah” (nenek) yang merupakan salah satu anggota yang berhak mendapatkan hak waris. Pembahasan ini sebenarnya cukup serius karena berkaitan dengan hukum pembagian harta, namun justru disitulah menariknya bagaimana Abah Yai Marzuqi dapat membuat suasana pengajian menjadi lebih menarik.

Beruntungnya belajar kepada seorang kiai yang memiliki wawasan dan ilmu yang luas adalah ketika terdapat sebuah kata atau kalimat dalam kitab apa pun, pasti dijelaskan dari berbagai perspektif, baik dari sejarah, bahasa, maupun hikmah didalamnya. Tidak hanya dimaknai secara tekstual, tetapi juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar lebih membumi dan dapat dijadikan pelajaran bagi para santri. Termasuk pada pengajian malam itu, saat Abah Yai Marzuqi menemukan kata “Jadah”, beliau langsung menjelaskan makna dan filosofi kudapan tradisional khas Jawa tersebut. Dari satu kata sederhana, pembahasan menjadi luas, hangat, dan penuh makna.

Jadah adalah kudapan khas Jawa yang terbuat dari bahan baku beras ketan dan parutan kelapa, memiliki citra rasa gurih dan tekstur yang kenyal. Teksturnya yang padat dan sedikit lengket membuatnya mudah dikenali. Jika di daerah Sunda, makanan ini dikenal dengan nama “Ulen”. Jadah biasanya disajikan dalam berbagai acara adat, terutama dalam prosesi lamaran atau pernikahan -sebagai seserahan-. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap hidangan, melainkan membawa pesan simbolik yang dalam.

Secara bahasa, kata “Jadah” berasal dari bahasa Arab, dari akar kata jaddun jaddatun, yang berarti “kakek-nenek”. Keterkaitan ini tidak hanya menarik secara linguistik, tetapi juga memperkuat makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Jadah menjadi simbol perjalanan panjang kehidupan, dari masa muda hingga tua bersama pasangan.

Di sela-sela pengaosan, Abah Yai Marzuqi menyampaikan:

“Jadah adalah simbol dari doa dan harapan, artinya semoga pasangan langgeng sampai kakek nenek, teksturnya yang lengket karena terbuat dari ketan memberi simbol doa agar penganten terus raket, sakinah, mawaddah dan warohmah sampai tua, kemudian diberi parutan kelapa, karena sifat kelapa yang mulai dari pohon, buah, batang, daun hingga akarnya semuanya memiliki manfaat, memberi simbol harapan semoga pasangan bisa bermanfaat dari berbagai sudut manapun. Doa sepanjang itu, cukup pakai simbol makanan yang namanya Jadah.”

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa setiap unsur dalam jadah tidak hadir secara kebetulan. Ketan yang lengket melambangkan hubungan yang erat dan tidak mudah terpisahkan. Kelapa, yang seluruh bagiannya bermanfaat, melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga membawa manfaat bagi banyak orang. Bahkan proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran juga dapat dimaknai sebagai gambaran bahwa membangun kehidupan bersama tidaklah instan.

Jadah bukan sekadar makanan, melainkan sebuah doa dan harapan. Itulah pintarnya orang-orang zaman dahulu, mengemas sesuatu yang dalam dan penuh makna ke dalam simbol yang sederhana, sehingga mudah diingat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Tanpa perlu banyak kata, sebuah hidangan mampu menyampaikan pesan kehidupan yang begitu dalam.

Dari apa yang disampaikan Abah Yai Marzuqi saat pengajian, kita para santri bisa belajar bahwa ilmu tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang rumit. Kadang, makna kehidupan justru tersimpan dalam hal-hal sederhana yang sering kita jumpai sehari-hari. Pesan yang bisa kita ambil dari sini adalah jangan meremehkan hal-hal kecil, karena bisa jadi di dalamnya tersimpan hikmah yang besar. Seperti jadah yang sederhana, namun mengandung makna serta doa begitu panjang.

Editor. Cheppy Eka