(Foto. Gasek Multimedia)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ ٱللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ ٱلَّذِي جَعَلَ لَنَا عِيدَ ٱلْأَضْحَىٰ وَزَيَّنَهُ بِشَعَائِرِ ٱلْإِسْلَامِ.
أَحْمَدُهُ حَمْدَ ٱلشَّاكِرِينَ، وَأَسْتَعِينُهُ ٱسْتِعَانَةَ ٱلْمُؤْمِنِينَ، إِنَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ ٱلْأَنْبِيَاءِ وَٱلْمُرْسَلِينَ.
ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا ٱلْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى ٱللّٰهِ.
هَذَا يَوْمُنَا هَذَا، وَهُوَ يَوْمُ ٱلْحَجِّ ٱلْأَكْبَرِ.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ ٱلْحَمْدُ.
بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ.
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ ٱللّٰهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ ٱلْحَمْدُ.
Patut kiranya pagi hari ini kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita diberi kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala; nikmat sehat jasmani, sehat rohani, umur panjang barokah manfaat, sehingga kulo kalian panjenengan sedoyo bisa berkumpul di Masjid Nur Ahmad di tempatnya yaitu Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek dalam rangka melaksanakan sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam melaksanakan Idul Adha.
Dan kita iringi dengan takbir, tahmid, tahlil. Kemudian sebelum kita melaksanakan salat Idul Adha, kemarin disunahkan sunnah puasa tarwiyah yang fadhilahnya adalah 2 tahun tinggal diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dosa kita, dosa sebelumnya dan dosa sesudahnya.
Ma’asiral muslimin rahimakumullah
Shalawat serta salam semoga sampai kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang membimbing kita dari alam kegelapan menuju alam Islamiah yang penuh dengan rida dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang membimbing kita, yang memberi tarbiyah kita, sehingga kulo kalian panjenengan sedoyo saget melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang disunahkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kita dianjurkan yaitu salat sunah Idul Adha, yaitu kulo kalian panjenengan sedoyo disunnahkan membaca takbir, tahmid, dan tahlil.
Ma’asiral muslimin rahimakumullah.
Saat ini kita berada di hari raya Idul Adha, hari raya yang sangat mulia, di bulan yang agung, bulan yang sangat agung, hari yang paling mulia, di hari yang paling agung di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu hari raya kurban. Suatu hari yang didahului oleh amalan yang sangat agung yakni ibadah haji, yang diiringi oleh hari-hari tasyrik, hari makan dan minum, hari berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ ٱلْحَمْدُ.
Para jemaah salat Idul Adha yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat hari ini hari raya kurban tiba, kita semua berdoa di hari yang memperingati dan menghidupkan sunah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang tergambar dalam sebagian amalan haji yang lebih khusus lagi yaitu penyembelihan hewan kurban. Di hari raya yang agung ini, keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam mempunyai kisah agung di dalam dunia pengorbanan, perjuangan, dan pengabdian.
Firman Allah dalam surat As-Saffat ayat 99:
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلٰى رَبِّي سَيَهْدِينِ
Artinya berkata Nabi Ibrahim Alaihissalam: “Aku akan pergi hijrah menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah akan memberikan petunjuk kepadaku.”
Jalan perjuangan dimulai dari harapan untuk mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai kepala keluarga serta penyeru kepada kebaikan, sangat wajar kita—sangat wajar jika di dalam hatinya dipenuhi harapan yang mulia dan agung untuk mendapatkan anak yang saleh yang bisa menyertai di dalam perjalanan tugas untuk mewujudkan perdamaian di muka bumi ini. Harapan ini beliau wujudkan dalam doa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Ya Allah karuniakanlah kepadaku orang-orang yang saleh.”
Hendaknya seperti itulah yang harus dilakukan oleh orang yang mengharapkan rida Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Allah mengirimkan kepada kita hamba-hamba yang tulus untuk menuju kepada rida Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa Nabi Ibrahim yang tulus dan khusyuk itu dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat As-Saffat ayat 101: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Fabasysyarnāhu bi-gulāmin ḥalīm. Artinya: Kami beri kabar gembira kepada Nabi Ibrahim dengan seorang putra yang halim, yakni penuh kesabaran dan kebijakan.
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ ٱلْحَمْدُ.
Ma’asiral muslimin rahimakumullah.
Yang harus kita yakini bahwa setiap permohonan yang tulus akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya waktunya saja yang berbeda. Ada yang dikabulkan seketika, ada yang dikabulkan dalam tempo lama. Kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak terburu-buru mengatakan bahwa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Permohonan Nabi Ibrahim Alaihissalam baru dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di saat beliau sudah usia senja. Penantian yang sangat lama untuk mendapatkan putra, dan akhirnya lahirlah putra yang diberi nama Nabi Ismail Alaihissalam. Anak yang saleh dengan segala kesempurnaannya. Ketika Nabi Ismail bisa diajak diskusi, Nabi Ibrahim menerima wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dicintai, beliau adalah Nabi Ismail Alaihissalam. Hal ini disampaikan kepada Nabi Ismail Alaihissalam:
Artinya: Wahai putraku, aku bermimpi di dalam mimpiku aku sedang menyembelihmu, apa pendapatmu wahai putraku? Nabi Ismail menjawab: قَالَ يَا أَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيٓ إِنْ شَآءَ ٱللّٰهُ مِنَ ٱلصَّابِرِينَ
Yang artinya: “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang Allah telah perintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku insyaallah sebagai anak yang tabah dan sabar.”
ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، ٱللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ ٱلْحَمْدُ.
Para jemaah salat Idul Adha yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Ibrahim berada di dalam puncak kebahagiaan dan puncak kesedihan, sekaligus puncak kepasrahan karena harus menyembelih putranya yang dicintai. Dari buah kepasrahan itulah Allah mengutus malaikat Jibril untuk menggantikan Nabi Ismail dengan domba dari surga. Nabi Ibrahim berusaha untuk menggoreskan pisaunya ke leher Nabi Ismail, namun usaha itu gagal karena Allah belum mengizinkan pisau itu untuk memotong leher Nabi Ismail Alaihissalam.
Di saat itulah malaikat Jibril datang membawa domba dari surga dan menggantikan Nabi Ismail dengan domba tersebut. Inilah sunah Nabi Ibrahim yang kita laksanakan sampai saat ini, yaitu menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Yang perlu kita ambil pelajaran dari semua kisah ini adalah meneladani tingkat keimanan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam yang sangat tinggi.
Ma’asiral muslimin rahimakumullah.
Apabila kita menghendaki putra-putri yang saleh-shalehah, hendaknya kita sebagai orang tua mendidik anak dengan bekal keimanan dan akhlakul karimah. Jika orang tua tidak mengajarkan keimanan dan akhlak kepada anaknya, maka kerugian besar bagi orang tua baik di dunia maupun di akhirat.
Ma’asiral muslimin rahimakumullah.
Mudah-mudahan khutbah Idul Adha ini ada guna dan manfaatnya. Bila ada kurang dan lebihnya mohon maaf yang sedalam-dalamnya.
Khutbah kedua

