Sowan Guru: Silaturahmi bagian Proses Ruhani

Ponpesgasek.id – Istilah sowan merupakan substansi yang tidak dapat terpisahkan dari denyut nadi kehidupan pondok pesantren. Secara hakiki, sowan dapat diartikan sebagai manifestasi adab dalam berkunjung yang membawa serta melibatkan kerendahan hati untuk merajut kembali ikatan spiritual antara murid dan guru. Sowan adalah bentuk nyata dari silaturahmi yang mengalirkan kasih sayang serta keberkahan. 

Dalam khazanah Islam, silaturahmi menempati kedudukan yang sangat agung. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga jalan spiritual yang membuka pintu keberkahan hidup. Terlebih lagi jika yang kita datangi adalah guru— sosok orang tua yang menjadi perantara datangnya ilmu kepada kita.

Pesan Guru tentang Menghormati Akar Ilmu

Saya selalu teringat pesan dari Abah KH. Marzuqi Mustamar. Beliau pernah dawuh:

“Sungguh tidak elok engkau agung-agungkan guru/kiai yang baru saja engkau kenal, sedangkan guru TPQ/kiai kampung yang mengajarimu Alif, Ba, Ta sedari kecil engkau campakkan begitu saja.”

Pesan ini sederhana, namun sangat dalam maknanya. Karena terkadang kita terjebak pada “kemilau” ilmu yang baru kita temukan. Ketika bertemu kiai besar, tokoh terkenal, atau lingkungan baru yang lebih luas, kita merasa menemukan sesuatu yang lebih “tinggi”, lalu tanpa disadari melupakan akar awal perjalanan ilmunya. Padahal, guru pertama—yang mungkin hanya mengajarkan kita Iqra’, bacaan sholat, atau dasar-dasar agama—adalah pondasi dari seluruh bangunan keilmuan kita. Tanpa mereka, kita tidak akan sampai pada tahap sekarang.

Dalam sebuah maqolah ulama disebutkan:

من لا يشكر الناس لا يشكر الله

“Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Menghormati guru pertama adalah bagian dari syukur. Dan syukur adalah kunci keberkahan ilmu. Imam Syafi’i juga memberi teladan adab luar biasa kepada gurunya, Imam Malik, hingga beliau berkata bahwa beliau membalik halaman kitab dengan sangat pelan agar tidak mengganggu gurunya ketika istirahat. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan ilmu bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena adab.

Maka pesan Abah di atas sejatinya adalah peringatan agar kita tidak menjadi orang yang “lupa asal”, karena lupa asal adalah tanda kurangnya adab, dan kurangnya adab adalah awal hilangnya keberkahan.

Pengalaman Sowan kepada Para Guru

Alhamdulillah, pesan ini selalu saya pegang. Setiap kali pulang ke kampung halaman, saya selalu menyempatkan waktu untuk sowan kepada guru-guru saya. Beberapa hari lalu, saya sowan kepada Ustadz Jajang, guru TPQ saya sejak kecil—yang mengajarkan Al-Qur’an, bacaan sholat, serta dasar-dasar fiqih dan tauhid. Kemudian saya sowan kepada Ustadzah Tati, guru TPQ sekaligus guru saya ketika TK. Lalu saya juga sowan kepada Ustadz ‘Aan, guru madrasah diniyah saya yang mengajarkan kitab-kitab fiqih menengah, ilmu tajwid, ilmu nahwu, shorof, hingga hadis.

Dalam setiap sowan itu, saya sampaikan pesan Abah Marzuqi kepada mereka: bahwa seorang santri tidak pantas hanya mengagungkan guru yang baru dikenalnya sekarang, sementara guru kampung yang mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an, serta ilmu dasar agama justru kamu lupakan begitu saja. Mendengar hal tersebut, guru saya terharu dan berkata:

“Sae nya pun guru teh, langki pisan soalna guru anu sapertos kitu teh.”
(Bagus sekali gurumu, karena jarang ada guru seperti itu.)

Dalam kalimat tersebut seolah-olah tersemat sebuah pesan : “Kamu tidak salah memilih guru.” Dan itu menjadi penguat bagi hati saya, bahwa sekarang saya sedang berada ditempat yang tepat dalam menuntut ilmu.

Tiga Niat dalam Sowan

Dalam setiap sowan, saya selalu membawa tiga niat:

  1. Silaturahmi – menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat terjeda oleh jarak dan waktu.
  2. Meminta nasihat – karena guru adalah sumber kebijaksanaan, bukan hanya ilmu.
  3. Meminta doa – karena doa guru adalah salah satu wasilah keberkahan hidup.

Saya juga selalu menyampaikan bahwa kedatangan saya bukan untuk menceritakan pencapaian. Karena memang sekarang tidak ada yang patut saya banggakan, karena saya masih dalam proses dan berjuang. Karena sejatinya, didatangi seorang murid saja seorang Guru sudah sangat senang, mereka merasa diingat dan dihargai oleh seseorang yang pernah ia didik. Namun saya juga jujur menyampaikan bahwa saya memiliki cita-cita besar. Maka saya memohon nasihat dan keikhlasan doa mereka, agar setiap langkah dan proses saya dimudahkan dan diberi kelancaran oleh Allah.

Ketenangan yang Menguatkan Proses

Alhamdulillah, respon mereka sangat luar biasa. Mereka mendoakan saya secara langsung, memberikan nasihat, dan menyampaikan motivasi yang menenangkan hati. Saat itu saya merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. Hati terasa ringan, langkah terasa mantap. Seolah ada energi baru yang mengalir dalam diri saya untuk melanjutkan perjalanan.

Disitu saya langsung berazam:

“Yaa Allah, kini doa guru-guruku ikut terlibat dalam setiap proses saya. Maka izinkan saya, jika suatu saat Engkau beri keberhasilan, saya tidak akan pernah melupakan mereka dan akan terus kembali kepada mereka.”

Makna Rezeki dalam Silaturahmi

Dari pengalaman ini, saya mulai memahami makna hadis Rasulullah SAW tentang silaturahmi. Ternyata “dilapangkan rezeki” bukan semata-mata soal materi. Bukan juga sekedar makanan yang disuguhkan atau pemberian yang diterima saat bertamu. Namun lebih dari itu, makna rezeki dalam silaturahmi adalah ikatan batin dan Ketenangan hati, kemudahan dalam urusan dan keberkahan dalam amal, karena wasilah doa-doa tulus yang terselip untuk kita.

Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)

Dan salah satu bentuk syukur adalah menjaga hubungan dengan orang-orang yang berjasa dalam hidup kita, terutama guru. Karena, seringkali doa-doa merekalah yang diam-diam menjadi jalan kita, mempermudah proses kita, dan mengangkat derajat kita—tanpa kita sadari. Itulah rezeki sejati dari silaturahmi.

Sowan kepada guru bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan ruhani. Ia menjaga hati agar tetap rendah, menjaga ilmu agar tetap berkah, dan menjaga langkah agar tetap terarah. Jangan pernah merasa “sudah jauh” lalu melupakan tempat kita bermula. Jangan pernah merasa kita sudah berpendidikan tinggi, lulusan sarjana S1, S2 atau S3, sehingga enggan atau gengsi ketika mau sowan kepada guru ngaji di TPQ. Karena sejatinya, semakin tinggi seseorang dalam ilmu, semakin ia menundukkan dirinya di hadapan guru-gurunya.

Ada suatu maqolah :

“Ilmu tanpa adab adalah kesombongan, Adab tanpa silaturahmi kekeringan.”

Jadi teruslah sowan, selagi masih ada kesempatan. Teruslah meminta doa, selagi pintu itu masih terbuka. Dan jika kelak kita sudah berhasil, pastikan kita tahu ke mana kita harus kembali.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjaga adab, merawat silaturahmi, dan mendapatkan keberkahan ilmu dari para guru kita. Aamiin.

Penulis : Fauzan Sidik