Rupo-rupo Khidmahe Santri

Ponpesgasek.id – Khidmah adalah sikap melayani dan membantu di pondok pesantren, baik kepada pengasuh secara langsung maupun untuk kepentingan pondok pesantren secara keseluruhan.

Secara umum, khidmah terbagi menjadi tiga bentuk. Pertama, khidmah fil ajsad, yaitu  mengerahkan fisik dan tenaga untuk mengabdi. Kedua, khidmah fil afkar, yaitu menggunakan pikiran, gagasan, dan kreativitas dalam berkhidmah. Ketiga, khidmah fil qolbi, yakni mengedepankan rasa, empati, dan ketulusan hati dalam pengabdian.

Setiap santri memiliki cara khidmahnya masing-masing. Berikut beberapa bentuk khidmah santri di pondok pesantren:

  1. Menjadi Pengurus
    Pesantren ibarat miniatur sebuah negara. Di dalamnya terdapat struktur organisasi yang menjadi jantung penggerak jalannya kegiatan pondok. Ada ketua pondok (sering disebut lurah), wakil ketua, sekretaris, bendahara, serta berbagai divisi seperti pendidikan, peribadatan, kebersihan, peralatan, dan lain sebagainya. Semua posisi tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas di pondok pesantren.
  2. Menjadi Abdi Dalem
    Menjadi santri yang langsung mengabdi kepada pengasuh adalah sebuah privilege yang luar biasa. Tidak semua santri bisa mendapatkan kesempatan ini. Keistimewaannya terletak pada intensitas interaksi yang lebih dekat dengan Abah Yai Marzuqi, Bu Nyai Saidah, serta keluarga ndalem, sehingga secara tidak langsung juga belajar dari teladan kehidupan mereka sehari-hari.
  3. Menjadi Tim Media Pondok
    Media pondok memiliki peran salah satunya sebagai penggerak syiar dakwah, media juga menjadi jendela bagi masyarakat luar untuk melihat kemajuan, aktivitas serta dinamika di dalam pondok pesantren. Oleh karena itu, tidak jarang jika media pondok pesantren sering dijadikan tolak ukur kemajuan sebuah pondok pesantren. Di Ponpes Gasek sendiri ada beberapa media dibelakang layar yang selalu mendukung, seperti Gasek Multimedia (Gasmul), Gasek Production (Gaspro) dan Gasek Pustaka.
  4. Menjadi Keamanan Pondok
    Hampir setiap pondok pesantren memiliki tim keamanan yang bertugas menertibkan santri. Karena perannya yang sangat krusial, tanpa adanya keamanan, kegiatan santri bisa menjadi tidak teratur. Kehadiran mereka membantu menjaga kedisiplinan dan kestabilan aktivitas, terutama bagi santri yang kurang memiliki inisiatif (rodok angel).
  5. Menjaga Koperasi Pondok
    Koperasi pondok merupakan pusat usaha yang menyediakan kebutuhan santri, mulai dari makanan hingga jajanan. Biasanya, koperasi dikelola oleh santri sendiri. Selain berkhidmah, mereka juga belajar berwirausaha. Di Ponpes Gasek ini terdapat beberapa usaha seperti warung nasi lalapan “Alhamdulillah”, toko jajanan santri, fotokopi, dan tahu krispi. Tugas menjaga koperasi dilakukan oleh santri secara bergiliran, sehingga menjadi pengalaman berharga bagi para santri dalam hal tanggung jawab dan kemandirian.
  6. Menjadi Takmir Masjid
    Masjid adalah pusat kegiatan di pondok pesantren. Hampir semua aktivitas, seperti mengaji dan agenda lainnya, dilakukan di sana. Oleh karena itu, biasanya ada santri yang bertugas mengurus dan menjaga kebersihan masjid agar tetap nyaman dan kondusif.
    Dulu, ketika mondok di Semarang, kiai saya pernah dawuh: “Barokahnya merawat masjid, pengurus takmir biasanya dapat istri cantik.” Terlepas benar atau tidaknya, semoga saja iya—biar santri tambah semangat dan Kang Samid tidak cepat boyong, hehe.
  7. Menjadi Juru Masak Pondok
    Juru masak pondok memiliki peran penting dalam menyiapkan kebutuhan konsumsi santri setiap hari. Terutama saat ada kegiatan-kegiatan di pondok. Tugas ini menuntut ketelatenan, kesabaran, dan tenaga ekstra karena harus memasak dalam jumlah besar. Selain termasuk khidmah fil ajsad (tenaga), peran ini juga mencerminkan khidmah fil qolbi (ketulusan), karena makanan yang disajikan menjadi sumber energi bagi santri dalam beribadah dan menuntut ilmu. Meskipun sering tidak terlihat, pengabdian santri juru masak sangat vital dalam menunjang kelancaran aktivitas di pondok pesantren.
  8. Menjadi Santri Taat
    Tidak menjadi pengurus, bukan abdi ndalem, bukan tim media, bukan takmir masjid, bukan pula bagian keamanan, koperasi atau juru masak— hanya menjadi santri yang taat dan patuh pada aturan juga merupakan bentuk khidmah. Fokus utamanya adalah tholabul ‘ilmi. Saat waktunya mengaji, ia ikut mengaji. Saat waktunya membayar syahriah, ia menunaikannya tepat waktu. Waktunya piket atau roan (bersih-bersih), ia ikut berpartisipasi. Tanpa disadari, hal-hal sederhana tersebut juga merupakan bentuk pengabdia
  9. Menjadi Santri Lumayan
    Ada pula santri yang tidak termasuk dalam kategori di atas—sekadar santri biasa. Kadang ikut ngaji, kadang tidak; mungkin ngajinya hanya seminggu sekali, karena waktunya terbagi dengan aktivitas di luar pondok, baik menjadi aktivis di kampus atau bekerja mencari nafkah. Namun selama tidak membuat masalah, tidak merusak nama baik pondok, dan hatinya tetap mencintai pengasuh serta pesantren, itu sudah lebih dari cukup dibandingkan tidak ikut mengaji sama sekali. Ada pepatah mengatakan:


مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ


Artinya: Jika suatu kebaikan tidak dapat dilakukan sepenuhnya, maka jangan ditinggalkan seluruhnya; lakukanlah semampunya.

Jadi, kalian termasuk  tipe santri yang mana?

Setiap santri memiliki jalan dan cara khidmahnya masing-masing. Urutan di atas bukanlah sebuah tingkatan, melainkan sekadar pengkategorian. Khidmah bukan tentang siapa yang paling bisa, tetapi tentang siapa yang paling ikhlas dalam berjasa. Mereka yang berkhidmah tidak mengharapkan bayaran dan upah, bagi santri khidmah adalah bentuk riyadhoh yang menuntut kesadaran dan keikhlasan.

Selain itu, khidmah juga menjadi jalan agar ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat, tetapi juga penuh keberkahan. Sebagaimana ucapan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki:
“Melekatnya ilmu diperoleh dengan sering mudzakarah (belajar), barokahnya diraih dengan berkhidmah (mengabdi), dan manfaatnya bergantung pada ridho syaikh (restu guru).”

Jika mengaji adalah jalan santri dalam memperoleh ilmu, maka khidmah adalah jalan untuk memperoleh keberkahannya. Melalui jalan itu, harapan terbesar seorang santri adalah mendapatkan ridho dari kiai.

Seorang santri tidak pernah tahu melalui khidmah yang mana Allah akan mengangkat derajatnya. Namun satu hal yang perlu dipegang adalah:
“Man khodama khudima” — siapa yang melayani dengan ikhlas, kelak ia akan dilayani.

Semoga kita semua menjadi santri yang mendapatkan ridho dari kiai dan kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Sebagaimana jargon Gasek Multimedia:
“Full khidmah, full barokah.”
Yang artinya kalau kita khidmah secara penuh dan totalitas, maka Insya Allah barokah yang didapatkan pun akan penuh juga.

Editor: Cheppy Eka