09/12/2022

Ponpes Sabilurrosyad Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Sowan Kiai dan Dua Nama Selembar Kertas

(Dok: zakaria)

Ponpesgasek.id—Pagi yang cerah, secerah harapan ku sematkan disetiap mentari yang memancar di ufuk timur. Kehangatannya tak mampu tergantikan.

Pagi itu tepat hari Kamis, 16 Desember 2021. Seperti masih belum tersadar bahwa malam sebelumnya mendapat tawaran seorang gadis.

Nekat. Satu kata untuk menentukan sebuah pilihan. Kuberanikan untuk sowan —meminta petunjuk kiai— supaya pilihan satu selamanya tidak terbungkus nafsu semata.

Selepas ngaji subuh, ku ambil handuk yang berjejer di samping komplek. Sengaja ku taruh paling ujung supaya tambah cepat kering dan mudah dalam pencaharian.

Selesai mandi, menggunakan baju putih —kiai suka dalam setiap kesempatan memakainya baik sholawatan, hingga khataman— parfume oles, hingga tak lupa masker. Tak langsung ke ndalem, meripit ke kelas III.

Mengais-ngais kertas yang masih tersisa, pun tak terpakai untuk menuliskan dua nama dalam satu space. Sedikit nggreweli (berdetak, gemetar, red) dalam menuliskan dua nama gadis.

Dag dig dug gerrr. . . .

Sedikit bergejolak, dingin dan gemetar seperti tumbuhan ilalang tersapu angin.

Entah terbawa suasana, atau mungkin ya inilah sebuah bentuk menuju jalan kepastian. Tidak pernah terduga sebelum-sebelumnya, seperti berjalan dengan sendirinya. Bak alur air mengalir
yang turun dari bukit sedemikian rupa.

Sowanku sedikit terlambat dari sahabat-sahabat santri yang sama sowan, karena hari Kamis esoknya Jum’at kan. Tidak sedikit yang izin pulang.

Sendiri mematung di depan ndalem Utara hanya bermodalkan bismillah. Hampir 20 menitan, pintu ndalem terbuka. Sosok kiai kharismatik dengan wajah teduhnya mempersilahkanku untuk duduk di kursi.

Posisiku seperti duduk tasyahud akhir di bawah. Selepas kiai mempersilahkan duduk di kursi plus ada tamu yang sowan duduk akhirnya ikut. Meskipun canggung.

Terlihat KH Amad Muhammad Arif Yahya mengenakan sweater berwarna. Dari khaliyah terlihat beliau akan tindakan (bepergian, red). Beliau mengarah kepadaku sebelum meminta aku duduk.

Langsung disitu ku sampaikan niat hatiku.

“Ngapunten kiai, dalem ingkang sowan beberapa Minggu yang lalu kalih ibu kulo. Nyuwun barokah doa kagem Bapak. Sakniki sampun tilar dunyo,” matur dengan lirih.

(Mohon maaf kiai, saya yang beberapa Minggu yang lalu sowan bersama ibu. Meminta berkah doa untuk kesembuhan bapak. Sekarang sudah meninggal dunia)

“Ngaturaken sedoyo kalepatan saking bapak lan keluarga. Kaping kalih nedi izin selama ngentosi 7 hari bapak dereng sempat sowan. Kaping tigo nedi istikhorohipun damel calon kulo kiai,” ungkapku sedikit gemetar bibirku sembari menyodorkan tulisan 2 nama calon zaujaty.

(Menyampaikan mohon maaf atas segala kesalahan bapak dan keluarga. Kedua meminta izin menunggu selama 7 hari setelah bapak meninggal, baru bisa sempat sowan sekarang.
Ketiga meminta istikhoroh untuk calon saya kiai).

“Langsung Bu nyai mawon nggeh,” balas Kiai Ahmad.

“Samean taruh teng ngajeng,” imbuh kiai.

Tambah Dag Dig dug derrr.

Bagaimana tidak, Bu Nyai seperti emak kedua. Ketika ada yang kurang pas, pasti ditegur. Ditegurnya sembarang kalir unen-unennya (perkataannnya) keluar semua. heheheu.

Ceplas ceplos, pokok bikin mengkirik bulu kuduk. Tapi bagiku merupakan ungkapan rasa cintanya kepada santri dianggap anak sendiri.

Pernah bagian sie korah-korah wisuda, sekitar 2019-an. Inisiatif kang santri pagi jam 08.00 selepas pembagian raport madrasah, koordinator sie menginstruksikan tandang.

Seneng ta.
Gek tandang, gek mari.

Bergegaslah di belakang ndalem. Ada tiga bak mandi besar, satu sterilisasi noda membandel. Dua mencuci piring wa akhiwatuhu, baru ember ketiga tempat percucian.

Sepuluh menit berselang. Bu Nyai said :
“Lho kok neng kene. Gak melu acara nek ngarep. Iki acara Haflah/Wisuda kok malah nang kene iki pie. Wes balik kabeh, podo nek ngarep. Iki wayae seneng-seneng,” tutur Bu Nyai.

Sontak goblok ndadak. Hanya terucap “enggeh Bu Nyai” #_@

***

Kembali ke ndalem. Di ndalem hanya duduk menunggu Bu Nyai. Karena kiai tindakan. Detik berputar rasa dag dig dug masih terasa. Memikirkan nanti bagaimana dihadapan Bu Nyai, ditanya panjang kali lebar..wkwkwk

Menit berganti menit. Sholawat dihati tidak putus untuk menenangkan hati. Sesekali mengajak bicara satu anak yang sowan, ternyata teman satu komplek yang izin boyong 2020 kemarin.

Alasan membantu orang tua, dan kuliahnya belum selesai di Malang. Oleh Bu Nyai hanya diberi izin khusus. Artinya setelah pandemi, kuliah luring harapannya balik ke pondok.

Saking ngeman-ngeman santri.

“Ada yang mengganjal di hati, tapi apa ya,” gumamku.

Wah…, kok bisa-bisanya namaku, wetonku, tanggal lahirku, anak keberapa belum saya cantumkan..heheheu.

Akhirnya kertas berukuran 15 x 10 centimeter itu saya sisipi nama beserta informasi pendukung diatas nomor 1.
Sedikit nrecel (berdempetan, red) karena posisinya sudah pas diawal nomor 1. LM nomor 2. FK.

Untung bawa bolpoin di saku. Lali sak plengan karena gupuh dan ndredeg kali ya.

Tepat satu jam berlalu menunggu, tak lama berselang KH Ahmad rawuh. “Loo dereng”
Bergegas selepas beliau duduk di kursi, ku berjalan mbrangkang melewati meja yang berbentuk persegi panjang. Supaya lebih khidmah, serta ku sodorkan buku izin pondok. Beliau menandatangani.

“Lare pundi”
“Trenggalek sedoyo kiai”
“Setunggal dusun, setunggale maleh benten dusun”
“Ow nggeh”

Setelah aku rampung, berganti satu santri yang sowan. Selesai.

Ku haturkan meminta doa restu dan keberkahan ilmu. Beliau berdoa.

Praktis aku hanya tertunduk, mengadahkan kedua tangan. Seolah-olah menerima kucuran ziyadah berkah dari bait-bait doa mustajab yang beliau panjatkan.

Mataku tertuju telapak tangan dan sesekali menatap kaki beliau. Tampak jari kaki beliau disamping ibu jari sedikit berbelok. Dzon atau penyana-ku keadaan tersebut karena beliau saking rajinnya beribadah shalat malam.

Terenyuh.
Setiap melihat kaki beliau. Dalan hati menggerutu tanpa henti.
“Ya Allah santrinha beliau kok belum bisa sedikit meniru keistiqamahan qiyamul lail. Shalat masih sering qodo’. Banyak dosa maksiat pandangan mata, kaki, tangan, maksiat ghibah”

Mataku berbinar- binar membuncah sedikit berlinang tapi tidak sampai jatuh. Tertahan dibola mata. Sejuk dan menenangkan.

Salim berjabat tangan, ku kecup asta (tangan) lembut dan lemas —seolah mengecup, menyeruput lautan ilmu— sang guru murabbi ruhina wa mujizina.

Mbrangkang mundur sembari mengucapkan salam.

Tak terasa sudah sedikit plong, rasa yang tak sama awal sowan. Ku sempatkan mampir di kelas III Ulya. Melepas penat menunggu penantian bertemu sang penyejuk kalbu.

Menyusuri lorong madrasah. Dunia terasa indah, memandang sepeda motor di parkiran seakan tersenyum melihatku pasrah. Akupun ndrenges merekah. heheheu.

#Mencintaimu Washilah Kiaiku (part II)