28/05/2022

Ponpes Sabilurrosyad Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Kiaiku Washilah Pendamping Hidupku

(Dok: mandalika.blogspot)

Ponpesgasek.id—Sehari selepas sowan dua nama itu banyak perubahan hidupku. Darinya hanya biasa-biasa, nampak berwarna. Hilal diufuk barat sudah hampir terlihat meskipun harus melalui alat teropong.

Nampak berwarna setelah si Nomor 1 lebih intens chat-chatan.. ciee

Tidak tanggung-tanggung. Betah melek melampaui menembus waktu dini hari masih betah. Mulai cerita bisnis, sampai masih Tremor. “Kok bisa namaku masuk list,” beber si Nomor 1.

Malam itu tertanggal 18 Desember 2021, tengah malam aku jujur-jujuran dengan dia.

Beneran Sempat kenek mental. Bengine wes berbunga-bunga. Ada dua pandangan tinggal menunggu istikhoroh kiai. Lha kok dikabari wes duwe pacar, gek wes kenal keluarga. Sopo sing gak kenek mental. wkwkwk.

Gak lucu kan, kiai memilih 1. tapi bertepuk sebelah tangan. Malam itu ghibah bersama teman satu kelas. Adalah Sapong, laqob —nama julukan kebanyakan isim sifat menyerupai sikap atau keunikan seseorang—
Curhatan malam itu lebih indepth, selain dia pintar fiqh, juga dari segi umur sudah poel. Mintalah pendapatnya, kalau kemarin lusa sudah menyoankan arek, begini begitu dan seterusnya.

Sapong menguatkanku, selagi janur kunir melengkung ojo pantang mundur. Okelah cakep. Misal jawabannya kiai si Nomor 1. Semisal si Nomor 2 ya kudu siap, hafidhoh bro.

Malam masih chat-chatan ngalor ngidul. awalnya kepingin tetep netral antara 1 dan 2. Tapi aku berupaya meminta nomor handphone yang nomor 2, dirinya masih mondok di Wonokromo, Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung.

Praktis lebih intens.
Si Nomor 1 nyeletuk “Awal-awal punya feeling milih aku opo mas btw?”

“Bukan felling seh. Cuma mbuh opo, koyone lebih pas golek sing cedek. Terus samean lak diajak berjuang aku yakin bisa.
Terus nriman, tahu hidup soro. Soro wes tahu, berarti gari tinggal sukses e,” balasku.

“Sukses bukan hanya materi. Tapi bisa membangun sebuah keluarga harmonis, bahagia dan pastinya tidak melupakan ibu dan adik kita,” lanjutku.

“Terus maneh, aku senang lak cedek TPQ atau Masjid. Paling endak ilmu ku sing dangkal iki manfaat. Gak ketang² marai cah cilik ngaji alif ba’ ta’, jawabku polos, heheuheu.

“Seperti pikiranku berarti kalau kayak gitu. Pokok istrine nrimo rejeki tekone soko dalan ndi ae. Mbarokahi🙏🏻,” ungkap si Nomor 1.

Segala sesuatu seperti sudah menjadi garis dan takdirnya ketika aku harus memilih nama untuk layak diperjuangkan. Start awal sowan menjadi modal kuat. Siapakah daku tanpa adanya guru. Murabbi ruhi.

Perempuan memiliki sifat alamiah dasar lembut, mudah tersentuh, terharu, hingga rapuh. Ketika aku tanya bagaimana kalau benar-benar jawaban kiai nomor 1.

“Nangis paling, Histeriiiis😩,” ujarnya.

Langsung ku keluarkan maqolah mahabbah versi KH Idris Marzuki. ” Kalau sudah cinta dan sayang langsung lamar. Tidak usah istikharah”

Wejangan kiai kharismatik pondok yang memiliki puluhan ribu santri ada benarnya. Bagaimana tidak, ketika sudah cinta dan sayang pasti ketika diistikharahnya ya yang dicinta..heheheu kan sudah setiap hari berinteraksi, meskipun hanya lewat gadget.

Kedua, menghindari kesuwen. Karena dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran. Dengan langsung melamar, si perempuan akan mendapat sebuah kepastian. Ya kan?

“Bisa saja menggunakan dalil beliau. Tapi aku wedi ae dengan nafsuku. Lak grudak gruduk,” kataku.

“Jangan. Harus d pikirne mateng-mateng. Aku yogak ser masa mudaku hancur nang pernikahan karena sifatku,” pesan perempuan yang hanya beberapa ratus meter dari rumahku.

“Pandongane ae. Lak terbaik gak bakalan adoh. Sip kan,” pertegasnya.

“Siap berfikir netral🛫. Suwun wes dielingne.👍🏾 Siap netral, siap menunggu jawaban terbaik✨,” sela chatku.

“😂Tenang-tenang aku gak akan baper hihi,” jawabnya sok kuat.

“Sans, tetep sak organisasi
Pomo.gak hadir keturon ngnoo ae etok2 e🤣,” imbuhnya.

Karena saat itu tepat pukul 00:57, aku pamitan menyudahi percakapan via whatsapp. Ingin mencari kejernihan dan ketenangan di tempat ternyaman

“Pengen golek ketenangan nek makam,” pamitku.

“Kayak besok d tari rabi ae 🙄,” ledeknya.

Sang fajar sudah menunjukkan keramahan dan kehangatan pada sekelilingnya. Membuat kakiku lebih bersemangat untuk mendapat sebuah jawaban hasil sowan.

Setelah 30 menit menunggu, datanglah menghampiri di depan ndalem. Adalah Cak Panca, abdi ndalem asal Nganjuk menanyakan keperluan soan. Tiga santri yang bersamaan membawa buku izin khusus berukuran A5 menyodorkan langsung.

“Arep muleh a Le”
“Mboten cak, istikharahnya kiai”

Lima menit berselang, ia keluar mengembalikan beberapa buku izin.

“Kiai salam dateng keluarga di rumah nggh”
“Sabar ya Jaz, istikharahnya belum”

Selanjutnya, ku berinisiatif menghubungi si Nomor 2 melalui perantara adik kelasku.

“Nembe sowan (baru sowan). Beliau mungkin sibuk, dados dereng. Iki mau cuma ditemui abdi ndalemnya dari luar,”

“Nggih mas 😌”

“Sabtu ngajeng kulo balik. Mugi² enggal enten jawaban. Kersane langsung kulo silaturrahim”

“Nggih mas, Aamiin”

Si Nomor 1 juga saya kabari soal hasil jawaban istikharah. Dia mendapat masukan dari si ibunya.

“Omah e awk e kan sak deso sak dusun, jalan kidul kambi lor kan. Iku coba ditanyakan🙏🏻”

“Enggeh.. mbenjing lak dipersilahkan masuk.Lak nek Malang gak sedetail iku seh, ya coba tak tanyakan”

“Ojo ilang, separuh rusukmu sik durung temu..eaaakk,” gojlokku.

“Duh kang santri. Skak mat trus hihi,” ia tersipu.

Hari berganti, menunjukkan tanggal 20 Desember 2021. Si Nomor 1 mulai gusar dengan hasil istikhoroh kiai. Bagaimana tidak, jawaban tersebut akan merubah 180° kehidupannya, meskipun pilihan kiai bukan dirinya.

Apalagi jawabannya Nomor 1. Pasti.

Ku coba jelaskan bahwa niat untuk sowan keesokan harinya tepat hari Selasa. Selain hari Senin adalah hari sebelumnya, hehehe yang masih terlalu cepat.

Tenggat waktu menunggu, si Nomor satu menceritakan pengalaman yang uhuy. Padahal belum tahu hasil akhirnya, pun juga ibuku. Belum pernah sekali saya kabari.

Selain masih berkabung, belum ada 40 hari bapak. Sekaligus menjadi surprice ketika duuuarrrrrr. . . . Petunjuk kiai sudah aku pegang, baru sejurus kata kusampaikan kepada emaku..heuheuheu.

“Hasile pripun mas? Arep turu awan kepikiran ae”

“Benjing kulo sowan. Nyukani waktu damel kiai. Sabar to.😁”

“Aku simpangan Mbk Bin sungkan-sungkan pie ngunu ajak e😩”

“Gak usah dipikir, di sholawati Shollallahu ‘ala Muhamammad”
” 🥲👍🏻”

“Sabtu aku pulang. Langsung tak sampekne”

“Waduww keren..Sekalian minta restu”

“Orang baik cerminane juga orang baik”

Menunggu adalah kegiatan yang membosankan, bagi orang yang tak sabaran. Bagiku merupakan sebuah penantian dengan terus berdoa yang terbaik. Terhitung dari tanggal 16 ke 21 Desember dipenghujung akhir tahun bisa dikatakan moment epic.

Banyak rasa yang terpendam membuncah. Berkah.

#Part III