Keutamaan Orang Mengaji Walau Belum Sampai Paham

Ponpesgasek.idDalam tradisi keilmuan Islam, ngaji atau menghadiri majelis ilmu bukan sekadar soal paham atau hafal. Bahkan, duduk di majelis ilmu dengan niat mencari ridha Allah sudah bernilai ibadah, meski seseorang belum mampu menangkap atau menghafal pelajaran yang disampaikan. Islam adalah agama yang sangat memuliakan proses, bukan hanya hasil.

Ilmu dalam Islam bukan sekadar pengetahuan teoritis, melainkan cahaya yang Allah letakkan di dalam hati hamba-Nya. Ilmu adalah sarana untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, dan membimbing akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Allah Ta‘ala juga berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ


“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Menariknya, kewajiban ini tidak mengharuskan seseorang langsung paham atau hafal. Yang paling utama adalah hadir, belajar, dan bersungguh-sungguh.

Imam Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin memaparkan bahwa duduk bersama orang alim tetap memberikan tujuh kemuliaan bagi seseorang, sekalipun ia belum bisa menyerap ilmu tersebut sepenuhnya:

1. Mendapatkan Keutamaan Orang yang Belajar

ﺃَﻭَّﻟُﻬَﺎ : ﻳَﻨَﺎﻝُ ﻓَﻀْﻞَ المتعلمين

Meski belum memahami materi sepenuhnya, siapa pun yang melangkahkan kaki ke majelis ilmu tetap menyandang status sebagai thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu). Dalam Islam, Allah menilai niat dan langkah awal hamba-Nya sebagai ibadah yang utuh.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dengan duduk di majelis ilmu, seseorang telah menempuh jalan tersebut, sekalipun pemahamannya belum sempurna.

2. Tercegah dari Dosa dan Kesalahan

ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲ : ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﺟَﺎﻟِﺴًﺎ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﺤْﺒُﻮﺳًﺎ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻄَﺄِ

Selama seseorang duduk bersama orang alim, waktunya terselamatkan dari perbuatan maksiat. Ia tidak sedang berada di tempat maksiat, ghibah, atau kelalaian.

Sebagian ulama berkata: “Menjaga waktu dari maksiat adalah bagian dari taubat.” Maka sekadar hadir di majelis ilmu sudah menjadi benteng dari dosa.

3. Turunnya Rahmat Saat Melangkah

ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺚُ : ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻪِ ﺗَﻨْﺰِﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔُ

Setiap langkah menuju majelis ilmu mengundang rahmat Allah. Bahkan sebelum sampai, rahmat sudah lebih dulu turun.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah suatu kaum keluar menuju rumah-rumah Allah untuk mempelajari Kitab Allah, melainkan ketenangan turun kepada mereka.” (HR. Muslim)

4. Mendapat Berkah Rahmat Majelis Ilmu

ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻊُ : ﺇِﺫَﺍ ﺟَﻠَﺲَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ، ﻓَﺘَﻨْﺰِﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔُ، ﻓَﺘُﺼِﻴﺒُﻪُ ﺑِﺒَﺮَﻛَﺘِﻬِﻢْ

Rahmat yang turun kepada majelis ilmu tidak hanya mengenai yang paham dan alim, tetapi juga mereka yang hadir dengan niat baik.

Dalam hadis disebutkan: “Mereka adalah kaum yang duduk, tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Dicatat Kebaikan Selama Mendengarkan

ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﻣِﺲُ : ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﻣُﺴْﺘَﻤِﻌًﺎ ﺗُﻜْﺘَﺐُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔُ

Mendengarkan ilmu adalah ibadah. Meskipun belum paham, telinga dan hati yang terbuka tetap dicatat sebagai amal saleh.

Allah berfirman: 

فَبَشِّرْ عِبَادِۙ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ 

“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat)u. .(QS. Az-Zumar: 17–18)

6. Dinaungi Malaikat

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱُ : ﺗَﺤُﻒُّ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺑِﺄَﺟْﻨِﺤَﺘِﻬَﺎ ﺭِﺿًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻴﻬِﻢْ.

Malaikat membentangkan sayapnya sebagai bentuk keridaan kepada para penuntut ilmu, termasuk yang belum paham.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya malaikat merendahkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.” (HR. Abu Dawud)

7. Dihapus Dosa Disetiap Langkahnya

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻊُ : ﻛُﻞُّ ﻗَﺪَﻡٍ ﻳَﺮْﻓَﻌُﻪُ

Setiap langkah menuju majelis ilmu bernilai penghapus dosa, peninggi derajat, dan penambah kebaikan bahkan sebelum ilmunya dipahami.

Baca juga: Ilmu Bertambah, Nasib Berubah

Selain tujuh keutamaan di atas, Allah masih memuliakan mereka dengan enam kemuliaan lain:

1. Dicintakan Majelis Ulama

ﺃَﻭَّﻟُﻬَﺎ : ﻳُﻜْﺮِﻣُﻪُ ﺑِﺤُﺐِّ ﺷُﻬُﻮﺩِ ﻣَﺠْﻠِﺲِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ

Hatinya dibuat rindu pada majelis ilmu, dan itu tanda kebaikan iman. Allah memuliakan orang tersebut dengan menanamkan rasa cinta di dalam hatinya untuk menghadiri dan menyaksikan majelis para ulama. Ia merasa tenang ketika duduk di majelis ilmu, rindu bila tidak hadir, dan hatinya gelisah jika lama jauh darinya. Para ulama mengatakan: “Cinta kepada majelis ilmu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba.” Karena tidak mungkin Allah menghadiahkan kecintaan kepada sesuatu, kecuali sesuatu itu mengandung kebaikan dan keberkahan.

2. Mendapat Pahala Mengikuti Ulama

ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲ : ﻛُﻞُّ ﻣَﻦْ ﻳَﻘْﺘَﺪِﻱ ﺑِﻬِﻢْ

Siapa yang mengikuti kebaikan ulama, meski hanya dengan hadir, mendapat pahala seperti mereka.  Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Meski belum paham isi pelajaran, kehadirannya adalah bentuk ittiba’ (mengikuti). Dan dalam Islam, mengikuti jalan orang saleh adalah amal besar yang bernilai tinggi di sisi Allah.

3. Berpotensi Mendapat Syafa‘at

الثالث: إذا غُفِرَ لأحدهما شَفَعَ في الآخر

Kedekatan dengan ahli ilmu bisa menjadi sebab turunnya syafa‘at di akhirat. Kedekatan dengan orang saleh dan ahli ilmu bisa menjadi sebab keselamatan di akhirat. Allah berfirman: “Para sahabat karib pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Majelis ilmu adalah tempat lahirnya persahabatan atas dasar takwa, yang kelak berbuah syafa‘at dan pertolongan. 

4. Dijauhkan dari Majelis Orang Fasik

ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻊُ : ﻳُﺒَﺮِّﺩُ ﻗَﻠْﺒَﻪُ

Allah menjadikan hati orang tersebut tidak lagi condong dan nyaman dengan majelis orang-orang fasik. Bukan karena merasa paling suci, tetapi karena hatinya telah merasakan ketenangan majelis ilmu. Ulama berkata: “Hati yang telah merasakan manisnya taat, akan pahit merasakan maksiat.”

Walau belum paham isi kitab, lingkungan yang baik sudah mulai membentuk jiwanya. Perlahan ia menjauh dari perkumpulan yang sia-sia, bukan karena dipaksa, tetapi karena hatinya sendiri menolak.

5. Masuk Jalan Orang Saleh

ﻭَﺍﻟْﺨَﺎﻣِﺲُ : ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﻓِﻲ ﻃَﺮِﻳﻖِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻌَﻠِّﻤِﻴﻦَ

Dengan menghadiri majelis ilmu, seseorang telah memasuki jalur kehidupan orang-orang saleh, meskipun langkahnya masih pelan dan tertatih. Allah berfirman: “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Kesungguhan tidak selalu berupa pemahaman cepat, tetapi istiqamah hadir dan tidak menyerah.

6. Menegakkan Perintah Allah

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺩِﺱُ : ﻳُﻘِﻴﻢُ ﺃَﻣْﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ

Menghadiri majelis ilmu adalah bagian dari menegakkan perintah Allah, karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk belajar, memahami agama, dan mendekat kepada para ulama. Allah berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Datang ke majelis ilmu, meski belum paham, berarti telah memenuhi perintah ini secara nyata.

Semua keutamaan ini saja sudah Allah berikan kepada orang yang belum paham dan belum hafal. Maka bagaimana lagi dengan orang yang benar-benar memahami dan menghafal ilmu? Tentu kemuliaannya di sisi Allah jauh lebih besar dan berlipat ganda.

Sering kali yang membuat seseorang berhenti mengaji bukan karena malas, tetapi karena merasa kecil hati. Sudah lama duduk di majelis ilmu, kitab berganti, ustaz berganti, namun pemahaman terasa jalan di tempat. Lalu muncul bisikan dalam hati: “Ngapain terus ngaji kalau nggak paham-paham? Padahal, bisikan itu bukan suara kebenaran, melainkan jebakan agar kita menjauh dari majelis ilmu.

Baca juga: Keutamaan Menuntut Ilmu Dalam Islam

Perlu kita sadari, Allah tidak menilai kita dari cepat atau lambatnya paham, tetapi dari kejujuran niat dan keistiqomahan langkah. Banyak ulama besar justru memulai dari ketidaktahuan yang panjang, duduk bertahun-tahun di majelis ilmu sebelum akhirnya Allah bukakan pemahaman. Imam Imam Malik pernah berkata:

“Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”

Cahaya itu tidak selalu turun seketika, tetapi sering kali datang setelah lama sabar dan istiqomah. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang yang cinta dan senantiasa hadir dalam majlis ilmu. Aamiin…

Wallahu a’lam bish-shawab….

Penulis : Fauzan Sidik 

Sumber referensi : Postingan Tiktok @sangpecinta91 (7 Keutamaan ngaji meski belum paham)