28/05/2022

Ponpes Sabilurrosyad Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Cara Mengungkapkan iya atau tidak

(Dok: idntimes.com)

Pulang dari perantauan adalah momen paling hangat. Melepas penat hingar bingar perkotaan, kembali ke peraduan pedesaan.

Ada energi positif bakal tersimpan.

Niat baik, berbekal hasil istikhoroh adalah modal fifty-fifty. Betapa tidak?
Orang yang sudah masuk di list istikharah ternyata sudah ada hubungan putus nyambung dengan orang lain. Diluar sepengetahuan sebelum sowan.

Bagaimana jika ditolak? Bagaimana jika diterima?

Begitulah kiranya disepanjang perjalanan arah pulang. Saat itu, Bus ‘Harapan Baru’ —cocok menggambarkan relung hati sing speechles— jurusan PP Banyuwangi-Trenggalek yang masih tersisa. Kupilih malam hari menjelang dini hari 23.45, biar tetep bisa ikut kelas malam alias madrasah diniyah.

Selain perjalanan malam terasa singkat, juga waktu begitu cepat. Sebab banyak tidurnya. hehehe

Sampai di Baruharjo, tetangga desa kampung halamanku telah dijemput sosok wanita tangguh, dan ampuh. Emak Binti Marwiyah. Kini menjadi satu-satunya orang penyemangat setelah adikku, Muhammad Kevin Naufal. Pertama langsung ku salim, mengecup tangan kasar emak, dan mencium kening si bungsu.

Setelah kemangkatan bapak, dunia telah menunjukkan kehidupan yang serba cepat. Tanpa sandaranNya, kita hanyalah bak perahu getek yang terombang-ambing di samudera lepas laut selatan.

Agak berat hati sebenarnya, harus mengabari untuk dijemput. Ngelingi (mengingat) dulu sewaktu mahasiswa baru hingga semester akhir agak nyleneh.

Pulang kampung pasti sungkan untuk memberi kabar. Tiba-tiba tok tok tok. . . Sudah didepan rumah. Tak jarang ketika sampai rumah, posisi keadaan kosong. Ya karena tidak tahu kalau aku pulang, akhirnya Bapak, Emak dan Kevin ke rumah Mbah Notorejo.

Pernah juga, mbambung ketika turun dari Bus. Dari Baruharjo ke rumah Dempok Etan tidak jauh sih, tapi ketika ditempuh dengan berjalan lumayan..hehehe.
Tapi saat itu happy, happy saja ini.

Menelusuri pematang sawah yang membentang menjadi obat kegusaran selama diperantauan. Dilihat agak aneh, style sepatuan, kemeja, kadang kaos, pakai topi ala anak indie .hehehe mlaku trutusan sawah..hehehe

Sampai rumah saat itu, Sabtu 25 Desember 2021 tepat pukul 04.45 langsung sholat, kepinginnya lantas tidur.

Si Emak sudah menjadi rutinitas pagi sekali masak untuk keluarga. Ku coba mencari timming yang tepat untuk mengutarakan telah sowan untuk pendamping hidup selamanya.

“Duuuh… Kok semakin kikuk ya. Tapi pie maneh. Kudu tak sampaikan,” gumamku dalam hati.

Posisi Emak sedang duduk mempersiapkan memasak sayuran. Ku coba mendekat dan matur.

Mak, ngapunten! Kolo wingi kulo sowan dateng kiai nedi istikhoroh. Enten 2 nama, setunggal ditawani adik kelas niku keponakane, kaping kalih tonggo. Jawabane niku nomor setunggal, LM.

(Bu mohon maaf! Kemarin saya sowan ke Kiai meminta istikhoroh. Ada 2 nama yang saya setorkan. Pertama adik kelas yang punya keponakan, yang nomor 2 itu tetangga. Jawabannya Nomor setunggal. LM)

Sopo kui?.” (siapa itu?)

Yugane Lek Kom,” (anaknya Bu Kom)

Tenan pie. Levele kono wong duwur-duwur. Lha bocahe gelem opo ora?” (Beneran. Level nya keluarganya orang kelas atas)

Nggeh, mangke dalu kulo mriko badhe nembung.” (Iya. Nanti malam saya kesana untuk menyampaikan itikad)

“@_#”

Nyuwun restunipun Mak.” (Minta doa restunya Mak)

Percakapan hening. Selain aku tidak bisa berkata-kata lagi. Emak paling juga kaget dengan putra mbarep yang digadang-gadang mampu mengangkat harkat martabat keluarga sepeninggal bapak.

Huuuuuuuuf. . . .ku coba ambil nafas dalam-dalam.

Jadwal padat hari itu. Quality time bersama Kevin, aku ajak bermain bola di depan rumah. Lumayan dengan latar cukup memanjang, cocok buat beginjalan. wkwkwkw

Dulu sewaktu masih Sekolah Dasar (SD), teman sebaya dan diatas usiaku memanfaatkan untuk bermain. Mulai dari bermain bola, nekeran, boi-boinan, delikan, ke ke an (gasing dari kayu), dan masih banyak lagi permainan zaman 2000an.

Setelah cukup menjelang siang, aku rebahan. Tidak tahunya tertidur sudah menunjukkan pukul 13.45. Jam segitu sudah ada janji pukul 13.00 untuk mengisi materi. Eh bukan ding, mengisi curhat pengalaman sebenarnya.

Lhawung masih ecek-ecek jika harus memberikan materi berbobot soal jurnalistik. Secara masih menginjak satu tahun lebih di media mainstream.

Bertepatan lokasi di SMP Islam Gandusari, jarak kurang lebih 13 KM dari rumah. Memang tidak semacet Malang, namun terpaan gerimis menjadi penghambat langkah motor yang ku naiki.

Disana bertemu sosok inspiratif aktivis literasi dari Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama asal Pule. Cukup berbobot.hehehe.
Pemikirannya booos. . . .

Beberapa jam berlalu. Asyik bertemu dengan calon generasi emasnya di bidang literasi khusus jurnalistik. Terakhir menyapa Kang Dag. Sosok inspiratif saya, nyleneh, tampil beda, progresif juga sat set wat wet.

Kulihat pukul 16.15, sholat disitu kayaknya lebih dangang —semacam lebih nyaman dan tenang— perasaan ketika sudah selesai menghadapNya.

Berat hati sebenarnya beranjak di tempat banyak generasi emas. Terlebih acara tahunan yang memakan waktu, tenaga, fikiran dan kenangan..eeeaaak.

Do Lanan namanya. Ada kelas pelatihan jurnalistik, desain, videogram. Sekarang ketambahan fotografi dan tilawah. Mbois kan!

Pamitan pulang, hawa sudah terasa gak enak. Terlebih perjalanan pulang naik motor, gerimis rintik-rintik ku terjang. Mampir ke rumah tetangga jauh untuk mengambil pesanan dua buah bunga.

Bunga inilah yang menjadi Washilah —perantara menjawab apakah aku diterima atau belum rezekinya.hehehe.

Ada dua bunga, satu merah dan satu bunga berwarna hitam. Kayak lagunya Tipe-X lah, 11 12. Mawar hitam.

Ya aku mengikuti kaidah Assukutu ‘ala na’am —perempuan yang masih ting ting ketika dimintai jawaban pasti diam. Ketika diam itulah menunjukkan ke-iya-nan. Kaidah ini dikhususkan untuk seorang Bikrun Syarifah. Cari sendiri ya artinya.

Maghrib di rumah langsung makan, mandi dan shalat berjamaah. Berr. . . . . Setelah mandi kok greweli, entah kademen atau awak gregesen.

Momen berjamaah adalah momen syahdu. Dimana Emak, ikut makmum, termasuk Mas Kevin. Terlebih pasca wiridan, ku minta emak yang memimpin berdoa. Tahu sendirilah, keramat yang ampuh di dunia itulah doa dari seorang ibu.

Tak kuat hati, sampai mata sedikit berbinar-binar terkena basahan air mata. Meski tak sampai jatuh.

Kevin yang masih berusia 8 tahunan, ku ajari mengaji. Karena wetonnya tinggi, seringkali malah tidak mau disalahkan ketika ngajinya belum benar..hehehe malah marahi.

Menjelang isya’, hawanya semakin tak karuan. Buat ambekan —ambil nafas mulai menarik nafas dan mengeluarkan — tidak merasa nyaman.

Cara untuk mengungkapkan pasti melalui perkataan langsung. Tapi apa iya si LM mengatakan “Iya mas, tak terima” hehehe

Kayal bukan.

Berbekal ide rodok romantis. Ya romantis lah..hehehe
Ku buat sepucuk surat menegaskan itikad baik untuk melamar serta meminta jawaban. Ditambah dua bunga mawar. Warna merah maron dan warna hitam.

Sengaja bunga buatan, agar tetap bisa tersimpan dan tak layu. Seperti perasaan yang terus ingin merindu..eeeak. gombal mukio.

Butuh 20 menitan membuat surat tersebut. Praktis yang ku bawa, kue khas Malang satu bungkus. Diatasnya ada dua buah bunga dan sepucuk surat.

Ada lima paragraf, seputar itikad maksud tujuan ku. Disusul lembar balikkan berupa “Jawaban Iya : Menerima atau Tidak : Belum rezekinya —aku kasih emoticon :v

Mungkin bisa ditiru! Baper jangan, optimis harus..wkwkwk

#Part V