Ponpesgasek.id – Mahasiswa kalau seharian sibuk di kampus, pulangnya ke mana dan ngapain?, Mahasantri setelah seharian sibuk di kampus, pulang langsung lanjut ngaji apa tidak capek?
Dua pertanyaan sederhana tersebut menjadi uraian pembuka yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tulisan ini bukan untuk membandingkan siapa yang lebih baik antara mahasiswa dan mahasantri, apalagi menganggap bahwa salah satu pilihan lebih unggul daripada yang lainnya. Penulis hanya mencoba menguraikan beberapa nilai plus dan minus dari setiap keputusan yang diambil seseorang, khususnya ketika harus menentukan pilihan antara menjadi mahasiswa saja atau menjadi mahasiswa sekaligus santri (mahasantri).
Setiap orang tentu memiliki pilihan dan jalan hidup masing-masing. Pada umumnya, ketika seseorang mulai menginjak bangku perkuliahan, orang tua tidak lagi terlalu banyak menentukan bagaimana seorang anak harus mengatur kehidupannya, termasuk dalam hal memilih tempat tinggal. Mau tinggal di kos, mengontrak, tinggal bersama keluarga, atau melanjutkan mondok, biasanya keputusan tersebut mulai diserahkan kepada anak karena mereka dianggap sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Terlebih lagi, apabila seorang anak sejak SMP hingga SMA sudah pernah merasakan kehidupan di pondok pesantren, orang tua biasanya memberikan kebebasan kepadanya untuk menentukan apakah ingin kembali mondok atau memilih tinggal di kos di luar lingkungan pesantren. Pada akhirnya, pilihan tersebut kembali kepada pribadi masing-masing, dengan segala pertimbangan, dan konsekuensinya.

Kita semua sadar bahwa setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensi tersendiri. Ketika seseorang memilih untuk fokus menjadi mahasiswa saja, misalnya, biasanya ia memiliki ruang dan waktu yang lebih luas untuk melakukan berbagai aktivitas di luar perkuliahan. Ia dapat mengikuti berbagai organisasi, baik organisasi intra maupun ekstra kampus. Dengan waktu yang lebih fleksibel, seseorang juga memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun non-akademiknya.
Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian meraih prestasi karena memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti berbagai perlombaan, pelatihan, seminar, penelitian, maupun kegiatan pengembangan diri lainnya. Mereka juga berpotensi memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas karena aktif dalam organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Dengan demikian, menjadi mahasiswa saja juga memiliki banyak sisi positif yang tidak dapat dinafikan.
Lalu, apa yang dilakukan “mahasiswa saja” setelah seharian belajar di kampus?
Tentu setiap orang memiliki kebiasaan yang berbeda-beda. Jika mahasiswa tersebut cenderung nolep atau lebih suka menghabiskan waktu sendiri, biasanya setelah selesai kuliah ia langsung kembali ke kos. Sesampainya di kos, mungkin ada yang langsung beristirahat, mengerjakan tugas, bermain game, menonton film, atau sekadar scroll-scroll media sosial hingga larut malam.
Namun, jika mahasiswa tersebut merupakan seorang aktivis kampus, aktivitasnya tentu bisa berbeda. Setelah perkuliahan selesai, agenda mereka mungkin masih berlanjut dengan rapat organisasi, diskusi, mengerjakan program kerja, bertemu relasi, atau sekadar ngopi sambil berdiskusi mengenai isu politik atau berbagai persoalan kampus.
Kemudian, apa yang dilakukan oleh mahasiswa sekaligus santri atau mahasantri selepas pulang dari kampus?
Sama halnya seperti mahasiswa pada umumnya, tentu setiap mahasantri juga memiliki kebiasaan dan aktivitas yang berbeda-beda. Namun, secara umum dan idealnya, setelah belajar seharian di kampus, seorang mahasantri masih akan dihadapkan dengan kegiatan utama di pondok pesantren, yaitu mengaji.
Selepas Magrib hingga Isya, mereka mengikuti pengajian. Setelah Isya pun kegiatan mengaji masih dapat berlanjut hingga selesai. Rutinitas tersebut dilakukan secara terus-menerus dan hampir setiap hari. Maka muncul pertanyaan: apakah mereka tidak capek dan lelah dengan rutinitas yang begitu padat?
Pagi hingga sore kuliah, kemudian sore hingga malam mengaji. Belum lagi tugas-tugas perkuliahan, kegiatan pondok, menjadi pengurus, panitia acara, dan berbagai tanggung jawab lainnya.
Jawabannya tentu: pasti capek. Sebagai manusia, tentu seorang mahasantri juga akan merasakan lelah ketika menjalani rutinitas yang begitu padat. Waktu mereka banyak dihabiskan untuk belajar dan khidmah, bahkan terkadang sedikit sekali waktu yang tersisa untuk beristirahat, bersantai, atau sekadar mencari hiburan. Namun, justru di sinilah salah satu sisi positif menjadi mahasantri.
Kalau boleh mengutip dawuh Abah Dr. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag., “Kuliah sambil mondok itu adalah formula paling pas, pelajaran umum kamu dapat, pelajaran agama tetap jalan.”
Dawuh tersebut menggambarkan sebuah keseimbangan itu sangat penting. Di satu sisi, seorang mahasiswa membutuhkan ilmu umum dan keahlian akademik untuk menghadapi kehidupan profesional dan masyarakat. Di sisi lain, ia juga membutuhkan ilmu agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Terlebih di zaman yang penuh dengan fitnah ini, berbagai macam godaan mudah sekali ditemui. Pergaulan bebas, kemudahan mengakses berbagai macam konten melalui media sosial, serta lingkungan yang tidak selalu mendukung seseorang untuk menjaga dirinya, membuat seseorang tidak cukup hanya dengan memiliki pengetahuan umum.
Jadi belajar ilmu umum saja tidak cukup. Seseorang juga membutuhkan ilmu agama sebagai benteng dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan, terkadang memiliki bekal ilmu agama saja belum cukup. Kita juga membutuhkan lingkungan yang dapat membantu menjaga keimanan, dan salah satu lingkungan tersebut tidak lain adalah lingkungan pondok pesantren.
Baca juga: Kisah Fatkur Rozi: Aktif Berorganisasi Sejak Sekolah Kini Nahkodai IPNU UB
Penulis jadi teringat pada salah satu pernyataan:
“Di zaman sekarang, bukan hanya tentang siapa yang paling tahu apa hukumnya, tetapi tentang siapa yang mampu menahan hawa nafsunya.”
Pernyataan tersebut menjadi sebuah refleksi bahwa kita sedang berada di zaman yang tidak ringan. Pengetahuan tentang halal dan haram memang penting, tetapi mengetahui hukum saja belum tentu membuat seseorang mampu meninggalkan sesuatu yang dilarang. Seseorang bisa saja mengetahui bahwa sesuatu itu haram, tetapi pada saat yang sama masih memiliki keinginan untuk melakukannya. Bahkan, orang yang alim atau memiliki pengetahuan agama yang luas pun tetap merupakan manusia yang memiliki hawa nafsu. Jika seseorang yang berilmu saja masih berpotensi tergoda, lalu bagaimana nasib orang yang masih awam dan minim pengetahuan agama?
Penulis pernah mendengar secara langsung pengalaman dari beberapa santri yang pernah penulis kenal. Di antara mereka ada yang mengatakan:
“Untung saya mondok, kalau tidak, hidup saya bisa jadi lebih parah.”
Ada pula yang mengatakan:
“Kalau tidak mondok, kayaknya aku tidak akan berhenti minum (mabuk).”
Dan ada juga yang mengatakan:
“Beruntungnya aku di pondok. Kalau tidak, kayaknya aku sudah tidak perjaka lagi (berpotensi zina).”
Kita bisa melihat dari pengalaman tersebut kita dapat melihat satu hal penting: begitu besarnya pengaruh lingkungan terhadap kehidupan seseorang.
Lingkungan tidak selalu menjadikan seseorang secara otomatis menjadi baik. Namun, lingkungan yang baik dapat memberikan pengaruh, batasan, pengingat, sekaligus ruang untuk seseorang memperbaiki dirinya.
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pondok pesantren dapat menjadi salah satu benteng dalam kehidupan. Ia ibarat sebuah tameng yang menangkis ribuan pedang yang datang dari berbagai arah. Bukan berarti santri pasti kuat terhadap godaan, bukan pula berarti mereka terbebas dari kesalahan dan kemaksiatan. Akan tetapi, keberadaan lingkungan pesantren dapat membantu mereka menahan, menghindari, dan mengingat kembali nilai-nilai yang telah mereka pelajari ketika godaan datang.
Baca juga: SANTRI: NGAJI, NGABDI, RABI
Ada sebuah pepatah yang mengatakan:
“Pondok pesantren memang tidak menjamin dirimu menjadi lebih baik, namun keberadaanmu di pondok pesantren akan membuatmu malu melakukan keburukan.”
Pesantren bukanlah tempat yang secara otomatis menjadikan semua santrinya sempurna. Santri tetap manusia biasa yang bisa salah, lupa, bahkan tergelincir. Akan tetapi, pendidikan dan lingkungan pesantren dapat menanamkan nilai-nilai yang suatu saat akan menjadi pengingat ketika seseorang berada di luar lingkungan pesantren.
Salah satu faktor mengapa pesantren dapat menjadi tameng bagi keimanan seseorang adalah karena ketika di pesantren, seorang kiai, ustaz, dan para pendidik senantiasa memberikan pendidikan, nasihat, arahan, serta keteladanan kepada para santri. Nasihat yang yang disampaikan secara konsisten dan terus-menerus, lama-kelamaan dapat terpatri dalam sanubari seorang santri. Bahkan ketika ia sudah berada jauh dari pondok, suara nasihat tersebut terkadang masih terngiang dalam pikirannya.
Di situlah salah satu kekuatan pendidikan pesantren. Bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran, dan rasa malu ketika hendak melakukan keburukan.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa atau mahasantri bukan semata-mata tentang siapa yang lebih baik. Keduanya adalah pilihan hidup yang memiliki kelebihan, kekurangan, peluang, dan konsekuensi masing-masing.
Akan tetapi, bagi seseorang yang memilih menjadi mahasiswa sekaligus santri, rasa lelah yang muncul dari padatnya aktivitas bukanlah sesuatu yang sia-sia. Sebab, ia sedang berusaha mendapatkan dua bekal sekaligus: ilmu untuk menjalani kehidupan dan agama untuk mengarahkan kehidupan.
Mungkin hari ini ia merasa lelah karena harus kuliah dan mengaji. Namun, bisa jadi suatu hari nanti ia akan bersyukur karena pernah merasakan lelah tersebut.
Sebab, ada lelah yang hanya menghabiskan tenaga, tetapi ada pula lelah yang sedang membangun masa depan, menjaga diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Penulis : Fauzan Sidik


baca juga
4 Cara Menjemput Barokah: Tentang Kecukupan, Kebaikan, dan Masa Depan Anak Cucu
Hakikat Mondok
Lapo Ra Gelem Ngaji?