Ponpesgasek.id – Dalam tatanan kehidupan, barokah sering kali disalahartikan sebatas melimpahnya harta materi. Padahal, barokah itu artinya “ziyadatul khair wa as-sa’adah”, yaitu bertambahnya kebaikan dan kebahagiaan. Kaya atau miskin, pejabat maupun rakyat biasa, semuanya membutuhkan barokah, rahmat, serta pertolongan Allah SWT.
Kedudukan maupun reputasi setinggi apa pun (manusia top) itu tidak menjadi jaminan masa depannya akan baik jika hidupnya jauh dari yang namanya barokah. Barokah adalah benteng penentu akhir hayat seseorang, sebab orang yang terbiasa menanam kebaikan dan memburu barokah berpeluang besar mengakhiri hidupnya dengan khusnul khotimah, begitu pula sebaliknya.

Dalam setiap pengajiannya, Abah Dr. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag selalu berhasil mengurai persoalan hukum dan keagamaan yang rumit menjadi pesan-pesan yang membumi, hangat, serta mudah dicerna oleh para santri dan juga jamaahnya. Pada pengajian tadi malam yang rutin selalu diadakan di PT. Surya Jaya Perkasa Kota Surabaya, beliau menyampaikan pentingnya barokah dalam kehidupan dan beliau juga menjelaskan secara rinci 4 cara untuk mendapatkan barokah tersebut, berikut di antaranya:
1. Dengan Menjaga Sholat Lima Waktu
Pilar pertama dan paling utama dalam memburu barokah adalah menjaga sholat lima waktu secara sungguh-sungguh. Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa saja yang benar-benar menjaga sholat alat lima waktunya akan dianugerahi lima kemuliaan oleh Allah, salah satunya adalah ditiadakannya kesulitan ekonomi (kesempitan hidup).
Secara logika rasional, orang yang menghentikan aktivitasnya untuk sholat seolah-olah “mengorbankan” atau memotong waktu kerjanya. Namun, hukum keimanan bekerja secara ajaib melebihi kalkulasi matematis: Orang yang bekerja nonstop 24 jam tanpa meluangkan waktu untuk sholat tidak ada jaminan akan menjadi kaya. Sebaliknya, orang yang memotong waktu kerjanya demi melangkahkan kaki menunaikan sholatt tidak akan dijamin jatuh miskin.
Indikator kekayaan yang sejati dalam Islam adalah rasa cukup dan tenteram. Kita sering menyaksikan fenomena nyata di masyarakat: banyak guru berpenghasilan biasa yang mampu menguliahkan anak-anaknya hingga sarjana, atau orang-orang yang secara kasat mata ekonominya pas-pasan tetapi diberi kemudahan melangkahkan kaki berangkat umrah ke Baitullah. Itulah yang namanya barokah.
Jika ada dua orang yang ekoniminya sama-sama berada dibawah, namun nasib dan ketenangan jiwanya akan jauh berbeda antara orang yang menjaga sholat dan orang yang tidak menjaga sholatnya.
2. Menjauhi Makanan dan Minuman Haram
Langkah kedua untuk maeraih barokah adalah ketat menjaga diri dari barang haram, baik haram secara zatnya (dzatihi) maupun cara mendapatkannya (sababihi). Haram Zatnya: Seperti khamr (minuman keras) dan bangkai. Haram Cara Mendapatkannya: Seperti hasil korupsi, suap (sogokan), penipuan, maupun komisi yang tidak jujur.
Hal ini menjadi catatan penting, terlebih bagi para orang tua yang sedang membiayai anak-anaknya menuntut ilmu atau menimba ilmu di pondok pesantren. Makanan haram yang masuk ke dalam tubuh anak akan menjadi darah daging yang mengeras, menghalangi masuknya ilmu, serta mengikis barokah keluarga. Menjaga kehalalan rezeki adalah investasi spiritual terbaik bagi masa depan generasi penerus.
3. Jangan Pernah Melupakan Orang Tua
Kemudian cara untuk mendapatkan barokah selanjutnya adalah dengan selalu ingat dan mendo’akan orang tua, karena orang tua adalah sumber barokah terbesar yang berwujud nyata di dunia. Bakti kepada orang tua tidak terputus meski mereka telah berpulang ke rahmatullah.
Abah Yai mengingatkan sebuah tamsil yang sangat menyentuh: “Orang yang sudah meninggal dunia di alam kubur itu diibaratkan seperti orang yang tenggelam di tengah lautan luas, berteriak-teriak meminta pertolongan, dan sangat menantikan kiriman doa dari anak keturunannya.”
Ketika doa itu sampai, kebahagiaan ahli kubur sangatlah luar biasa—bahkan melebihi segala kebahagiaan yang pernah ada di dunia. Anak yang rajin mendoakan orang tuanya yang telah wafat akan dibukakan pintu-pintu keberkahan dan kelapangan hidup oleh Allah SWT.
4. Memelihara Guyub Rukun dalam Keluarga
Pilar terakhir yang tak kalah penting untuk meraih barokah adalah memelihara keharmonisan (guyub rukun) dalam keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi perselisihan, pertengkaran, serta saling sikut antar anggota keluarga akan menjauhkan rahmat Allah dan mengikis keberkahan rezeki.
Kerukunan antar-pasangan, orang tua dan anak, hingga hubungan kekerabatan (silaturahim) adalah wadah tempat tertampungnya barokah. Ketika sebuah keluarga mampu menjaga keharmonisan, pertolongan dan ketenangan dari Allah akan terus mengalir ke dalam rumah tersebut.
Dari pesan diatas, kita belajar bahwa barokah itu bukan tentang mengejar nominal atau pencapaian fisik semata, melainkan mengejar rahmat dan ridha Allah SWT. Melalui konsisten menjaga sholat, membersihkan rezeki dari barang haram, berbakti dan mendoakan orang tua, serta memelihara kerukunan keluarga, maka insyaAllah keberkahan tidak hanya kita rasakan hari ini, tetapi juga menjadi warisan terbaik yang terus mengalir bagi anak cucu kita kelak.
Penulis : Roudlotul Mu’awwanah
Editor : Fauzan Sidik


baca juga
KH Marzuqi Mustamar: Pendidikan Santri Harus Berorientasi Masa Depan dan Berbasis Teknologi
Tradisi Menyambut Ramadhan, Ponpes Sabilurrosyad Gasek Gelar “Nyekar dan Ziaroh Wali 2026”
Tafsir sebagai Medan Perdebatan: Fakhr al-Dīn al-Rāzī dan Kritik atas Tafsir Instan