Tutup Pengajian Posonan, Santri Berpamitan Mudik Lebaran

hakikat jodoh - 1

Ponpesgasek.id Di manapun berada, dalam momen apa pun, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, ruh seorang santri adalah ngaji. Tak sekedar aktivitas, mengaji bagi santri merupakan napas kehidupan yang terus menghidupkan akal dan hati. Serta, tombak perjuangannya adalah ngabdi—mengabdikan diri kepada guru, pesantren, dan ilmu yang dipelajari. Dari situlah santri belajar tentang keikhlasan, ketawadhuan, dan kesungguhan dalam menapaki jalan ilmu. Sebab para santri meyakini, hanya dengan kesungguhan mengaji dan ketulusan mengabdi, keberkahan dari para kiai akan mengalir dalam hidup mereka. 

Tak terasa, Ramadan kini telah memasuki hari ke-22. Waktu terasa berjalan begitu cepat, seakan baru kemarin para santri memulai rangkaian pengajian posonan, kini tanda-tanda penutupannya sudah di depan mata. Bulan yang penuh berkah ini sebentar lagi akan sampai pada penghujungnya, menandakan bahwa Hari Raya Idulfitri pun semakin dekat. Bagi para santri, momen ini bukan hanya penutup dari rangkaian pengajian Ramadan, tetapi juga saat untuk kembali ke kampung halaman, bersilaturahmi dengan keluarga, serta membawa pulang keberkahan ilmu yang telah didapatkan.

Pengajian posonan ba’da Subuh pada hari ini menjadi pengajian penutup sekaligus khataman kitab Al-Muqtathofat li Ahlil Bidayat, serta momen pamitan para santri yang akan pulang ke kampung halaman masing-masing. Suasana pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Ada rasa syukur karena telah menyelesaikan rangkaian pengajian Ramadan, namun juga terselip rasa haru karena harus sejenak berpisah dari pesantren, tempat para santri menimba ilmu dan membangun kedekatan dengan para guru.

Baca juga: Maksimalkan Ramadhan dengan Program Ngaji Kilatan ala Ponpes Gasek

Ramadan tahun ini terasa begitu istimewa. Salah satu nikmat yang sangat dirasakan oleh para santri adalah kesempatan mendapatkan pengajian full langsung bersama pengasuh Abah KH. Marzuqi Mustamar yang hampir setiap hari mengisi pengajian posonan. Di tengah padatnya jadwal dakwah beliau di berbagai tempat, Abah tetap menyempatkan diri hadir di pesantren untuk mengajar para santri. Hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para santri, karena dapat mendengar penjelasan ilmu secara langsung dari beliau, merasakan kedekatan dengan guru, sekaligus menyerap nasihat-nasihat penuh hikmah yang selalu disampaikan di sela-sela pengajian.

Pada penutupan pengajian posonan tersebut, Abah memberikan pesan hangat kepada para santri. Dengan penuh kasih sayang beliau menyampaikan,
“Santri-santri, baik yang mukim maupun yang kilatan, silakan boleh mudik. Hati-hati di jalan, sampaikan salam kepada orang tua dan para kiai di kampung halaman. Sebelum Lebaran nanti, jangan lupa untuk ziarah kubur.”

Pesan sederhana itu sarat makna. Selain menjadi izin bagi para santri untuk pulang, juga mengingatkan mereka tentang pentingnya menjaga silaturahmi dengan orang tua dan para guru, serta tidak melupakan tradisi ziarah kubur sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para pendahulu.

Kegiatan penutupan pengajian posonan ini kemudian diakhiri dengan musafahah antara Abah beserta Umi dengan seluruh santri. Satu per satu para santri maju untuk bersalaman, memohon doa dan restu sebelum pulang ke kampung halaman. Suasana penuh haru terasa saat para santri menyalami guru mereka—sebuah momen yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi pesantren.

Setelah itu, seluruh santri putra dan putri, baik yang mukim maupun yang mengikuti pengajian kilatan, berkumpul untuk foto bersama. Tawa, kebahagiaan, dan rasa syukur menyatu dalam kebersamaan tersebut, menjadi kenangan indah yang akan selalu diingat sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing.

Baca juga: 5 Pesan Abah Saat Sowan Akbar Perpulangan Ramadhan

Meski pengajian posonan telah usai dan para santri akan pulang ke kampung halaman, semangat mengaji tidak boleh ikut berhenti. Seorang santri sejati akan tetap menjaga ruh keilmuannya di mana pun ia berada. Libur dari pesantren bukan berarti libur dari belajar, karena perjalanan menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup.

Semoga ilmu yang didapat selama Ramadan ini membawa keberkahan, menambah semangat untuk terus mengaji, serta menguatkan tekad untuk terus berkhidmah kepada agama, guru, dan masyarakat. Sebab pada akhirnya, santri bukan hanya mereka yang tinggal di pesantren, tetapi mereka yang menjaga tradisi ilmu, adab, dan pengabdian dalam setiap langkah kehidupannya.

Penulis : Fauzan Sidik