Tradisi Menyambut Ramadhan, Ponpes Sabilurrosyad Gasek Gelar “Nyekar dan Ziaroh Wali 2026”

Ponpesgasek. – Malang – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Kota Malang, kembali menggelar kegiatan tahunan bertajuk “Nyekar dan Ziaroh Wali 2026”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa, 16–17 Februari 2026. Seluruh santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek turut memeriahkan acara ini.

Kegiatan nyekar dan ziarah wali ini telah menjadi tradisi turun-temurun di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek. Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, para pengasuh dan santri melaksanakan ziarah ke makam para wali serta nyekar ke makam leluhur sebagai bentuk persiapan spiritual, sekaligus pelestarian amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah yang hidup di tengah masyarakat Nahdlatul Ulama. Pada tahun ini, rombongan ziarah mengunjungi sejumlah makam wali yang berada di wilayah Jawa Timur, di antaranya makam Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Gresik, serta Sunan Drajat di Lamongan.

Baca juga: Satu Hari Jelang Ramadhan, Keluarga Besar Ponpes Sabilurrosyad Ziarah Makam Auliya

Setelah rangkaian ziarah wali, rombongan melanjutkan kegiatan dengan nyekar ke makam para leluhur serta orang tua pengasuh pondok di Mayong, Lamongan, dan Blitar. Pengasuh pondok, KH. Marzuqi Mustamar, beserta istri, Bu Nyai Saidah, keluarga, serta seluruh santri putra dan putri Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek menghadiri langsung agenda ini. Kehadiran pengasuh dan keluarga besar pondok memperkuat kekhidmatan serta makna spiritual dalam setiap rangkaian acara.

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Fayiz Ardyansyah, menyampaikan bahwa ziarah dan nyekar ini memiliki tujuan yang sangat mulia. “Kami menyelenggarakan ziarah ini untuk melestarikan tradisi masyarakat NU, yaitu mengunjungi makam para wali dan keluarga di bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, atau yang biasa kita sebut nyekar. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendoakan ahli kubur, ngalap barokah (tabarruk), sekaligus mengambil pelajaran (ibrah) dari perjuangan para wali dalam menyebarkan Islam, khususnya di tanah Jawa,” tuturnya.

Suasana kegiatan tahun ini terasa semakin khidmat karena bertepatan dengan pengajian rutin Abah KH. Marzuki Mustamar yang diselenggarakan di ndalem Mayong, Lamongan, bersama para warga Nahdlatul Ulama setempat. Kebersamaan antara santri dan masyarakat sekitar menambah nilai kebersamaan serta mempererat tali silaturahmi antarwarga dan pesantren.

Lebih lanjut, Muhammad Fayiz Ardyansyah menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan kesan yang sangat mendalam bagi para santri. “Kegiatan ini memberikan kesan yang sangat mendalam bagi kami, khususnya sebagai santri yang ingin bertabarruk kepada para kiai dan ulama. Kegiatan ini menjadi salah satu wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah serta menumbuhkan rasa cinta kepada para ulama. Kami berharap semua pihak terus menjaga dan meningkatkan kualitas kegiatan seperti ini agar manfaat spiritual serta kebersamaannya semakin terasa,” ujarnya.

Baca juga: Kontroversi antara Ru’yatul Hilal dan Hisab

Melalui kegiatan Nyekar dan Ziarah Wali 2026 ini, panitia berharap para santri semakin menyadari pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT serta menghormati jasa para wali dan ulama. Ziarah bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk membersihkan hati, memperkuat iman, dan menumbuhkan kecintaan kepada para pewaris dakwah Rasulullah. Semoga keberkahan para wali dan doa para guru menjadi wasilah bagi seluruh santri untuk istiqomah dalam menuntut ilmu dan mengabdikannya bagi agama, bangsa, dan umat.

Penulis : Fauzan Sidik