Puncak Kesuksesan Seorang Orang Tua

Ponpesgasek.id – Pekan lalu, dalam kegiatan “Ngaji Posonan” selepas salat tarawih, Abah Marzuqi Mustamar menyampaikan sebuah kisah yang menggugah tentang makna kesuksesan seorang anak. Dalam penuturannya, beliau menggambarkan dua keadaan yang berbeda. Di satu sisi ada orang tua yang memiliki anak bergelar profesor, menjadi pejabat, atau pengusaha sukses, namun karena kesibukannya, ia tidak memiliki banyak waktu untuk merawat dan berbakti secara maksimal kepada kedua orang tuanya.

Di sisi lain, seorang anak hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan sederhana—mencari rumput untuk ternak, bertani, dan mengajar di TPQ saat malam tiba. Namun, ia punya seluruh waktunya untuk menemani, merawat, dan berbakti sepenuhnya kepada orang tua di masa senja mereka. Menutup kisah itu, Abah mengajukan sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna: ‘Jika harus memilih, jalan mana yang akan kita tempuh?’

Masyarakat umum cenderung mengukur kesuksesan orang tua dari pencapaian duniawi anak-anaknya. Mereka menilai ayah atau ibu berhasil jika mampu menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana, magister, doktor, bahkan profesor. Tak jarang, orang tua merasa bangga saat anaknya menjabat sebagai anggota TNI/Polri, pejabat penting, atau pengusaha sukses dengan kekayaan melimpah. Pandangan ini tentu tidak keliru, sebab masyarakat memang menempatkan pendidikan tinggi, karier mapan, dan keberhasilan ekonomi sebagai standar pencapaian hidup yang utama.

Namun, perspektif Islam menawarkan makna kesuksesan yang melampaui pencapaian duniawi. Islam tidak membatasi keberhasilan orang tua pada status sosial, jabatan, atau kekayaan anak-anak mereka. Sebaliknya, kesuksesan hakiki berakar pada kemampuan orang tua mendidik anak menjadi pribadi saleh, berbakti, serta bermanfaat bagi sesama. Nilai ini selaras dengan doa orang-orang beriman yang tercantum dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”* (QS. Al-Furqan : 74 ). 

Ayat ini menunjukkan bahwa keturunan yang saleh merupakan kebahagiaan terbesar bagi seorang orang tua. Rasulullah SAW juga memberikan penegasan yang sangat jelas mengenai hal ini. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: 

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Sahih Muslim). 

Pada hadits ini terdapat pesan yang sangat dalam, khususnya pada poin ketiga yaitu “anak saleh yang mendoakan orang tuanya”. Ini menunjukkan bahwa salah satu warisan paling berharga yang dapat dimiliki oleh orang tua ketika masih hidup atau 1setelah wafat adalah doa dari anak-anak mereka. Dengan demikian, keberhasilan terbesar orang tua bukan hanya melahirkan anak, tetapi juga mendidiknya sehingga tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berbakti, dan tidak pernah lupa mendoakan kedua orang tuanya.

Sejak masa silam, para ulama menekankan krusialnya pendidikan akhlak di lingkungan keluarga. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa anak merupakan amanah Allah yang menuntut tanggung jawab orang tua untuk menjaga dan membimbingnya dengan sepenuh hati. Beliau mengibaratkan hati anak sebagai permata murni; jika orang tua menanamkan kebiasaan baik, ia akan tumbuh mulia dan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tuanya di dunia maupun akhirat. Senada dengan itu, Abdullah bin Al-Mubarak menegaskan bahwa warisan teragung bukanlah tumpukan harta, melainkan adab. Melalui adab itulah, seorang anak menyadari bahwa doa tulus adalah inti dari segala bentuk bakti.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud membanding-bandingkan atau merendahkan bentuk kesuksesan yang lain. Pendidikan tinggi, jabatan, dan keberhasilan ekonomi tetaplah anugerah yang patut kita syukuri. Namun, kita tidak seharusnya menyempitkan makna kesuksesan hanya pada ukuran-ukuran tersebut. Jangan sampai kita baru melabeli seseorang sukses saat ia meraih gelar akademik tertinggi, atau sekadar saat ia menjabat sebagai aparat negara dan pengusaha kaya raya.

Baca juga: Menjaga Iman Anak Kecil di Masa Depan

Dalam pandangan yang lebih luas, siapa saja yang mampu berbakti kepada kedua orang tuanya dan senantiasa mendoakan mereka juga merupakan cerminan keberhasilan dalam pendidikan keluarga, sekalipun seorang anak hanyalah seorang buruh harian, petani sederhana, tukang ngarit, tukang macul, atau memiliki usaha kecil-kecilan dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Namun ditengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk merawat orang tuanya, menemani mereka di masa tua, membantu memenuhi kebutuhan mereka, dan tidak pernah lupa mendoakan mereka dalam setiap shalatnya. Anak seperti ini mungkin tidak dikenal luas oleh masyarakat, tetapi di sisi Allah ia memiliki kedudukan yang mulia karena baktinya kepada kedua orang tuanya.

Sebaliknya, realitas kehidupan juga terkadang menunjukkan sebuah ironi yang sering kita temui di tengah masyarakat. Ada orang tua yang berhasil menjadikan anak-anaknya “orang besar” dalam ukuran dunia—memiliki jabatan tinggi, karir yang gemilang, dan kehidupan yang sangat sibuk—namun ketika orang tua mereka memasuki usia senja, mereka justru tidak memiliki cukup waktu untuk menemani dan merawatnya. Bahkan dalam beberapa kisah yang menyedihkan, ada anak yang begitu sibuk dengan urusan dunia hingga tidak sempat berada di samping orang tuanya di saat-saat terakhir kehidupan mereka, bahkan tidak sempat menghadiri pemakamannya. Padahal Allah telah memerintahkan dengan tegas agar manusia berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana firman-Nya: 

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…” (QS. Al-Isra).

Singkatnya, bakti seorang anak menjadi timbangan utama bagi kesuksesan orang tua, melampaui tingginya jabatan atau besarnya penghasilan. Apa pun profesinya, selama seorang anak terus merawat, mendoakan, dan berbakti—baik semasa orang tua hidup maupun setelah wafat—maka orang tua tersebut telah memenangkan pendidikan anaknya. Pada titik itulah, mereka menyandang predikat sebagai ‘orang tua sukses’.

Baca juga: Mengejar Kesuksesan Dunia dan Akhirat Dengan Menjaga Shalat Berjamaah

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu meraih keberhasilan dunia sekaligus keberhasilan akhirat. Semoga kita diberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang berilmu, berkarya, dan berhasil dalam kehidupan, namun tetap memiliki hati yang penuh kasih kepada kedua orang tua. Jangan sampai kesuksesan dunia membuat kita lupa kepada mereka yang telah menjadi sebab keberadaan kita di dunia ini. Karena pada akhirnya, salah satu tanda keberhasilan terbesar dalam hidup seorang anak adalah ketika kedua orang tuanya merasa bahagia, dihormati, dirawat, dan senantiasa didoakan oleh anak yang mereka besarkan dengan penuh cinta sejak kecil.

 

Penulis : Fauzan Sidik