Ponpesgasek.id – Dalam sebuah pengajian wetonan kitab Minhajul ‘Abidin karya Al-Imam Al-Ghazali bersama Ustadz Dr. Rasyid, pada bab yang membahas tentang berbagai rintangan dalam perjalanan spiritual menuju Allah, terdapat sebuah maqolah yang sangat mendalam maknanya, yaitu :
لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ
Lisānul ḥāl afṣaḥu min lisānil maqāl
(Artinya : bahasa keadaan atau perbuatan lebih fasih daripada bahasa ucapan.)
Ungkapan ini membawa pesan moral dan spiritual yang sangat kuat: bahwa tindakan nyata, akhlak, dan perilaku seseorang sering kali memancarkan kekuatan yang jauh lebih besar dalam menyampaikan kebenaran daripada sekadar kata-kata atau nasihat lisan.
Imam Al-Ghazali berpandangan bahwa orang yang mempraktikkan nilai kebaikan melalui tindakan nyata akan lebih mudah menyentuh hati manusia daripada mereka yang hanya pandai berbicara tanpa memberikan teladan dalam hidupnya.
Dalam perspektif Islam, kesesuaian antara ucapan dan perbuatan merupakan prinsip moral yang sangat ditekankan. Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak melakukannya. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS. As-Ṣaff: 2).
Ayat ini menegaskan bahwa ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan bukan sekadar kelemahan moral, melainkan sesuatu yang sangat Allah benci. Oleh karena itu, tradisi Islam selalu menyandingkan ilmu dengan amal. Ilmu yang tidak mewujud dalam amal akan kehilangan seluruh nilai spiritualnya.
Keteladanan ini tercermin dengan sangat jelas dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Sosok Muhammad tidak hanya menyampaikan wahyu melalui kata-kata, tetapi juga mempraktikkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika para sahabat ingin mengetahui bagaimana akhlak beliau, Sayyidah Aisyah menjawab dengan kalimat yang sangat terkenal: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Artinya, Nabi Muhammad adalah gambaran hidup dari nilai-nilai Al-Qur’an. Beliau tidak hanya mengajarkan kesabaran, tetapi juga menjadi orang yang paling sabar; tidak hanya memerintahkan kejujuran, tetapi juga dikenal sebagai Al-Amīn jauh sebelum diangkat menjadi nabi. Inilah bentuk nyata dari lisanul hāl, yaitu dakwah melalui perilaku yang hidup dan nyata.
Maqolah Imam Al-Ghazali ini juga menekankan pentingnya keselarasan antara ilmu dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali seseorang mudah menasihati orang lain tentang kebaikan, namun kesulitan mempraktikkannya dalam kehidupan pribadi. Misalnya, seorang ayah menasihati anaknya agar selalu berkata jujur, tetapi ketika ada telepon yang tidak ingin ia jawab, ia berkata kepada anaknya, “Bilangkan ayah tidak ada.” Tanpa sadar, anak tersebut justru mempelajari bahwa berbohong merupakan tindakan yang sah dalam kondisi tertentu.
Kita bisa melihat contoh lain saat seseorang menasihati temannya agar bersabar, namun ia sendiri justru meluapkan amarah saat menghadapi masalah sepele. Dalam kondisi ini, nasihat tersebut kehilangan kekuatan moralnya karena pemberi nasihat tidak menunjukkan perilaku yang konsisten. Inilah alasan mengapa tindakan nyata selalu memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada seribu kata-kata.
Baca juga: Regulasi Diri dan Ujian Ilmu: Membaca Jiwa antara Psikologi dan Tasawuf
Dunia pendidikan dan psikologi menjelaskan fenomena ini melalui teori pembelajaran sosial milik psikolog ternama, Albert Bandura. Bandura menegaskan bahwa manusia tidak hanya belajar melalui instruksi verbal, tetapi juga melalui observasi dan peniruan terhadap perilaku orang lain yang mereka anggap sebagai model.
Anak-anak, misalnya, lebih banyak menyerap pelajaran dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Jika seorang anak tumbuh dalam keluarga yang mempraktikkan kejujuran, kesopanan, dan kedisiplinan, ia akan menyerap nilai-nilai tersebut secara alami melalui proses peniruan. Sebaliknya, jika ia terus-menerus menyaksikan kemarahan, kebohongan, dan ketidakkonsistenan, maka ia pun akan mempelajari perilaku negatif tersebut.
Orang tua yang rajin melaksanakan shalat tepat waktu akan lebih mudah mengajak anak untuk shalat dibandingkan orang tua yang hanya menyuruh anaknya shalat namun dirinya sendiri sering menunda-nunda. Begitu pula dalam hal sopan santun; anak akan belajar berbicara dengan lembut jika ia terbiasa melihat orang tuanya berbicara dengan penuh kelembutan. Dalam psikologi modern, fenomena ini dikenal sebagai rule modeling, yaitu proses belajar melalui keteladanan.
Dalam lingkungan pesantren pun demikian. Seorang kiai, gus, atau ustadz yang hidup dengan kesederhanaan, kerendahan hati, kesabaran, dan akhlak yang baik akan dengan mudah menjadi teladan bagi para santri. Para santri tidak hanya menyerap ilmu dari kitab-kitab yang guru mereka ajarkan, tetapi juga dari cara hidup sang guru sehari-hari.
Tradisi ulama klasik bahkan sering menyebut bahwa “keadaan seorang alim adalah dakwah yang berjalan,” sebab perilaku seorang ulama memberikan pelajaran yang lebih berharga daripada ceramah panjang lebar. Oleh karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga akhlak dan perilaku mereka karena menyadari bahwa setiap tindakan akan menjadi teladan bagi orang lain.
Baca juga: Kajian Kitab Nashoihul Ibad sebagai penguat moral santri Gasek dipasca pandemi
Dari maqolah “Lisānul ḥāl afṣaḥu min lisānil maqāl” kita belajar bahwa integritas adalah kunci utama dalam kehidupan. Kata-kata mungkin dapat memengaruhi pikiran manusia, akan tetapi perilaku akan jauh lebih menyentuh hati mereka.
Orang mungkin akan lupa dengan apa yang kita katakan, tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana kita bersikap. Karena itu, memperbaiki diri melalui akhlak dan perilaku nyata merupakan bentuk dakwah yang paling kuat dan paling efektif.
Semoga kita semua mampu menjadi pribadi yang tidak hanya pandai berkata baik, tetapi juga mampu menghadirkan kebaikan itu dalam setiap tindakan kita sehari-hari. Karena pada hakikatnya, kehidupan kita sendiri adalah pesan yang sedang kita sampaikan kepada dunia. Jika kata-kata tidak cukup kuat untuk mengubah manusia, maka biarkan akhlak kita yang berbicara.
(Referensi : Kitab Minhajul ‘Abidin karya Al-Imam Al-Ghazali)
Penulis : Fauzan Sidik

