Kalau Mimpinya Besar, Jomblonya Harus Lama

Ponpesgasek.id – Mempunyai mimpi besar merupakan gambaran masa depan yang menuntut konsistensi, disiplin, dan pengorbanan yang besar juga. Impian yang besar selalu menguji mental dan membutuhkan fokus jangka panjang, kemampuan menunda kesenangan, dan berani bangkit meski berkali-kali gagal. Dalam kacamata psikologi, hal ini dikenal sebagai “delayed gratification”, yaitu kemampuan seseorang untuk menunda kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih bermakna di masa depan.

Sementara dalam pandangan tasawuf Islam, impian besar sejatinya adalah niat luhur yang mengarah pada kebaikan dunia dan akhirat, sehingga kita harus menempuh proses mencapainya dengan cara-cara yang baik agar bernilai ibadah. Maka, orang yang memiliki mimpi besar sejatinya sedang menapaki jalan panjang penyucian diri, bukan sekadar mengejar hasil, tetapi membentuk karakter, kesabaran, dan kedewasaan spiritual.

Salah satu pengorbanan terbesar pemilik mimpi besar adalah mengendalikan diri agar tidak terjebak dalam keterikatan emosional yang berlebihan, seperti “urusan percintaan”. Bukan berarti menganggap jatuh cinta itu negatif, akan tetapi kita sadar bahwa fokus manusia itu sangat terbatas. Al-Imam Abu Hanifah pernah berpesan :

وَإِيَّاكَ أَنْ تَشْتَغِلَ بِالنِّسَاءِ قَبْلَ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ، فَيَضِيعَ وَقْتُكَ

Jangan sampai menyibukkan dirimu dengan wanita sebelum memperoleh ilmu, maka hal itu membuat waktumu terbuang sia-sia” (Imam Abu Hanifah – Kitab Al-Asybah wan-Nazhair (Ibnu Nujaim al-Mishri) hlm 381-383 – Dar al-Kutub al-Ilmiyyah-Beirut).

Pesan ini selaras dengan prinsip psikologi yang menyebutkan bahwa perhatian yang terbagi akan menurunkan kualitas konsentrasi dan produktivitas. Ilmu membutuhkan kejernihan pikiran, ketekunan, dan kesungguhan, sementara hubungan emosional dan nafsu seringkali menyita energi mental, waktu, dan perasaan. Karena itu, mendahulukan ilmu sebelum percintaan bukanlah bentuk penolakan terhadap fitrah, melainkan strategi hidup agar fondasi diri benar-benar kokoh.

Dalam kitab Ta’lim wal-Muta’allim bab wara’ (menjaga diri dimasa belajar) Imam al-Zarnuji menekankan bahwa : 

وَيَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَشْتَغِلَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا، وَلَا يَهْتَمَّ بِهَا، لِأَنَّ الْهَمَّ وَالْغَمَّ بِسَبَبِ الدُّنْيَا يُظْلِمُ الْقَلْبَ، وَيَمْنَعُ عَنِ الْخَيْرِ، وَيَشْغَلُ عَنْ عَمَلِ الْآخِرَةِ، وَيُؤَثِّرُ فِي نُقْصَانِ الْعِلْمِ

“Hendaknya seorang pencari ilmu tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi maupun mencemaskannya. Sebab, rasa cemas dan duka yang lahir dari urusan dunia dapat menggelapkan hati, menghalangi kebaikan, melalaikan amal akhirat, serta menggerogoti ketajaman ilmu.”

Walaupun tidak merujuk langsung pada asmara, substansi pandangan tersebut secara tegas menempatkan percintaan sebagai salah satu distraksi duniawi yang menghambat fokus. Kecemasan dan kesibukan hati terhadap urusan dunia termasuk percintaan dan syahwat yang merupakan penghalang utama yang menutup jalan masuknya ilmu.

Kemudian ada juga “kalam hukama” (perkataan orang-orang bijak) yang penulis temukan ,tapi belum tahu siapa yang mengucapkan dan darimana sumbernya, namun maqolah ini bisa dijadikan penguat argumen, yaitu :

العِلْمُ وَالعِشْقُ لَا يُدْرَكَانِ مَعًا، فَضَحِّ بِأَحَدِهِمَا وَإِلَّا خَسِرْتَهُمَا جَمِيعًا

“Ilmu dan percintaan tidak bisa dikejar bersamaan, korbankan salah satunya atau kamu akan kehilangan keduanya”

Ungkapan ini bukan sekadar larangan secara normatif, melainkan sebuah refleksi pengalaman panjang para pencari ilmu. Dalam tasawuf, hati manusia menyerupai sebuah wadah; saat kecintaan duniawi yang prematur memenuhi wadah tersebut, cahaya ilmu akan kesulitan untuk masuk. Secara psikologis, keterlibatan emosional yang intens menciptakan distraksi dan konflik batin yang pada akhirnya menyumbat efektivitas proses belajar.

Baca juga: Regulasi Diri dan Ujian Ilmu: Membaca Jiwa antara Psikologi dan Tasawuf

Maka memilih untuk “Jomblo” dalam “fase tertentu” sejatinya adalah bentuk kesadaran diri, bukan keterpaksaan, demi menjaga kejernihan hati dan pikiran. Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa fokus pada ilmu bukan berarti menutup diri dari manusia lain atau memusuhi perasaan.

Islam dan psikologi sama-sama mengajarkan keseimbangan. Memiliki teman, relasi sosial yang sehat, bahkan sosok yang menginspirasi hidup tetaplah manusiawi. Akan tetapi, jika mimpi kita besar, cita-cita kita tinggi, dan posisi kita masih sebagai santri atau mahasiswa yang sedang menimba ilmu, maka menahan diri dari hubungan romantis yang intens adalah pilihan bijak. Fokus belajar dan membangun kapasitas diri di masa ini akan menentukan kualitas kehidupan di masa depan. Dengan demikian, “Jomblo bukanlah kekosongan, melainkan ruang untuk bertumbuh.”

Ada banyak sekali dampak positif ketika seseorang menjaga diri dari percintaan di masa menuntut ilmu. Terhindarnya diri dari “gendaan” (berdua-dua an pacaran), seperti jalan-jalan boncengan atau nongkrong berjam-jam di kafe. Bukan hanya membuang-buang waktu dan energi, hal itu juga bahaya karena dikhawatirkan akan merambat pada perbuatan maksiat yang lebih parah lagi.

Dalam Islam, maksiat bukan sekadar pelanggaran moral, tetapi racun bagi hati dan pikiran. Dalam sebuah pengaosan Abah KH. Marzuqi Mustamar pernah ngendika (berkata) “Ilmu itu nur (cahaya), dan jangan kamu rusak ilmu dengan maksiat, karena salah satu penyebab gelapnya hati, gelapnya pikiran, dan susahnya mengaji adalah maksiat.” Oleh karena itu Abah sering mewanti-wanti santrinya “Santri gasek ojo sampe konangan gendaan” (Santri gasek jangan sampai ketahuan pacaran).

Pesan ini sejalan dengan konsep psikologi spiritual bahwa perilaku yang bertentangan dengan nilai batin akan melahirkan konflik internal, rasa bersalah, dan kekacauan emosi yang menghambat perkembangan diri. Selain potensi maksiat yang muncul dari kebiasaan gendaan, pacaran juga sering kali melahirkan pemborosan waktu yang sangat halus namun berdampak besar.

Misalnya, waktu malam yang seharusnya digunakan untuk mutholaah kitab, murojaah quran, membaca, mengerjakan tugas kuliah, atau sekadar istirahat agar tubuh dan pikiran segar, tapi justru malah habis untuk sleep call (telponan atau video call sebelum tidur) hingga larut malam. Dalam psikologi, kurang tidur terbukti akan menurunkan daya konsentrasi, melemahkan kontrol emosi, dan merusak kemampuan otak dalam menyerap informasi baru.

Baca juga: Kiaiku Washilah Pendamping Hidupku

Bagi santri atau mahasiswa, dampak kondisi ini akan sangat terasa keesokan harinya: mereka sulit bangun Subuh, membutuhkan usaha keras untuk terjaga, dan akhirnya menunaikan shalat dalam keadaan setengah sadar. Alih-alih mengaji atau mengikuti kuliah dengan fokus, mereka justru terkantuk-kantuk karena pikiran dan tubuh yang kelelahan.

Dalam perspektif tasawuf, kondisi ini sangat berbahaya karena waktu pagi merupakan saat paling jernih bagi hati untuk menyerap cahaya ilmu. Saat seseorang merusak kesegaran pagi dengan begadang yang sia-sia, ia tidak hanya meletihkan raga, tetapi juga melumpuhkan kekuatan ruhnya.

Jika seorang pencari ilmu membiarkan kebiasaan ini terus berlanjut, perlahan kualitas dirinya akan merosot. Ia justru menyia-nyiakan waktu terbaik demi hal-hal yang belum menjadi tanggung jawab utamanya. Padahal, Islam dan psikologi perkembangan sepakat bahwa fase muda merupakan masa paling produktif untuk membangun fondasi intelektual, spiritual, dan karakter.

Saat seseorang mengisi malam-malamnya dengan obrolan tanpa arah, ia tidak hanya kehilangan jam tidur, tetapi juga mengikis disiplin, kesungguhan, dan kekhusyukan. Inilah alasan para ulama dan kiai begitu keras mengingatkan bahaya pacaran. Mereka bukan anti terhadap kebahagiaan, melainkan paham betul bahwa ritme hidup yang rusak akan langsung menghambat proses belajar dan pertumbuhan jiwa.

Dengan demikian, menjaga diri dari pacaran selama menuntut ilmu sejatinya merupakan bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri dan masa depan. Ini bukan soal menolak cinta, melainkan menempatkan cinta pada waktu yang tepat. Setelah kita mengejar ilmu dengan sungguh-sungguh, menata akhlak, dan membentuk karakter, maka cinta tidak lagi hadir sebagai pengganggu, melainkan sebagai penenang jiwa.

Semua ada waktunya. Jika Anda telah mencapai kemapanan, baik secara keilmuan maupun finansial, serta benar-benar siap membangun rumah tangga, tidak ada salahnya mencari atau menerima kehadiran seseorang yang berniat serius. Lakukanlah dengan proses yang baik sesuai tuntunan syariat tanpa berlebihan, demi menjemput keberkahan. Jika belum memiliki calon, peliharalah kesabaran dalam kesendirian yang bermakna. Kesunyian yang Anda rawat dengan niat lurus akan melahirkan pribadi yang kuat, jernih, dan siap memikul mimpi besar.

Baca juga: Ta’arufan dan Pacaran, Apa Bedanya?

Pada akhirnya, menjadi ‘jomblo’ dalam perjalanan mengejar mimpi bukanlah tanda kesepian, melainkan simbol kesadaran dan kedewasaan. Ada waktu untuk mencintai dan dicintai, namun ada pula waktu untuk membangun diri melalui keheningan dan fokus. Memilih sendiri demi ilmu dan masa depan bukanlah sebuah kehilangan, melainkan investasi jangka panjang.

Kelak, saat Anda telah mematangkan ilmu, menyusun karier, dan menenangkan jiwa, cinta akan hadir dengan cara yang lebih indah. Maka, berjalanlah dengan sabar, jaga niat, rawat hati, dan teruslah belajar. Yakinlah bahwa Allah selalu menghargai setiap peluh dan perjuangan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Penulis : Fauzan Sidik