Ya Khairul Maulud: Sebuah Kegembiraan atas Lahirnya Sang Kekasih

Ponpegasek.id – Ada sosok yang hidup 1.400 tahun yang lalu, yang kelahirannya selalu dikenang dan dirayakan setiap tahun oleh seluruh umat Islam. Bukan karena harta yang dimilikinya, melainkan karena kemuliaan dan keluhuran akhlaknya. Sosok itu adalah Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan yang kelahirannya menjadi cahaya dan awal hadirnya rahmat bagi seluruh alam.

1. Kenapa Ulama Diperingati Wafatnya, Sedangkan Nabi Hari Lahirnya?

Kiai Said Aqil Siradj menjelaskan mengapa para ulama yang dikenang hari wafatnya, sedangkan Rasulullah ﷺ dikenang melalui hari lahirnya. Beliau menjelaskan bahwa ketika seorang ulama lahir, ia belum diketahui akan menjadi siapa dan bagaimana kedudukannya setelah dewasa; apakah menjadi ulama atau wali. Ketika wafat, barulah kebesaran dan perjuangannya dikenang melalui haul.

Adapun Rasulullah ﷺ berbeda. Sejak lahir, beliau telah dimuliakan dan membawa rahmat bagi seluruh alam. Kelahiran beliau menjadi awal munculnya rahmat bagi seluruh alam, karena melalui beliau Allah menyampaikan Islam, Al-Qur’an, dan petunjuk kepada manusia. Karena itu, kelahiran beliau sendiri merupakan peristiwa agung yang layak dikenang dan disyukuri.

2. Perayaan Maulid sebagai Ungkapan Syukur

Di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, perayaan Maulid Nabi dinamai “Semarak Safari Maulid”. Kegiatan ini dilaksanakan selama 12 hari, dengan hari pertama bertempat di pondok, sedangkan hari-hari berikutnya dilaksanakan secara bergiliran di masjid-masjid bersama para warga sekitar. Budaya ini telah lama dilakukan oleh Pondok Pesantren Sablurrosyad Gasek. 

Imam Ibnul Hajj al-Maliki al-Fasi (wafat 737 H) menjelaskan bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad SAW semestinya dijadikan momentum untuk memperbanyak ibadah dan amal kebajikan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat dan anugerah-Nya, terutama pada tanggal 1 sampai 12 Rabiul Awal.

Syekh Ali al-Hanafi juga menukil perkataan Ibnu al-Hajj al-Fasi:

قَالَ ابْنُ الْحَاجِ الْفَاسِي: فَكَانَ يَجِبُ أَنْ نَزْدَادَ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِي عَشَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْخَيْرِ شُكْرًا لِلْمَوْلىَ عَلىَ مَا أَوْلاَنَا مِنْ هَذِهِ النِّعَمِ الْعَظِيْمَةِ وَأَعْظَمُهَا مِيْلاَدُ الْمُصْطَفىَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya, “Ibnu al-Hajj al-Fasi berkata: ‘Maka sudah semestinya kita memperbanyak ibadah dan berbagai amal kebajikan pada hari Senin tanggal dua belas Rabiul Awal, sebagai bentuk syukur kepada Allah atas berbagai nikmat agung yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita. Dan nikmat yang paling agung di antaranya adalah kelahiran al-Musthafa saw (Nabi Muhammad).’” (Al-Qaul at-Tamam fi Mulakhkhashil Imam fi Itsbatil Ihtifal bil Maulid asy-Syarif wal Qiyam li Ta’dzimi Khairil Anam, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2013 M], halaman 48).

Dengan demikian, Maulid bukan sekadar mengenang sebuah tanggal, tetapi menjadi momentum untuk memperbanyak syukur, ibadah, dan amal kebajikan.

3. Berbagi Makanan, Simbol Kegembiraan

Di Pondok Gasek maupun di masyarakat Jawa Timur pada umumnya, masyarakat biasanya membawa makanan atau jajanan ke masjid atau mushola. Makanan tersebut kemudian dipajang, bahkan terkadang digantung, untuk kemudian diambil oleh jamaah yang hadir dalam acara tersebut.

Tradisi berbagi ini menjadi simbol kegembiraan sekaligus bentuk kepedulian kepada sesama. Imam al-Hafiz Abu Zara’ah al-Iraqi mengatakan bahwa memberi makan kepada orang lain dengan mengadakan jamuan merupakan perbuatan yang dianjurkan dalam Islam pada setiap momen dan waktu. Karena itu, jika mengadakan jamuan saja dianjurkan, bagaimana jika jamuan tersebut disertai rasa senang dan gembira atas lahirnya Rasulullah SAW pada bulan yang mulia ini? Tentu hal tersebut memiliki nilai kebaikan yang lebih besar.

4. Bukan Hanya Seremonial, tetapi Jalan Dakwah

Jika kita memperhatikan, Maulid merupakan suatu acara yang mempertemukan beberapa amal kebajikan sekaligus: kegembiraan atas kelahiran Nabi, syukur kepada Allah, belajar dan mempelajari sirah, serta berbagi makanan kepada sesama. Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi memiliki sejumlah sisi kebajikan yang saling menguatkan.

Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki menjelaskan pentingnya perkumpulan semacam ini sebagai sarana dakwah:

أَنَّ هَذِهِ الْاِجْتِمَاعَاتِ هِيَ وَسِيْلَةٌ كُبْرَى لِلدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ وَهِيَ فُرْصَةٌ ذَهَبِيَّةٌ يَنْبَغِي أَنْ لَا تَفُوْتَ

“Sesungguhnya perkumpulan-perkumpulan ini (dalam rangka Maulid) merupakan sarana yang besar untuk berdakwah kepada Allah, dan merupakan kesempatan emas yang semestinya tidak dilewatkan.”

Maulid bukan sekadar perayaan tahunan atau seremonial. Ia adalah momentum untuk kembali mengingat kemuliaan Rasulullah SAW, mensyukuri kelahiran manusia terbaik, memperbanyak ibadah, mempelajari sirah, berbagi kepada sesama, dan menjadikan kecintaan kepada Nabi sebagai jalan untuk memperbaiki diri serta meneruskan dakwah beliau.

Jika Abu Lahab yang kafir Allah ringankan siksaannya setiap hari Senin karena kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan kita sebagai umat Islam yang tidak hanya bergembira atas kelahiran beliau, tetapi juga mengungkapkan kegembiraan itu dengan memperbanyak ibadah, membaca shalawat, mempelajari sirah, berkumpul dalam kebaikan, serta berbagi makanan dan bersedekah? 

Ya Khairul Maulud, semoga dengan mengenang kelahiranmu, kami semakin mengenalmu, mencintaimu, meneladani akhlakmu dan memdapatkan barokah dan syafaatmu. Aamiin

Penulis : Fauzan Sidik