Dimensi Syukur dalam Pemikiran Tasawuf

Ponpesgasek.id – Kebanyakan orang memaknai syukur secara sederhana: ketika mendapatkan kesenangan, lalu mengucapkan “Alhamdulillah,” maka tuntaslah kewajiban bersyukur. Padahal, ucapan tersebut hanyalah kulit luar atau ekspresi kecil dari sebuah hakikat yang jauh lebih dalam. Lantas, apa sebenarnya hakikat syukur dalam perspektif tasawuf?

Syukur sebagai Buah dari Ma’rifatullah

Dalam tradisi tasawuf, syukur bukanlah sekadar reaksi spontan terhadap nikmat, melainkan sebuah kondisi batin (hal) yang lahir dari ma’rifatullah (mengenal Allah). Kedalaman syukur seseorang berbanding lurus dengan pengenalannya terhadap Tuhan. Semakin seseorang mengenal sifat-sifat Allah, semakin ia menyadari bahwa setiap detak jantung dan embusan napas adalah pemberian-Nya.

Bagi seorang sufi, syukur tidak lagi bergantung pada keadaan lahiriah. Mereka meyakini bahwa Allah Maha Bijaksana dalam memberi maupun mengambil. Dalam pandangan ini, ujian, musibah, bahkan kegagalan pun merupakan “nikmat yang tersembunyi” (nikmatun batiniyyah). Mengapa? Karena melalui kepahitan itulah, hati manusia dibersihkan dari kotoran duniawi, ego dipatahkan, dan hamba dipaksa untuk bersimpuh mendekat kepada Sang Pencipta.

Rahasia di Balik “Sedikitnya Hamba yang Bersyukur”

Al-Qur’an memberikan sebuah refleksi mendalam melalui firman-Nya:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُور

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ikhbar ‘anul waqi’ (kabar berdasarkan realitas). Faktanya, banyak manusia yang tenggelam dalam lautan kenikmatan namun “mabuk” hingga melupakan Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun’im).

Menariknya, Imam Al-Qurthubi menyoroti penggunaan kata “Asy-Syakur” dalam ayat tersebut. Secara linguistik, Syakur adalah bentuk hiperbola (mubaalaghah) yang berarti hamba yang bersyukur secara totalitas dalam segala kondisi—baik suka maupun duka. Menjadi seorang Syakir (orang yang bersyukur sesekali) mungkin mudah, namun mencapai derajat Syakur sangatlah sulit. Hal ini karena Syakur tidak lagi menghitung jumlah nominal nikmat, melainkan fokus pada pengenalan kepada Allah di balik setiap peristiwa.

Baca juga: Mengintip Rahasia Rezeki dalam Kedalaman Tasawuf

Tiga Pilar Syukur: Lisan, Perbuatan, dan Hati

Menyitir pendapat Imam Al-Junayd al-Baghdadi, salah satu pilar syukur adalah tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya. Sejalan dengan itu, Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa syukur berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Dalam ilmu tasawuf, integrasi syukur dibagi menjadi tiga tingkatan: pertama, Syukur Lisan: Pengakuan tulus melalui lisan dan pujian kepada Allah. Kedua, Syukur Perbuatan: Mengonversi nikmat menjadi amal ketaatan yang bermanfaat bagi sesama. Ketiga Syukur Hati: Ini adalah tingkatan terdalam. Hati yang bersyukur adalah hati yang rida—menerima semua ketentuan Allah tanpa ada gejolak penolakan batin, keluhan, maupun tuntutan.

Puncak Syukur: Memandang Sang Pemberi, Bukan Nikmatnya

Para Arif Billah (orang yang mengenal Allah) sampai pada satu titik di mana mereka tidak lagi disibukkan oleh rasa manisnya nikmat atau pedihnya musibah. Keduanya dipandang sebagai instrumen pendidikan Ilahi (Tarbiyah Ilahiyyah).

Baca juga: Tiga Ilmu Yang Wajib Dipelajari Untuk Mencapai Kesempurnaan Hidup

Pada tahapan puncak ini, rasa syukur menjelma menjadi ketenangan batin yang menetap (tuma’ninah). Seseorang tidak lagi sibuk menuntut perubahan keadaan sesuai seleranya. Sebaliknya, ia memfokuskan seluruh energi untuk memperbaiki diri agar pantas berada di hadirat-Nya. Syukur sejati tercipta ketika perhatianmu kepada Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun’im) mengalahkan rasa nikmat itu sendiri.

Penulis : Fauzan Sidik

Sumber referensi: Tulisan postingan tiktok Wahyu Khoerudin (Wahyu Khoerudin)