Ponpesgasek.id – Tanpa terasa, kita melangkah kembali ke bulan Rajab tahun ini. Kehadirannya menandai awal dari rangkaian bulan mulia yang akan kita lalui secara berturut-turut. Para ulama menggambarkan ketiga bulan ini sebagai sebuah perjalanan ruhani yang bertahap: Rajab menjadi saat untuk Takhalli (membersihkan diri), Sya’ban untuk Tahalli (menanam dan merawat kebaikan), dan puncaknya, Ramadhan sebagai masa Tajalli (memanen hasil spiritual).
Banyak orang mengharap manisnya ibadah di bulan Ramadhan, namun mereka kerap lupa bahwa panen tak pernah datang tiba-tiba. Petani hanya akan memanen jika ia menanam; ia hanya akan mengecap kelezatan buah jika ia menyiram dan merawat pohonnya dengan tekun. Maka, jadikanlah Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan sebagai “musim bertani” bagi jiwa: Rajab untuk membajak dan membersihkan lahan, Sya’ban untuk menanam dan menyiram, serta Ramadhan sebagai waktu memanen puncak cahaya.
Musim Membajak (Bulan Rajab)
Kita mulai dari Rajab. Sebagai salah satu Asyhurul Hurum (bulan mulia), Allah menegaskan kehormatan bulan ini dalam Al-Qur’an. Status mulia ini menuntut setiap muslim untuk lebih ketat menjaga diri dari dosa dan lebih bersemangat memupuk ketaatan.
Posisikan Rajab sebagai bulan Takhalli—masa untuk mengosongkan hati dari tumpukan dosa. Bayangkan proses ini seperti membersihkan lahan batin sebelum kita menanaminya. Banyak dari kita berambisi “mengisi” hidup dengan amal, namun membiarkan lahan hati penuh kerikil: dosa yang tak kunjung putus, lisan yang liar, dan pandangan yang tak terjaga.
Di bulan Rajab ini, mulailah dari fondasi paling mendasar: tobat. Para ulama mengajarkan kita untuk memperbanyak istighfar. Namun ingat, ini bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah perubahan arah: menyesal, berhenti, dan bertekad kuat untuk tidak mengulang dosa yang sama.
Mari terapkan langkah konkretnya: pada hari-hari awal Rajab, mulailah berintrospeksi. Identifikasi dan catat hal-hal yang paling sering menjerumuskan kita ke dalam perbuatan dosa—apakah itu ghibah, amarah, kebiasaan menunda salat, atau kecanduan konten sia-sia.
Pilih satu dosa yang paling dominan, lalu putuskan rantainya sekarang juga. Jika selama ini kita sulit menundukkan pandangan di layar ponsel, jadikan Rajab sebagai bulan “detoks”: saring akun-akun yang diikuti, pangkas durasi penggunaan, dan hindari setiap pemicunya.
Musim Menanam (Bulan Sya’ban)
Usai membajak dan membersihkan tanah hati dari sisa-sisa dosa, kini kita memasuki Sya’ban. Inilah bulan Tahalli—saatnya menghias hati dengan amal ibadah, menanam kebiasaan baik, serta merawatnya hingga tumbuh subur.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan nyata dengan memperbanyak puasa sunah di bulan ini, bahkan hampir sebulan penuh. Beliau mengingatkan bahwa banyak orang melalaikan Sya’ban karena posisinya yang terjepit di antara Rajab dan Ramadhan. Pesan ini sangat kuat: Sya’ban adalah jembatan. Jika kita membiarkan jembatan ini rapuh, Ramadhan akan terasa berat. Namun, jika kita membangun jembatan yang kokoh, Ramadhan akan terasa ringan dan nikmat.
Mari terapkan riyadhah (latihan) secara bertahap untuk menyambut Ramadhan. kita tidak perlu memaksakan diri secara instan; mulailah secara perlahan namun konsisten. Pada pekan pertama Sya’ban, biasakan berpuasa Senin dan Kamis. Masuk pekan kedua, tambahlah satu hari puasa ekstra, lalu tingkatkan lagi pada pekan ketiga sesuai kemampuan.
Terapkan pola serupa untuk tadarus Al-Qur’an. Awali dengan target ringan, misalnya satu halaman per hari pada pekan pertama. Lipat gandakan menjadi dua halaman pada pekan berikutnya, dan teruslah naik secara bertahap. Dengan latihan yang istiqamah, raga dan jiwa kita akan jauh lebih siap saat fajar Ramadhan menyapa.
Musim Panen (Bulan Ramadhan)
Usai membersihkan lahan di bulan Rajab serta menanam dan merawat bibit di bulan Sya’ban, kini kita tiba di puncak perjalanan: Ramadhan. Inilah bulan Tajalli—masa memanen hasil sekaligus saat cahaya iman benderang di dalam jiwa.
Ramadhan bukan sekadar “bulan spesial”, melainkan panggung besar bagi hati yang telah bersiap. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tujuan utama kewajiban puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Artinya, Ramadhan menuntut kita lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga; ia adalah latihan besar untuk memperkuat kendali diri dan mendekatkan batin kepada Sang Pencipta.
Sebagai bulan Al-Qur’an—karena di sinilah Allah menurunkan wahyu-Nya—puncak kejayaan Ramadhan seharusnya tidak terpaku di atas meja makan, melainkan tegak di atas sajadah dan hangat bersama mushaf.
Melanjutkan latihan dari bulan-bulan sebelumnya, kini saatnya kita menata tiga penjaga puasa: lisan, pandangan, dan emosi. Banyak orang sanggup menahan lapar dan haus, namun mereka tetap membiarkan lisan berucap kasar, melontarkan komentar menyakitkan, atau merendahkan orang lain. Ingatlah, akhlak dan sikap Anda menjadi cermin utama kualitas puasa tersebut.
Selain itu, hidupkan malam-malam Anda dengan salat Tarawih dan Witir sebagai amalan utama, baik di masjid maupun di rumah. Hal yang paling krusial bukanlah di mana kita berada, melainkan bagaimana kita mengisi setiap detik malam dengan ibadah yang menghidupkan jiwa.
Untuk tadarus Al-Qur’an, tetapkanlah target yang realistis sesuai kapasitas kita. Kita bisa mengejar satu juz setiap hari dengan membaginya ke dalam waktu-waktu usai salat fardu. Jika aktivitas sedang sangat padat, bidiklah target satu juz dalam dua hari. Intinya: jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa menyentuh ayat-ayat-Nya. Pastikan Al-Qur’an selalu hadir dan menemani setiap langkah keseharian kita.
Baca juga: Ramadhan, Bulan Kitab-Kitab Suci Diturunkan
Sepuluh Malam Terakhir
Saat memasuki sepuluh malam terakhir, segera pindahkan mode ibadah kita ke tingkat tertinggi—fase “Pol-polan”. Teladani Rasulullah ﷺ yang melipatgandakan kesungguhan ibadahnya: beliau jauh lebih giat, menghidupkan malam-malamnya, bahkan membangunkan keluarganya untuk bersimpuh di hadapan Allah.
Pada fase ini, pangkaslah agenda-agenda yang tidak mendesak. Hidupkan malam meski hanya dengan amalan sederhana, perbanyak doa, basahi lisan dengan istighfar, dan teruslah mendaras Al-Qur’an demi mengejar Lailatulqadar—malam yang nilainya melampaui seribu bulan.
Di sinilah kita akan mengecap indahnya Tajalli: hati melunak, jiwa menjadi lebih peka terhadap kebenaran, air mata lebih ringan jatuh dalam munajat, dan batin terasa jauh lebih kuat untuk meninggalkan dosa.
Sahabat sekalian, jika kita mampu menempuh tiga bulan ini dengan tertib, kita akan melihat alur yang begitu jelas. Rajab memaksa kita berhenti dari kebiasaan buruk dan membersihkan lahan batin dari gelapnya dosa (takhalli). Sya’ban menggerakkan kita untuk tekun berlatih amal dan merawat diri (tahalli). Hingga akhirnya, Ramadhan menjadi puncak ibadah, puncak interaksi dengan Al-Qur’an, dan puncak ketakwaan (tajalli).
Namun ingatlah, kemenangan sejati tidak selesai saat Idulfitri tiba. Hakikat keberhasilan terletak pada kemampuan kita menjaga hasil panen tersebut: istiqamah dalam salat, terus mendekap Al-Qur’an, konsisten bersedekah, dan tetap menjaga lisan. Ramadhan bukanlah musim yang sekadar lewat, melainkan momentum yang benar-benar mengubah watak kita, terutama pada bulan-bulan setelahnya.
Penulis: Fauzan Sidik

