Regulasi Diri dan Ujian Ilmu: Membaca Jiwa antara Psikologi dan Tasawuf

Ponpesgasek.id – Inspirasi penulisan ini berawal dari pengajian kitab Minhājul ‘Ābidīn karya Al-Imam Al-Ghazali, yang disampaikan oleh Ustadz Rasyid dalam pengajian wetonan di Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Gasek, Kota Malang. Dalam kitab tersebut terdapat sebuah kutipan yang menyatakan:

الْمَرْءُ يُبْتَلَى بِمَا يَقُولُ 

Seseorang akan diuji berdasarkan apa yang diucapkannya”.

Setelah merenungkan kalimat tersebut, saya mencoba bercermin pada diri sendiri dan melihat realitas yang saya alami. Ternyata relate banget. Seolah kalimat itu memperingatkan: ucapan kita adalah ujian kita. Apa yang masih terpendam di batin tidak akan mendatangkan cobaan, namun kata-kata yang keluar akan segera mengundang ujian tersebut. Seakan-akan itu menjadi cara Allah menguji komitmen dan konsekuensi dari apa yang diucapkannya. Dari sini saya belajar bahwa berbicara tentang niat baik bukanlah perkara ringan.

Pada akhirnya, ujian bukanlah tanda penolakan, melainkan cara alam semesta mengarahkan langkah kita agar terus bertumbuh dan menjadi lebih kuat.

Setelah saya merenung, saya mencoba berdiskusi dengan rekan santri yang satu pondok dengan saya terkait tema ini, dan ternyata mereka mengalami hal serupa. Saya menyimpulkan bahwa setiap penempuh jalan kebaikan pasti melewati pergulatan batin ini: semakin seseorang mengenal kebenaran, semakin berat pula tantangan untuk istiqomah. Meski ia memahami kewajiban, menguasai ilmunya, bahkan mampu menjelaskannya secara fasih, langkahnya sering kali tertahan.

Tradisi tasawuf memandang kondisi ini bukan sekadar kelemahan moral, melainkan medan ujian yang sangat halus—pertarungan antara ilmu, nafsu, dan kejujuran diri. Dalam psikologi praktis, fenomena ini menunjukkan betapa rapuh regulasi diri ketika pengetahuan tegak tanpa iringan latihan batin dan struktur perilaku yang nyata.

Dari pernyataan Imam Al-Ghazali di atas, saya mencoba mengaitkannya dengan teori “regulasi diri”, yakni sebuah kemampuan manusia untuk menundukkan dorongan sesaat demi tujuan yang lebih tinggi. Psikologi memandangnya sebagai keterampilan mengelola pikiran, emosi, dan perilaku agar selaras dengan nilai-nilai pilihan kita.

Tasawuf menyelam lebih dalam: regulasi diri adalah buah dari mujahadah an-nafs—sebuah perjuangan sunyi melawan dorongan ego yang terus menuntut pemanjaan. Karena itu, kegagalan mengendalikan diri bukan semata tanda kurangnya ilmu, tetapi sering kali tanda bahwa nafs lebih dominan daripada kesadaran ruhani. Ilmu yang seharusnya menjadi penuntun justru kerap menjadi sumber ujian paling berat.

Ilmu yang tidak segera diamalkan perlahan hanya mengeras di kepala, namun tidak menembus hati. Dalam bahasa tasawuf, ilmu semacam ini belum turun dari lisan ke qalb. Di sinilah banyak orang terjebak dalam ilusi spiritual: merasa dekat dengan kebenaran, padahal masih jauh dari kejujuran amal.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas tentang bahaya ketimpangan ini. Dalam surah Ash-Shof ayat 2, Allah berfirman : 

: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2). 

Teguran ini tidak menyasar orang awam yang belum tahu, melainkan mereka yang sudah berilmu namun lalai mengikat diri dengan disiplin amal. Para sufi menyebut kondisi ini sebagai hijab halus—sebuah penghalang yang mengecoh kesadaran karena rasa ‘sudah tahu’ menyamarkannya.. Psikologi praktis memberi penjelasan yang memperkaya pemahaman ini. Banyak orang terperangkap dalam “intention–behavior gap”, yaitu jarak antara niat dan tindakan.

Niat yang baik tidak otomatis menghasilkan perilaku yang konsisten, terutama jika seseorang mengandalkan motivasi semata tanpa membangun kebiasaan. Lebih jauh, konsep “ego depletion” menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan diri dapat melemah ketika seseorang terus-menerus menahan diri tanpa penguatan spiritual atau sistem pendukung. Tasawuf menyebut kondisi ini sebagai jiwa yang kelelahan karena berjuang sendirian tanpa bersandar penuh kepada Allah.

Dalam pandangan tasawuf, masalah utama dari “tahu tapi tidak melakukan” bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya muraqabah—kesadaran bahwa Allah selalu hadir dan menyaksikan. Ketika muraqabah hidup, seseorang tidak hanya bertanya “apa yang benar?”, tetapi “apakah Allah ridha dengan sikapku saat ini?”. Kesadaran inilah yang perlahan melunakkan nafs dan menguatkan regulasi diri dari dalam, bukan sekadar dari tekanan luar.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi fisik, melainkan kemampuan menahan diri saat dorongan emosi memuncak. Dalam praktik sehari-hari, regulasi diri tampak dalam kesediaan untuk menunda kepuasan, menahan reaksi, dan tetap berjalan meski tanpa tepuk tangan. Dalam bahasa psikologi, ini disebut dengan “delayed gratification”, jika dalam bahasa tasawuf, ini adalah adab seorang hamba yang sadar bahwa tidak semua keinginan layak dituruti.

Solusi bagi pergulatan ini tidak pernah instan. Psikologi praktis menekankan pentingnya langkah kecil yang konsisten. Kita perlu membangun rutinitas sederhana dan membuang distraksi guna menata lingkungan yang memicu perilaku baik secara otomatis.. Tasawuf melengkapi ikhtiar ini melalui muhasabah harian, kekuatan istighfar, serta ketekunan beramal meski belum sempurna. Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa berhenti beramal karena merasa belum ikhlas justru menunjukkan kesombongan tersembunyi; sebab, keikhlasan hanya akan tumbuh di tengah amal yang terus kita upayakan.

Pada akhirnya, regulasi diri adalah perjalanan pulang—kembali dari dominasi nafs menuju ketenangan jiwa yang tunduk kepada Allah. Jatuh bukanlah kegagalan sejati, selama seseorang masih mau bangkit dan jujur menata ulang niatnya. Ilmu bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi, tetapi untuk membuat kita lebih tunduk. Dan setiap kali kita gagal melakukan apa yang kita ketahui, di sanalah sebenarnya Allah sedang mengundang kita untuk lebih rendah hati, lebih sadar, dan lebih bersungguh-sungguh dalam menata diri.

Sebab orang yang berhasil bukanlah yang tidak pernah tergelincir, melainkan ia yang tidak berhenti kembali meski telah jatuh puluhan kali. Dan dalam perjalanan regulasi diri, kembali kepada Allah adalah bentuk kekuatan yang paling hakiki.

Penulis : Fauzan sidik