Ponpesgasek.id – Ada satu kalimat yang membuat saya “mak jleb” dan efeknya langsung menusuk: “Ngaji ora butuh kowe, kowe sing butuh.” (Ngaji tidak butuh kamu, kamu yang butuh).
Setelah merenung, saya menyadari makna dalamnya: saat saya absen mengaji, pengajian tetap berjalan, kiai tetap mengajar, kitab tetap terbuka, dan jemaah lain tetap hadir. Ngaji tidak kehilangan apa pun. Justru kitalah yang rugi karena melewatkannya.
Sebab, tujuan mengaji bukan sekadar “hadir”. Lebih dari itu, ngaji adalah cara kita meng-upgrade pola pikir dan mengalibrasi hidup agar iman lebih stabil, ibadah lebih akurat, dan arah hidup lebih jelas. Ngaji itu bagaikan lampu. Jika kita menjauh, pengajian tidak akan menjadi gelap, melainkan jalan hidup kitalah yang kehilangan cahaya.
Kita perlu meluruskan mindset: “ngaji itu kewajiban, bukan pilihan”. Bukan sekadar tuntutan peraturan, bukan agenda jika sempat, bukan “nanti kalau hati lagi mood”. Dalam agama, ada ilmu yang statusnya wajib dipelajari, karena tanpa ilmu, kita gampang salah jalan tapi merasa benar. Al-Qur’an juga memberi isyarat kuat tentang kewajiban memperdalam ilmu agama:
فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 7)
Al-Qur’an menegaskan prinsip yang sangat sederhana tapi tegas, ngaji itu bukan sekadar etika, tapi suatu usaha mencari ilmu pengetahuan agar hidup tidak asal nebak dalam urusan agama dan dalam hal apapun.
Dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ pun menekankan kewajiban ngaji secara gamblang:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani).
Dikuatkan juga oleh hadis sahih yang masyhur :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Dia akan memberinya pemahaman mendalam dalam agama. (HR, Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ menyebut tanda kebaikan yang Allah kehendaki untuk seseorang adalah: diberi pemahaman dalam agama. Artinya, kalau seseorang makin paham agama, itu bukan sekadar agar “alim” atau “pintar”, tapi itu tandanya Allah sedang menunjukkan arah dan jalan pada kebaikan. Jadi satu-satunya jalan kalau kita ingin jadi baik adalah “ngaji”. Tapi gimana kalau keadaanya: “Pengen ngaji, tapi waktuku sempit.?” Oke, kita realistis aja ya: seringnya “nggak ada waktu” itu lebih ke alasan saja, bukan beneran gak ada waktu. Soalnya sempit itu bukan berarti tidak ada, cuma kitanya aja yang nggak pernah bener-bener nyempetin waktu buat ngaji.
Realistisnya kalau kita belum sanggup ngaji tiap hari, nggak masalah. Mulai pelan-pelan: “seminggu sekali” dulu, atau kalau beneran padat banget, “sebulan sekali”. Yang penting, hidup lo jangan sampai “lepas total” dari ngaji. Karena serius bro! kita tuh butuh ngaji, bukan sekadar biar kelihatan religius, tapi biar arah hidup lo lebih tertata. Sejauh apa pun dunia sempat narik lo menjauh dari-Nya, ngaji itu kayak “penunjuk arah” yang bikin lo lebih gampang sadar, balik, dan nge-rem sebelum kebablasan.
Hakikatnya ngaji itu bukan sekedar “duduk di majelis”, tapi esensi dari ngaji adalah ketika ilmu itu berubah jadi cahaya: iman lebih kuat, lebih hati-hati, pikiran lebih waras, lebih kuat menahan diri dari godaan dan fitnah akhir zaman. Ngaji itu bagaikan lampu di jalan gelap. Bukan karena kita suci, tapi karena kita rawan salah. Ngaji itu penjaga iman, bukan hiasan identitas. Oleh karena itu semua orang butuh ngaji. Bukan hanya santri, tapi semua kalangan.
Anak-anak butuh ngaji supaya kenal sholat, wudhu, adab, dan batas benar-salah sejak awal. Pemuda butuh ngaji karena godaan bukan cuma soal maksiat, tapi juga soal pergaulan, dan gaya hidup yang pelan-pelan mengikis iman. Pejabat juga butuh ngaji, agar amanah dan kebijakannya tidak menabrak syariat serta keadilan.
Pebisnis atau pengusaha pun membutuhkan ngaji agar mereka mampu menjalankan usaha yang halal, memastikan transaksi yang jelas, serta menjauhkan diri dari kezaliman, riba, atau tipu daya yang berlindung di balik “strategi marketing”. Politikus wajib mengaji agar setiap ucapannya tidak merugikan banyak orang dan mereka tidak mengorbankan kebenaran demi sekadar pencitraan.
Intinya: tidak ada pengecualian. Apa pun profesi kita, ngaji adalah kewajiban. Kita semua harus sadar bahwa ujung perjalanan hidup ini bukanlah “pensiun”, melainkan kembali kepada Allah dengan selamat.
Sekarang coba kita jujur, jika urusan dunia saja kamu rela lembur mati-matian, urusan hiburan dan nongkrong selalu ada aja celah buat nyempetin, Scroll sosmed yang “katanya cuma lima menit” tapi ujung-ujungnya berjam-jam kamu bisa. Nah giliran semua itu kamu bisa nyempetin, tapi giliran “ngaji” yang jelas-jelas bikin arah hidup lebih aman dan tertuntun, lo malah nggak pernah benar-benar ngusahain?. Dan kalau alasannya “nggak sempat ke majelis” , “gak ada waktu luang ke pengajian”.
Bro! sekarang tuh zamannya udah “serba gampang”!. Nggak bisa offline bukan berarti nggak bisa ngaji. Lo bisa ikut kajian “via streaming”, dengerin “rekaman”, atau nonton “video kajian di YouTube”. Mau sambil perjalanan, sambil beres-beres, atau sebelum tidur juga bisa. Intinya, zaman sekarang itu aksesnya udah gampang dan ada di mana-mana, jadi jangan sampai “nggak sempat” jadi alasan terus, padahal sebenarnya tinggal “pilih dan mulai” saja.
Bro! ngaji itu bukan beban tambahan. Ngaji itu bekal utama. Bukan karena ngaji butuh lo datang, tapi karena lo yang butuh ngaji buat dituntun. Jadi kalau hari ini lo masih diberi kesempatan, jangan tunggu “nanti”. Mulai saja: cari majelis yang cocok, cari guru yang sanad keilmuannya jelas, atur jadwal yang realistis, dan pegang satu prinsip: “Ngaji ora butuh koe, kon sing butuh”. Bukan “Sing penting ngaji, tapi ngaji itu penting”. Untuk apa? Untuk iman lu, keluarga lu, keputusan lu dan akhir hidup lu.
Penulis: Fauzan Sidik

