Ponpesgasek.id – Pada umumnya kita sering mengidentikkan rezeki itu dengan kekayaan berbentuk materi seperti uang, harta atau barang berharga lainnya. Memang tidak salah, namun pemaknaan seperti itu terlalu sempit kalau kita gunakan untuk mendefinisikan makna rezeki, materi atau uang itu hanyalah bagian terkecil dari rezeki.
Jika kita pernah melakukan banyak upaya dalam memperoleh rezeki, ikhtiar usaha sudah, Sholat Duha rajin, baca Al-Waqiah pagi-sore hampir tidak pernah terlewatkan, sedekah walaupun walaupun sedikit sudah, namun kok rezeki tetep aja seret, saldo gak nambah-nambah. Hehe begitulah potret kalau sudut pandang kita memandang rezeki itu hanya materi berupa uang saja.
Lalu apa makna rezeki yang hakiki? mari kita bahas :
Dalam ajaran Islam, rezeki adalah segala suatu yang Allah anugerahkan pada kita meliputi segala aspek dalam kehidupan manusia, baik yang bersifat fisik maupun spiritual. Namun rezeki, juga mencakup karunia-karunia lain. Untuk memahami betapa luasnya makna rezeki, kita perlu melihat melalui kacamata yang lebih jernih. Dalam tasawuf rezeki bukan sekadar tentang memiliki, tapi tentang menjadi dan merasakan.
Tingkat rezeki tertinggi bukanlah materi, melainkan ketetapan iman dan Islam yang menjadi fondasi utama. Setelah itu, kita menikmati kesehatan lahir batin, kebahagiaan keluarga, serta anugerah waktu luang dan perlindungan dari marabahaya.
Hidup terasa lebih indah saat kita memiliki teman dan lingkungan baik yang membawa ketenangan pada hati serta pikiran. Puncaknya, keberkahan hidup terpancar saat kita merasakan kemudahan beribadah dan masih memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu (talabul ilmi). Sebab, itulah cahaya yang menuntun kita kembali ke pelukan-Nya.
Rezeki tidak terbatas hanya sebatas apa yang kita dapatkan, terkadang rezeki juga berbentuk kehilangan. Kehilangan seuatu yang tidak baik buat kita itu jauh lebih bernilai daripada pemberian yang membuat kita lalai yang mendekatkan kita pada dosa. Ketika Allah mengambil sesuatu bukan berati Allah jahat atau pelit pada hambanya, akan tetapi Allah lebih tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik buat ruh kita.
Terkadang rezeki itu tidak selalu manis, terkadang Allah beri rezeki dalam bentuk cobaan untuk menguji kesabaran kita, Allah beri rezeki dalam bentuk nikmat untuk menguji syukur kita, Allah tahan segala hajat kita untuk menguji ketawakalan kita. Dan semua keadaan itu adalah madrasah bagi ruhani kita.
Dalam tasawuf rezeki adalah tajalli (penampakan) sifat Ar-Razzaq pada hidup seorang hamba, rezeki itu datang bukan semata-mata karena kerasnya usaha, tetapi karena Allah berkehendak memberi rezeki. Usaha hanyalah adab, bukan sebab hakiki. Allah menjamin rezeki semua makhluk dumuka bumi ini, sebagaimana termaktub dalam QS. Hud ayat 6 :
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
“Tidak satu pun makhluk yang bergerak di atas muka bumi ini melainkan dijamin rezekinya oleh Allah”
Dalam pandangan tasawuf, rezeki bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan jumlahnya, karena ia tidak akan tertukar, berkurang, maupun lebih. Hal yang sebenarnya menjadi ujian bagi manusia bukanlah pada “ada atau tidaknya” rezeki tersebut, melainkan pada keridaan hati dalam menerimanya. Ujian sejatinya adalah bagaimana cara kita menjemputnya dan sedalam apa rasa syukur kita saat menerimanya.
Meskipun Allah sudah menjamin rezeki, kita tetap harus memenuhi syarat untuk menjemputnya: terus berikhtiar melalui kerja dan doa. Selebihnya, kita bertawakal dan tidak menggantungkan nasib pada usaha semata. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan memutus ketergantungan hati pada apa yang kita upayakan. Tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa.
Rezeki mengalir pada saat hati kita bersih, para sufi mengatakan: “Rezeki tersumbat bukan karena langit tertetutup, tapi karena hati yang penuh keluh kesah dan su’udzon”. Oleh karena itu kunci agar rezeki kita lancar adalah keikhlasan, keridhoan dan hati yang senantiasa husnudzon kepada Allah. Dalam hadist qudsi Allah berfirman : “Aku sesuai perasangka hambaku”, kalau pikiran dan hati kita selalu sumpek dan berprasangka buruk kepada Allah, maka kita juga akan mendapatkan sesuai yang kita prasangkakan, akan tetapi kalau kita senantiasa ikhlas, ridha dan berprasangka baik kepada Allah, Allah akan memberi rezeki sesuai luasnya prasangka baik kita kepada Allah.
Mari kita mengilustrasikan perbedaan dua kondisi manusia dan rezekinya.
Ada sosok Fulan. Ia bergelimang harta dan kemewahan dengan pekerjaan mapan, namun batinnya selalu merasa gelisah. Kecemasan terus menghantui tidurnya. Ia merasa kehilangan waktu untuk beribadah karena seluruh hidupnya habis hanya untuk mengejar urusan dunia.
Di sisi lain, ada Fulanah. Ia menjalani pekerjaan sederhana dengan gaji yang tidak seberapa, namun Allah menjaga kesehatannya dan menempatkannya di tengah orang-orang saleh. Ia mengawali hari dengan perasaan tenang serta mampu meluangkan waktu untuk ibadah dan menuntut ilmu.
Dalam pandangan Tasawuf, justru Fulanah-lah yang memperoleh rezeki dengan nilai tertinggi. Sebab, Fulanah menikmati rezeki batin yang tidak akan pernah bisa tukar dengan materi apa pun.
Baca juga: Hakikat Jodoh dalam Pandangan Tasawuf
Tulisan ini tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan atau membatasi seseorang untuk menjadi kaya. Sejatinya, seorang Muslim memang dianjurkan untuk kaya demi menegakkan syiar agama, mengingat di zaman sekarang materi menjadi salah satu wasilah (sarana) yang penting. Namun, kita perlu sadar bahwa rezeki itu tidak selalu mewujud dalam bentuk materi semata. Hal ini menjadi pengingat bagi kita yang terkadang merasa rendah diri (insecure) melihat pencapaian orang lain yang bergelimang harta.
Kita harus sadar bahwa diri kita menyimpan limpahan rezeki tak ternilai yang patut kita syukuri. Meski hidup sederhana dengan pekerjaan yang hanya cukup untuk makan, kita tetaplah kaya jika masih mampu bersedekah, memiliki hati yang tenang, serta beribadah dengan leluasa.
Bahkan, memiliki kesempatan untuk tetap ‘ngaji’ di pondok pesantren adalah anugerah yang luar biasa. Sebab, di luar sana banyak orang memendam keinginan kuat untuk menuntut ilmu, namun keterbatasan waktu dan tuntutan pekerjaan menghalangi langkah mereka.
Oleh karena itu, Rezeki yang hakiki dalam pandangan tasawuf itu bukan sebatas apa yang masuk ke genggaman kita, tapi apa yang menenangkan jiwa kita. Intinya, orang yang paling kaya bukanlah orang yang paling banyak hartanya, melainkan ia yang Allah cukupkan hatinya.
Baca juga: Esensi Pernikahan dalam Pandangan Tasawuf
Penulis: Fauzan Sidik

