Menenun Doa di Sela Suapan: Tradisi Kirim Al-Fatihah Sebelum Makan

Ponpesgasek.id – Dalam pandangan Islam, makan bukan sekadar aktivitas biologis untuk mengenyangkan perut, melainkan sarana ibadah untuk mendapatkan kekuatan dalam beraktivitas. Islam mengajarkan adab yang sangat mulia sebelum tangan menyentuh hidangan. Hal ini dimulai dengan mencuci tangan, duduk dengan rendah hati, menggunakan tangan kanan dan yang paling utama adalah menyebut nama Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:

 إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala (Membaca Bismillah). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal, hendaklah ia mengucapkan: Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).”

Adab ini mengingatkan kita bahwa setiap butir nasi yang kita santap adalah pemberian dari-Nya yang harus diawali dengan rasa syukur dan kesadaran spiritual.

Menghubungkan Rasa Kenyang dengan Rasa Syukur pada Leluhur

Di tengah keluarga kami, ada satu tradisi indah yang selalu kami selipkan tepat sebelum doa makan dipanjatkan. Kami membudayakan untuk “menghadiahkan” bacaan Surah Al-Fatihah kepada para leluhur, seperti kakek, nenek, ayah, ibu serta para guru yang telah mendahului kita. Amalan ini bukan tanpa alasan; ini adalah bentuk nyata rasa syukur kami kepada Allah SWT. Kami menyadari bahwa orang tua kandung adalah “washilah” utama keberadaan kita lahir ke dunia dan Guru adalah orang tua batin yang menjadi “washilah” kita dalam mengenal dan memahami agama Allah. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Luqman ayat 14:

 أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

 “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Dengan mengirimkan Al-Fatihah kepada mereka, berarti kita sedang menjalankan perintah Allah dengan bersyukur kepada-Nya dan berterimakasih kepada orang tua serta guru yang banyak berjasa kepada kita.

Hadiah Terindah untuk Mereka yang Telah Tiada

Alasan mendalam kenapa kita harus menghadiahi fatihah buat mereka yang telah mendahului kita adalah kesadaran bahwa yang mereka butuhkan di alam barzakh bukan lagi hadiah berupa kado, perhiasan, atau harta duniawi. Satu-satunya “kiriman” yang mereka tunggu-tunggu dari keluarga, anak, cucu dan muridnya hanyalah doa. Dalam hadis riwayat Ad-Dailami disebutkan:

إِنَّ الْمَيِّتَ فِي قَبْرِهِ كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ دَعْوَةً مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ، فَإِذَا أَتَتْهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Sesungguhnya mayat di dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang meminta pertolongan. Ia menunggu doa dari ayah, ibu, anak, atau sahabatnya. Apabila doa itu sampai kepadanya, maka doa tersebut lebih ia sukai daripada dunia dan seisinya.” (HR. Ad-Dailami)

Bayangkan kebahagiaan roh mereka saat mendengar nama-nama itu terselip dalam doa kita. Kiriman doa tersebut bagaikan oase di tengah penantian panjang mereka, sebuah bukti bahwa mereka tetap diingat dan dicintai oleh keturunan serta murid yang ditinggalkan.

Memutus Jarak dengan Doa Anak Sholeh

Pentingnya doa seorang anak kepada orang tuanya ditegaskan dengan sangat jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, seluruh amal perbuatannya akan terputus dan tidak lagi dapat ia tambahkan sendiri. Namun demikian, Allah SWT masih membuka tiga pintu kebaikan yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba meskipun ia telah wafat, sebagaimana sabda beliau:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Doa tersebut bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk bakti yang terus hidup meskipun orang tua telah tiada. Oleh karena itu, kita tidak sebaiknya mengukur kesalehan hanya melalui ibadah pribadi. Namun, kita juga perlu menilai kualitas tersebut berdasarkan kesetiaan dalam menjaga hubungan spiritual dengan orang tua dan guru.

Salah satu caranya adalah melalui untaian doa, istighfar, serta persembahan amal kebaikan atas nama mereka. Melalui cara inilah, anak dan murid merawat ikatan kasih agar tetap terjaga. Bahkan, ikatan tersebut akan tetap abadi melampaui batas kehidupan dunia.

Melestarikan Warisan Kasih Sayang

Budaya menghadiahkan Al-Fatihah ini terus kami jaga hingga subur dalam keluarga. Dalam hal ini, Nenek dan Ibu menjadi sosok yang paling gigih mengingatkan kami agar tidak pernah melupakan leluhur. Bahkan, Ibu pernah berpesan, “Nak, saat mendapat nikmat atau menyantap makanan enak, hadiahkanlah Al-Fatihah untuk leluhur agar mereka merasakan kenikmatan serupa. Selain itu, jika nanti Bapak atau Ibu sudah tiada, jangan lupa kirimkan doa yang sama.”

Sehubungan dengan itu, kami selalu mengingat pesan tersebut di dalam kepala. Lebih lanjut, mereka menekankan sebuah prinsip penting. Singkatnya, setinggi apa pun jabatan atau sebanyak apa pun harta kita, kita tetaplah anak dan cucu yang berutang budi kepada mereka. Tata cara yang kami amalkan sangat sederhana, yaitu sebelum memulai makan, kami selalu membaca:

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَإِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ (……) غَفَرَ اللَّهُ ذُنُوبَهُمْ وَنَوَّرَ قُبُوْرَهُمْ وَسَتَرَ عُيُوْبَهُمْ وَجَعَلَ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُمْ. الْفَاتِحَةُ

Artinya: Teruntuk yang terhormat Nabi pilihan, junjungan kita Muhammad SAW, beserta keluarga, istri, anak, dan keturunannya. Dan kepada seluruh ahli kubur dari kaum muslimin, muslimat, mukminin, dan mukminat, khususnya kepada ruh… (Sebutkan Nama). Semoga Allah mengampuni dosa mereka, menerangi kubur mereka, menutupi aib mereka, dan menjadikan surga sebagai tempat tinggal mereka. Al-Fatihah.

Baca juga: Ngaji ora Butuh Koe, Koe sing Butuh Ngaji

Mengirimkan Al-Fatihah sebelum makan adalah cara paling praktis untuk menjaga bakti kepada leluhur, orang tua, dan guru. Hal ini mudah dilakukan karena kita pasti butuh makan. Melalui cara ini, makanan yang masuk ke tubuh akan menjadi berkah. Selain itu, pahala yang dikirimkan pun menjadi cahaya bagi mereka di alam kubur.

Jangan biarkan sehari pun berlalu tanpa menyebut nama mereka dalam doa. Ingatlah, suatu saat nanti kita akan berada di posisi yang sama. Kita akan menanti doa tulus dari anak, cucu, dan murid-murid kita. Mari jadikan doa sebagai jembatan kasih sayang yang tidak akan putus oleh maut.

Penulis : Fauzan Sidik