Ponpesgasek.id – Pernahkah kalian mengalami hal berat dalam hidup, sehingga muncul pertanyaan lirih namun mengguncang batin “kenapa ini harus terjadi pada saya?” atau “kenapa harus saya yang mengalaminya?” Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya muncul saat realitas tidak sejalan dengan harapan, ketika ujian datang tanpa pernah terbayangkan dan ketika usaha terasa sia-sia. Dalam tasawuf, pertanyaan semacam ini bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan pintu awal pencarian makna yang lebih dalam tentang hubungan hamba dengan Tuhannya, sekaligus undangan untuk menengok hakikat takdir secara lebih jernih dan menenangkan.
Takdir dalam Islam adalah ketetapan Allah SWT atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik yang telah berlalu, sedang terjadi, maupun yang akan datang, dan mempercayai takdir—baik dan buruknya—merupakan bagian dari rukun iman yang lima. Dalam perspektif tasawuf, takdir bukan sekadar nasib yang memaksa manusia pasrah tanpa daya, melainkan skema ilahi yang sarat hikmah, di mana setiap kejadian memiliki tujuan mendidik jiwa.
Secara psikologis, keyakinan terhadap takdir membantu manusia menerima realitas hidup dengan lebih adaptif, mengurangi kecemasan berlebih, dan menumbuhkan resiliensi ketika menghadapi kegagalan atau kehilangan.
Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal dua jenis takdir, yaitu takdir mubram dan takdir mu‘allaq. Takdir mubram adalah ketentuan Allah yang bersifat mutlak dan tidak berubah, seperti kelahiran, kematian, atau asal-usul seseorang, misalnya seseorang lahir di keluarga sederhana atau wafat pada waktu tertentu yang hanya Allah ketahui.
Sementara itu, takdir mu‘allaq adalah ketetapan yang terkait dengan ikhtiar dan doa manusia, seperti rezeki, keberhasilan, atau kesehatan; contohnya seseorang yang terlahir miskin namun dengan usaha, doa, dan pendidikan yang sungguh-sungguh, Allah melapangkan rezekinya. Dalam psikologi, pemahaman ini menumbuhkan keseimbangan antara penerimaan dan tanggung jawab, bahwa ada hal yang perlu diterima dan ada pula yang harus diupayakan.
Menurut para ulama tasawuf, hakikat takdir tidak selalu bisa dijangkau oleh logika manusia yang terbatas. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan bahwa takdir adalah ketetapan paling sempurna meskipun tidak selalu dipahami oleh akal manusia, dan tidak ada satupun yang terjadi di alam ini kecuali telah ditakar dengan hikmah. Ia menegaskan bahwa ikhtiar manusia sendiri merupakan bagian dari takdir Allah, sehingga menyalahkan takdir sejatinya menunjukkan bahwa hamba tersebut belum mengenal kebijaksanaan Allah.
Baca juga: Hakikat Do’a dalam Pandangan Tasawuf
Ketika seseorang gagal dalam usaha lalu tenggelam dalam penyesalan dan kemarahan, tasawuf mengajaknya naik satu tingkat kesadaran: berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya dengan lapang, karena keyakinan bahwa Allah tidak mungkin keliru akan membuat hati jauh lebih tenang.
Kesadaran bahwa usaha manusia pun termasuk ketentuan Allah kembali ditegaskan oleh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam, ketika ia berkata, “Istirahatkanlah dirimu dari mengatur urusan, karena apa yang telah diatur oleh selainmu tidak perlu disibukkan.” Pesan ini bukan ajakan untuk malas, melainkan undangan untuk tidak terjebak pada ilusi kontrol berlebihan. Dalam praktiknya, seseorang yang terlalu gelisah karena hasil di luar rencana—misalnya karier yang tidak berkembang meski sudah bekerja keras—sering kali menunjukkan bahwa hatinya masih ingin menguasai takdir, padahal ketenangan justru hadir ketika usaha dilakukan dengan ikhlas dan hasil diserahkan sepenuhnya kepada Allah
Sikap batin ideal terhadap takdir juga dijelaskan oleh Imam Junaid Al-Baghdadi yang berkata, “Ridha adalah tidak menolak ketentuan Allah sebelum dan sesudah terjadinya.” Artinya, sebelum sesuatu terjadi seseorang tidak berlebihan dalam angan-angan hingga menggantungkan kebahagiaan pada satu skenario, dan setelah terjadi ia tidak tenggelam dalam penyesalan atau protes. Contohnya, seseorang yang gagal menikah dengan orang yang dicintainya atau kehilangan orang tua maupun anak kandung, namun tetap menjaga adab kepada Allah, tidak larut dalam keputusasaan, dan menerima bahwa ada kebaikan yang belum ia pahami—sikap semacam ini dalam psikologi dikenal sebagai penerimaan matang terhadap realitas.
Lebih jauh lagi, Ibnu ‘Arabi memandang takdir sebagai perwujudan Asma’ Allah dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang diuji, di sana hadir nama Allah Al-Hakim; saat hidup terasa sempit, ada Al-Qabidh; dan ketika lapang, tampak Al-Basith. Maka orang ‘arif tidak lagi bertanya “mengapa aku diuji?”, melainkan “nama Allah apa yang sedang Allah perkenalkan kepadaku melalui peristiwa ini?”. Cara pandang ini mengubah krisis menjadi ruang pengenalan diri dan Tuhan, yang secara psikologis menumbuhkan makna di tengah penderitaan.
Lalu jika semuanya telah ditakdirkan, untuk apa manusia berdoa? Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa doa bukanlah sarana untuk mengubah kehendak Allah, melainkan cara Allah mengubah hati hamba agar selaras dengan kehendak-Nya. Ketika seseorang berdoa dalam kondisi sakit, misalnya, mungkin sakit itu tidak langsung hilang, tetapi hatinya menjadi lebih sabar, lebih dekat kepada Allah, dan lebih mampu menerima keadaan, sehingga doa berfungsi sebagai terapi spiritual yang menenangkan jiwa.
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengapa hamba yang taat dan baik tetap diberi ujian?. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa Allah tidak menguji hambanya untuk menghancurkan, tetapi untuk membersihkan; ujian datang bukan karena Allah membenci, melainkan untuk mengangkat derajat dan mengosongkan hati dari selain-Nya. Seperti emas yang dimurnikan dengan api, seorang hamba yang diuji kehilangan kenyamanan dunia agar hatinya lebih jujur bergantung kepada Allah, sebuah proses yang dalam psikologi disebut sebagai pertumbuhan melalui penderitaan.
Baca juga: Seni Bertani Ruhani: Menanam di Bulan Rajab, Memanen di Ramadhan
Para sufi juga menyebutkan tanda-tanda hati yang ridha terhadap takdir, yaitu tidak sibuk lagi bertanya “kenapa aku”, lisan tidak gemar mengeluh, ibadah tetap berjalan meski hati sedang lelah, serta masih mampu berbaik sangka di tengah luka. Ridha bukan berarti tidak merasakan sakit, tetapi tidak menyalahkan Allah saat sakit itu datang, sebagaimana seseorang yang berduka tetap menangis namun tidak kehilangan kepercayaan kepada Tuhannya.
Satu pegangan penting dalam tasawuf adalah keyakinan bahwa apapun yang Allah pilihkan itulah yang terbaik bagi hamba-Nya, meskipun belum tentu sesuai dengan keinginan atau kesukaan kita. Banyak orang baru menyadari hikmah ini setelah waktu berlalu, ketika kegagalan masa lalu justru mengantarkannya pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.
Memahami takdir dalam pandangan tasawuf mengajak kita berdamai dengan kehidupan tanpa kehilangan semangat berusaha, menerima tanpa menyerah, dan berserah tanpa putus asa. Ketika hati yakin bahwa Allah Maha Bijaksana dan tidak pernah salah menetapkan sesuatu, beban hidup terasa lebih ringan dan langkah menjadi lebih mantap. Maka teruslah melangkah, berdoa, dan berikhtiar dengan tenang, karena di balik setiap takdir selalu ada cinta Allah yang sedang bekerja membentuk kita menjadi hamba yang lebih dewasa dan lebih dekat kepada-Nya.
Sumber referensi : Postingan tiktok @Wahyu Khaerudin
Penulis : Fauzan Sidik

