Hakikat Hari Raya Idul Fitri dalam Pandangan Tasawuf

Hari Raya Idul Fitri merupakan salah satu hari besar dalam Islam yang dirayakan setelah umat Muslim menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Secara lahiriah, Idul Fitri identik dengan kegembiraan, saling bermaafan, berkumpul bersama keluarga, serta mengenakan pakaian baru.

Namun, Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa hakikat hari raya bukan sekadar perayaan lahiriah. Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (Ramadhan), serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa esensi Idul Fitri adalah rasa syukur dan pengagungan kepada Allah atas keberhasilan menjalani proses spiritual di bulan Ramadhan.

Makna “kembali” dan Idul Fitri sebagai Puncak Perjalanan Spiritual

Secara bahasa, kata “Ied” (عيد) berarti “kembali”. Namun dalam perspektif tasawuf, makna “kembali” bukanlah kembali kepada makan, minum, dan kesenangan duniawi, melainkan: kembalinya hati kepada Allah setelah sebelumnya condong kepada dunia. Maka, Idul Fitri adalah momentum kembalinya hati kepada ketenangan sejati, yaitu ketika ia hanya bergantung kepada Allah semata. Dalam pandangan tasawuf, Idul Fitri bukan sekadar hari raya, melainkan puncak dari perjalanan ruhani seorang hamba menuju Allah. Setelah melewati perjalanan panjang dan tahapan-tahapan spiritual, diawali bulan Rajab sebagai bulan takhalli (pengosongan diri dari sifat tercela), kemudian bulan Sya’ban sebagai bulan tahalli (menghias diri dengan amal kebaikan) dan puncaknya di bulan Ramadhan sebagai bulan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan Idul Fitri sebagai momen panen tajalli (tersingkapnya cahaya ilahi dalam hati). Dengan demikian, Idul Fitri adalah “kelahiran baru” bagi jiwa yang telah melalui proses panjang pemurnian diri. Ia bukan sekadar kembali ke rutinitas dunia, tetapi kembali dalam keadaan hati yang lebih dekat kepada Allah.

Hakikat Hari Raya Menurut Para Ulama

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

    :قال الحافظ بن رجب رحمه الله   

 ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب، إنما العيد لمن غفرت له الذنوب، في ليلة العيد تفرق خلق العتق والمغفرة على العبيد فمن ناله منها شيء فله عيد وإلا فهو مطرود بعيد – “لطائف المعارف”۲۷۷ 

“Bukanlah hari raya (Idul Fitri) bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi hari raya adalah bagi orang yang bertambah ketaatannya. Bukanlah hari raya bagi orang yang berhias dengan pakaian dan kendaraan, tetapi hari raya adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya. Pada malam hari raya, dibagikan pembebasan (dari neraka) dan ampunan kepada para hamba. Maka siapa yang mendapatkan bagian darinya, itulah hari rayanya. Dan siapa yang tidak mendapatkannya, maka ia termasuk orang yang terusir dan jauh (dari rahmat Allah).”

Dalam tasawuf, seseorang yang benar-benar sampai pada hakikat Idul Fitri akan menunjukkan perubahan batin, diantaranya: Hatinya menjadi lembut dan mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, mudah menangis karena rasa takut dan cinta kepada Allah, merasa kecil dan hina di hadapan-Nya, tidak bangga dengan amal ibadahnya dan tetap istiqomah setelah Ramadhan, tidak menurun drastis. 

Sebagaimana dikatakan oleh para ulama salaf: 

جَزَاءُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا

 “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”

Artinya, tanda diterimanya amal Ramadhan adalah keberlanjutan amal tersebut setelahnya, yang tadinya sholatnya malas-malasan, menjadi rajin, yang jarang baca al-Quran, jadi sering baca Qur’an, yang jarang sedekah, jadi rajin sedekah.

Dalam perspektif yang lebih dalam, para ahli ma’rifat memandang bahwa Idul Fitri tidak terikat waktu. Bagi mereka setiap hari adalah Idul Fitri, karena hati mereka selalu kembali kepada Allah. Salah satu maqolah ulama tasawuf menyebutkan: “Orang yang mengenal Allah, tidak menunggu musim untuk dekat kepada-Nya.” Mereka tidak menunggu Ramadhan untuk beribadah, karena hati mereka senantiasa hadir bersama Allah dalam setiap keadaan.  

Hakikat Idul Fitri bukan sekadar “kembali suci”, tetapi kembalinya seorang hamba dari dirinya menuju Allah. Bahkan dalam pandangan tasawuf yang lebih halus, bukan kita yang sampai kepada Allah, tapi Allah yang menarik kita kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah adalah anugerah, bukan sekadar hasil usaha.

Silaturahmi Penyempurna Kesucian Jiwa

Tradisi saling memaafkan dan bersilaturahmi pada Idul Fitri bukan hanya sekedar budaya sosial, tetapi memiliki dimensi spiritual yang dalam. Tasawuf mengajarkan bahwa cinta kepada sesama adalah cerminan cinta kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: 

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Dari Anas dari Nabi Saw bersabda: Tidaklah beriman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari).

Dengan demikian, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia adalah bagian dari penyucian jiwa. Idul Fitri menjadi momentum terbaik untuk menyempurnakan dua hubungan sekaligus: yakni Hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum minannas (hubungan dengan manusia)

Idul Fitri dalam pandangan tasawuf bukanlah sekadar hari perayaan, melainkan puncak perjalanan ruhani menuju Allah. Ia adalah momentum kembalinya hati, bersihnya jiwa, dan terbukanya cahaya ilahi dalam diri seorang hamba. Maka, orang yang benar-benar berhari raya adalah mereka yang ketaatannya bertambah, dosa-dosanya diampuni dan hatinya kembali sepenuhnya kepada Allah.

Semoga kita termasuk golongan yang mendapatkan hakikat Idul Fitri, bukan hanya sekadar merayakan bentuk lahiriyahnya.

Penulis : Fauzan Sidik

(Sumber feferensi : Postingan Tiktok @wahyukhoeruddin @kanjeng sf)