Hakikat Do’a dalam Pandangan Tasawuf

Dalam perspektif fikih, do’a sering dipahami sebagai thalabul hajat, yakni permohonan seorang hamba kepada Allah agar diberikan apa yang diinginkan atau dihindarkan dari sesuatu yang tidak diharapkan. Pemahaman ini tidak keliru, namun dalam khazanah tasawuf, makna do’a melampaui sekadar permintaan. Do’a dipahami sebagai ibadah hati, sebuah ekspresi kefakiran dan ketergantungan total seorang hamba kepada Allah SWT. Tujuan utama do’a bukan semata-mata hasil, melainkan kedekatan dengan Allah, karena hakikat ibadah bukan pada apa yang didapat, tetapi pada kepada siapa ibadah itu diarahkan.

Allah SWT berfirman : 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ 

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60). 

Ayat ini dengan jelas menyandingkan do’a dengan ibadah, bahkan meninggalkan do’a dipandang sebagai bentuk kesombongan. Di sinilah para sufi memandang bahwa do’a adalah pengakuan batin bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun di hadapan Allah.

M. Faiz Syukron Ma’mun menegaskan bahwa hakikat do’a bukanlah meminta, melainkan beribadah. Do’a menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat membutuhkan Allah. Oleh sebab itu, orang yang tidak pernah berdo’a justru dimurkai Allah, karena sikap tersebut mencerminkan perasaan mampu menghadapi hidup tanpa pertolongan-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini semakin menegaskan bahwa do’a bukan sekadar alat mencapai tujuan, tetapi inti dari penghambaan itu sendiri.

Para ulama sufi mengajarkan bahwa do’a bukan bertujuan untuk “memberitahu” Allah tentang kebutuhan seorang hamba, karena Allah Maha Mengetahui bahkan sebelum hamba itu berdo’a. Ketika seseorang sakit lalu berdo’a, “Ya Allah, aku sakit maka sembuhkanlah aku,” sejatinya bukan karena Allah belum tahu keadaannya. Kesembuhan itu sendiri adalah bagian dari rahmat dan kehendak Allah. Namun do’a tersebut adalah bentuk pengakuan bahwa sang hamba tidak memiliki daya apa pun untuk sembuh kecuali dengan izin-Nya. Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam mengingatkan, “Jangan sampai do’amu menjadikanmu memahami bahwa pemberian itu terjadi karena do’amu.” Sebab jika seseorang merasa bahwa sesuatu dikabulkan karena kekuatan do’anya, maka akan muncul benih kesombongan. Padahal kalimat “La haula wa la quwwata illa billah” itu seharusnya menafikan semuanya.

Oleh karena itu, para ulama menanamkan pemahaman bahwa do’a adalah ibadah itu sendiri. Misalnya ketika seorang hamba berdo’a “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah”, berarti ia sedang menegaskan posisi dirinya sebagai hamba yang lemah, fakir, dan tidak memiliki kemampuan apa pun tanpa pertolongan Allah. Al-Qur’an menyatakan, “Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15). Kesadaran akan kefakiran inilah yang menjadi ruh do’a dalam tasawuf.

Karena do’a adalah ibadah, maka menunggu jawaban dari Allah pun termasuk ibadah. Ketika do’a dikabulkan, seorang hamba mendapatkan kebahagiaan. Namun ketika belum atau tidak dikabulkan, ia tetap berada dalam nilai ibadah melalui kesabaran, pengharapan, dan husnuzan kepada Allah. Dalam proses menunggu itulah sering kali seorang hamba justru merasakan kedekatan batin yang mendalam dengan Tuhannya, sebuah kenikmatan spiritual yang tidak bisa diukur dengan hasil lahiriah semata.

Pekan lalu, penulis mengikuti sebuah kajian Santrendelik di Kota Semarang bersama Ustadz Dr. Ahmad Tajuddin Arafat, M.S.I., dalam kajian tersebut sedikit membahas tentang makna firman Allah : ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ (Ud’uuni astajib lakum). Selama ini mungkin yang sering kita pahami makna dari kalimat tersebut “Aku akan mengabulkan,” padahal secara bahasa lebih tepat diartikan “Aku akan menjawab.”, Oleh karena itu jawaban itu tidak selalu berupa “iya”, melainkan bisa juga “tidak” atau “ditunda”. Allah memiliki hak prerogatif penuh untuk menjawab atau tidak do’a kita. karena Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Al-Qur’an menegaskan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Mengutip dari kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, KH. Enuh Nawawi menyampaikan, dulu para ulama sufi mengatakan bahwa jika niat seseorang berdo’a semata-mata agar do’anya diijabah, maka hal itu justru merusak kesempurnaan ibadah. Sebab berarti ia memiliki tujuan lain dalam ibadah selain Allah SWT. Dalam tasawuf, kemurnian niat adalah inti dari segala amal. Do’a yang murni adalah do’a yang diarahkan kepada Allah semata, bukan kepada hasil.

Gus Baha juga menjelaskan bahwa para ulama sufi memandang do’a sebagai mukhkhul ‘ibadah—intisari ibadah. Do’a adalah wujud kerendahan hati dan pengakuan kelemahan di hadapan Allah, dan merasa lemah itu sendiri adalah ibadah. Abdullah Al-Haddad menyatakan dalam syairnya bahwa berdo’a hanyalah bukti bahwa seorang hamba membutuhkan Allah, bukan karena kepentingan mustajab atau tidaknya do’a tersebut. Para wali Allah sejak awal tidak disibukkan oleh pertanyaan apakah do’anya dikabulkan atau tidak, melainkan sibuk menjaga adab dan kehadiran hati di hadapan Allah.

Sebaliknya, Gus Baha mengingatkan bahwa do’a yang disertai sikap protes, seperti menyalahkan Allah karena do’a tidak dikabulkan, justru menjadikan do’a itu berubah menjadi “do’a kriminal”. Seakan-akan seorang hamba memaksa dan mengatur Allah sesuai kehendaknya. Padahal ulama sufi menegaskan bahwa do’a yang benar adalah do’a yang tidak menuntut dan tidak mengatur Allah, melainkan berserah diri sepenuhnya kepada pilihan-Nya. Dikabulkan atau tidak bukanlah urusan hamba, karena tugas hamba hanyalah berdo’a sebagai bentuk ibadah.

Dalam tasawuf, do’a adalah tanda ma’rifat kepada Allah. Seseorang yang benar-benar mengenal Allah akan sadar bahwa dirinya fakir mutlak, sementara Allah Maha Kaya. Do’a bukan untuk memberitahu Allah tentang kebutuhan hamba, melainkan untuk menegaskan kefakiran itu sendiri. Para sufi berkata, “Do’amu bukan untuk menjelaskan kebutuhanmu kepada Allah, tetapi untuk menampakkan kehinaan dan ketergantunganmu di hadapan-Nya.”

Orang awam sering memandang puncak do’a sebagai kemampuan mengubah keadaan dan mewujudkan harapan. Namun dalam tasawuf, puncak do’a justru terletak pada perubahan batin. Sebelum takdir berubah, hati telah lebih dahulu tenang, ridha, dan pasrah. Ketika hati telah sampai pada ridha, itulah hakikat ijabah yang sesungguhnya, meskipun keadaan lahiriah belum berubah.

Tingkatan tertinggi do’a dalam tasawuf bukanlah sibuk meminta, melainkan sibuk bersimpuh di hadapan Allah. Do’a tidak lagi berisi daftar keinginan duniawi, tetapi berubah menjadi pengakuan cinta dan kecukupan. Seorang hamba tidak lagi berkata, “Ya Allah, berikan aku ini dan itu,” melainkan sudah, “Ya Allah, Engkau saja sudah cukup bagiku.” Inilah maqam tawakkal dan ridha, sebagaimana firman Allah, “Bukankah Allah itu cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36).

Dengan demikian, tasawuf mengajarkan kepada kita bahwa do’a bukanlah transaksi, melainkan relasi. Do’a bukan alat memaksa takdir, melainkan jalan mengenal diri dan mengenal Tuhan. Semakin seseorang memahami hakikat do’a, semakin ia tenang, rendah hati, dan pasrah dalam menjalani hidup. Maka marilah kita terus berdo’a, bukan karena ingin memastikan hasil, tetapi karena kita sadar bahwa tanpa Allah, kita bukan apa-apa. Dalam kepasrahan itulah justru terletak kebahagiaan sejati, dan dalam kerendahan hati itulah seorang hamba benar-benar dekat dengan Rabb-nya.

Penulis : Fauzan Sidik

(Sumber referensi : Kajian Santridelik Bersama Uts. Dr. Tajudin Arafat, M.S.I. (Jum’at, 6 Feb 2026),  Tiktok @Wahyu Hoerudin, KH. Enuh Nawawi dalam postingan Tiktok @Coretan Budak Assalaf, Gus Baha dalam postingan Tiktok @INISIAL_M, KH. M. Faiz Syukron ma’mun postingan tiktok @DAKWAH_ONLINE)