Ponpesgasek.id – Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah Yang Mahamulia. Oleh karena itu, Allah SWT akan memuliakan, mengangkat derajat, dan memberikan keutamaan kepada segala sesuatu yang memiliki kaitan dengan Al-Qur’an. Berikut ini beberapa bukti yang dapat kita renungkan bersama :
Pertama, Malaikat. Malaikat adalah makhluk Allah yang jumlahnya sangat banyak dan memiliki tugas masing-masing. Namun di antara seluruh malaikat, Malaikat Jibril AS menempati kedudukan yang paling mulia. Ia dikenal sebagai pemimpin para malaikat dan diberi gelar Rūḥul Amīn (ruh yang terpercaya). Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin ke dalam hatimu (Muhammad), agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 192–194). Kemuliaan Malaikat Jibril tidak lain karena tugas agungnya sebagai perantara turunnya Al-Qur’an dari Allah kepada Rasul-Nya. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dan keterlibatan dengan Al-Qur’an menjadi sebab utama kemuliaan.
Kedua, Nabi Muhammad SAW. Dari sekian banyak nabi dan rasul yang diutus Allah, Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul yang paling mulia dan menjadi pemimpin para nabi, sehingga beliau digelari Sayyidul Anbiya wal Mursalin. Salah satu sebab utama kemuliaan beliau adalah karena beliau adalah nabi yang menerima mukjizat terbesar dan terakhir, yaitu Al-Qur’an.
Mukjizat para nabi terdahulu bersifat temporer dan hanya menyentuh umat pada zamannya. Sebaliknya, Al-Qur’an menjadi mukjizat abadi yang terus tegak hingga hari kiamat. Allah SWT berfirman: ‘Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.’ (QS. An-Nahl: 64). Melalui Al-Qur’an, Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW, memuliakan nama beliau, dan menyebarkan risalahnya untuk seluruh umat manusia.
Baca juga: Ramadhan, Bulan Kitab-Kitab Suci Diturunkan
Ketiga, Tempat. Makkah Al-Mukarramah meraih kedudukan sebagai kota paling mulia di muka bumi karena menjadi saksi tempat Allah pertama kali menurunkan Al-Qur’an. Allah SWT sendiri bersumpah atas kemuliaan kota ini dalam firman-Nya: “Aku bersumpah dengan negeri ini (Makkah).” (QS. Al-Balad: 1). Makkah bukan hanya tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pusat ibadah umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Kota ini menjadi tempat berdirinya Ka‘bah, kiblat umat Islam, sekaligus tempat umat Islam menunaikan rukun Islam kelima, yaitu haji. Segala kemuliaan tersebut semakin kuat karena hubungan eratnya dengan Al-Qur’an.
Keempat, waktu. Di antara dua belas bulan dalam setahun, bulan Ramadhan adalah bulan yang paling mulia. Kemuliaan Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa turunnya Al-Qur’an, yang dikenal dengan istilah Nuzulul Qur’an. Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil).” (QS. Al-Baqarah: 185). Karena itu, Ramadhan dijuluki sebagai Sayyidus Syuhur (pemimpin seluruh bulan), Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), dan Syahrul Maghfirah (bulan ampunan). Semua julukan ini menegaskan bahwa kemuliaan Ramadhan ada kaitan erat dengan Al-Qur’an.
Kelima, Malam. Malam Lailatul Qadr adalah malam yang paling mulia. Kemuliaan malam ini bersumber dari peristiwa turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Allah SWT secara khusus mengabadikan keagungan malam ini dalam satu surat tersendiri, yaitu Surat Al-Qadr. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr. Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3). Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadr memiliki keutamaan yang melebihi seribu bulan. Hal ini karena Allah menurunkan Al-Qur’an pada malam tersebut serta melipatgandakan pahala amal saleh bagi hamba-Nya. Hal ini semakin menegaskan bahwa kemuliaan malam Lailatul Qadr bersumber dari Al-Qur’an, sehingga ia menjadi malam terbaik sepanjang masa, malam penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah SWT.
Keenam, umat. Umat Islam disebut sebagai umat terbaik sebagaimana firman Allah SWT: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110). Rasulullah SAW bersabda: “Kalian menyempurnakan tujuh puluh umat, kalian adalah yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah.” (HR. Tirmidzi). Salah satu sebab utama kemuliaan umat ini adalah karena Allah menganugerahkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kepada kita umat Nabi Muhammad SAW. Ya, kita menyandang kemuliaan ini karena kita menerima anugerah sempurna yang tidak pernah umat-umat sebelumnya peroleh. Maka selama kita selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an, selama itu pula kita akan menjadi umat paling mulia.
Ketujuh, manusia. Rasulullah SAW bersabda: “خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ” yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa kita tidak mengukur kemuliaan seseorang dari harta, jabatan, atau keturunan, melainkan dari kedekatan individu tersebut dengan Al-Qur’an. Baik itu dengan membaca, menghafal, memahami, mengajarkan atau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah jalan menuju kemuliaan sejati di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi mulia, usahakan harus dekat al-Qur’an, minimal jangan pernah lewatkan seharipun tanpa membacanya.
Sebagai tambahan, disini penulis sedikit menghadirkan bukti lain dari kemuliaan dan barokahnya seorang ahlul qur’an, salah satunya dari buku yang penulis baca yaitu “Psikologi Santri Penghafal Al-Qur’an: Peranan Regulasi Diri” yang ditulis oleh Lisa Chairani dan M.A. Subandi (2010). Buku ini adalah penelitian tesis yang kemudian jadi sebuah buku. Dari apa yang saya baca pada buku tersebut, mayoritas ahlul quran itu hidupnya mulia dan barokah. Buku tersebut menjelaskan bahwa santri yang menjadi ahlul quran memiliki kemampuan lebih baik dalam mengontrol emosi, memiliki jiwa yang lebih tenang, dan tidak mudah berputus asa. Orang yang menghafal al-Qur’an terbukti kemampuan kognitif dan daya ingatnya menjadi meningkat, selain itu juga hidupnya lebih terarah, memiliki tujuan hidup yang jelas, dan terhindar dari perilaku menyimpang.
Hasil wawancara dalam penelitian tersebut mengungkap berbagai keajaiban yang menyapa para santri berkat barokah Al-Qur’an. Melalui perantara Al-Qur’an, Allah menyelamatkan mereka dari musibah dan kecelakaan, mempermudah jalan hidup, serta melancarkan rezeki. Sebagian santri bahkan meraih kesempatan umrah gratis, memperoleh beasiswa pendidikan, hingga menemukan jodoh yang kian mendekat. Deretan fakta ini membuktikan secara nyata bahwa segala hal yang berpaut dengan Al-Qur’an pasti akan meraih kemuliaan.
Baca juga: SANTRI: NGAJI, NGABDI, RABI
Seluruh uraian di atas membuktikan secara jelas bahwa Allah SWT memuliakan segala sesuatu yang berpaut dengan Al-Qur’an: mulai dari malaikat yang membawanya, nabi yang menerimanya, tempat dan waktu turunnya, hingga umat dan setiap individu yang menjaganya. Pelajaran besar yang dapat kita ambil adalah bahwa jika kita ingin hidup mulia, maka jangan pernah jauh dari Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia, bacaan harian, penenang hati, dan pedoman hidup. Usahakan tidak ada hari tanpa membaca Al-Qur’an, dan alangkah indahnya jika kita mampu menghafal setiap baitnya serta mengajarkannya kepada orang lain. Dengan begitu, Al-Qur’an menjamin hidup kita pasti akan meraih keberkahan dan kemuliaan.
Penulis : Fauzan Sidik

