Esensi Pernikahan dalam Pandangan Tasawuf

Ponpesgasek.id – Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami definisi dasar pernikahan. Pernikahan menjadi ikatan suci antara laki-laki dan perempuan yang membawa pengakuan agama, hukum, serta tatanan sosial untuk membangun keluarga. Kehadirannya bertujuan menciptakan ketenteraman, menumbuhkan kasih sayang, dan melanjutkan keturunan, sembari menetapkan hak serta kewajiban bagi suami-istri dan keluarga. Itulah pengertian pernikahan secara umum. Namun, di balik bentuk lahiriahnya, pernikahan menyimpan makna yang lebih mendalam sebuah hakikat yang menuntun kita untuk memahami mengapa Tuhan memuliakan ikatan ini. Mari kita ulas lebih lanjut

Pernikahan melampaui sebatas ikatan lahir, bukan sekadar akad atau cincin yang menautkan dua jasad. Lebih dari itu, pernikahan menjadi proses pertemuan dua ruh; sebuah kehendak Allah untuk menyatukan mereka agar saling membantu dan menyempurnakan perjalanan menuju-Nya. Pasangan berperan bagai cermin saat menatap mereka, sejatinya kita mengenali kekurangan, kelebihan, serta rahasia diri yang selama ini tersembunyi. Maka, tujuan berpasangan (pernikahan) bukan hanya mengejar kesenangan dan bahagia, melainkan jalan untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kehadiran makhluk-Nya.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman : 

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ

“Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al-Baqarah: 187). Dalam tafsir Rûḥ al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzîm wa as-Sab’i al-Matsânî” karya Imam Alusi, menggunakan kata “libas” (pakaian) untuk melukiskan hubungan suami-istri karena keduanya saling memberi ketenangan. Layaknya pakaian, pasangan berfungsi menutupi aib satu sama lain serta menjaga dari perbuatan buruk (Al-Alusi, II/65).

Pasangan berperan sebagai pelindung, penutup cela, penghangat, sekaligus pengingat atas kelemahan diri. Esensi pernikahan bukanlah menuntut pasangan, melainkan melayani kehendak Allah yang tertanam dalam jiwa setiap individu. Pasangan menjadi wasilah sekaligus ladang amal bagi kita untuk mendekat kepada-Nya, bukan sekadar pemuas nafsu semata.

Pernikahan merupakan tanda dari kekuasaan Allah, dalam al-Quran surat ar-Rum : 29 Allah SWT Berfirman : 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri mengajarkan fana sebelum fana kepada Allah, agar kamu merasa tenteram kepadanya”. Ayat ini menjadi salah satu bukti bahwa Allah mengatur siapa yang hadir dalam hidup kita untuk membentuk diri agar lebih dekat dengan-Nya.

Pernikahan menjadi ruang untuk meluruhkan ego dalam diri. Melalui ikatan ini, kita belajar menanggalkan keinginan untuk menang sendiri, ambisi untuk selalu dipahami, atau merasa paling benar. Pernikahan bukan sekadar urusan memiliki satu sama lain; lebih dari itu, ia merupakan sebuah jalan untuk saling membimbing dan mengembalikan ruh kepada Pemilik-Nya.

Baca juga: Hakikat Jodoh dalam Pandangan Tasawuf

Perlu dipahami bahwa pasangan bukanlah milik kita; ia adalah milik Allah, sebagaimana ruh yang menghidupkan jasad kita pun berada dalam kuasa-Nya. Pada hakikatnya, tidak ada yang benar-benar dapat kita miliki di dunia ini, termasuk pasangan hidup. Pernikahan bukanlah sarana untuk memiliki, melainkan pertautan dua ruh yang Allah satukan sementara waktu agar saling membersamai dalam perjalanan kembali kepada-Nya.

Karena itu, esensi pernikahan yang sejati tidak berhenti pada upaya saling mencintai, tetapi berlanjut pada langkah saling menuntun menuju cinta Ilahi yang abadi. Pernikahan menjadi ruang untuk saling menguatkan, mengingatkan, dan meluruskan langkah hingga bersama-sama mencapai ma’rifatullah.

Pasangan merupakan amanah yang membawa pertanggungjawaban di akhirat kelak. Di sana, Allah akan bertanya kepada suami dan istri: ‘Sudahkah kalian saling menolong untuk meraih ridha-Ku?’ Maka, jadikanlah pernikahan bukan sekadar tempat berbagi rasa, melainkan ruang untuk menumbuhkan ketaatan, memperhalus akhlak, dan saling menguatkan dalam kebaikan. Sebab, ukuran keberhasilan rumah tangga bukan terletak pada seberapa banyak bahagia yang kita rasakan, melainkan seberapa jauh kita mampu menuntun pasangan dengan sabar dan kasih hingga langkah keduanya semakin dekat dengan-Nya.

Penulis: Fauzan Sidik