Ponpesgasek.id – Belasan santri Pondok Pesantren Sabilurrosyad mengikuti pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan Kabarbaru.co di FIB School of Talent Hall Room, Malang, pada (7/12), untuk meningkatkan literasi kritis, kemampuan menulis, serta pemahaman etika penggunaan Artificial Intelligence (AI) di tengah tantangan era post-truth.
Acara digelar dengan mengusung tema “Jurnalistik Masuk Kurikulum Sekolah: Membangun Literasi Kritis di Era Post-Truth”. Program pelatihan terdiri dari dua rangkaian utama. Sesi pertama diisi oleh Wahyu Nurdiyanto yang menjelaskan konsep post-truth dan implikasinya terhadap pola konsumsi informasi masyarakat. Sesi berikutnya disampaikan oleh Ahmad Makki, yang menekankan pentingnya memasukkan ilmu jurnalistik dalam kurikulum sekolah guna membangun kemampuan literasi sejak dini.
Ketua pelaksana, Musa Al Kahfi, menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kemampuan memilah, memahami, dan memproduksi informasi perlu dibiasakan sejak bangku sekolah agar peserta didik tumbuh sebagai generasi yang kritis dan sadar informasi. Ia juga menyoroti adanya penolakan dari beberapa pihak terhadap liputan jurnalis yang mengangkat persoalan mutu pendidikan. Menurutnya, respons tersebut menunjukkan bahwa sebagian institusi pendidikan belum siap menerima laporan berbasis data dan fakta.
Pemateri yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Times Indonesia, Wahyu Nurdiyanto juga menilai pelatihan ini semakin relevan di tengah arus informasi yang cepat dan dinamis. Wahyu juga menjelaskan bahwa masyarakat kini tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen informasi, sehingga keterampilan literasi media menjadi kebutuhan dasar. Forum semacam ini, berfungsi sebagai ruang evaluasi dan pertukaran gagasan mengenai trend literasi dan jurnalistik di masa mendatang.
Wakil Pemimpin Redaksi Times Indonesia juga menyinggung etika penggunaan AI yang semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Pemateri menekankan bahwa meskipun AI memberikan kemudahan dalam menghasilkan konten, tanggung jawab moral tetap harus dijaga. Integritas, keaslian, akurasi, dan objektivitas, menurutnya, tidak boleh dikorbankan demi kecepatan produksi konten berbasis teknologi.

Perwakilan santri dari pondok pesantren Sabilurrosyad saat foto bersama dengan pemateri. (Foto. Gasek Multimedia)
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas pembelajaran jurnalistik di lingkungan pesantren dan sekolah, sekaligus memperkuat literasi kritis di kalangan generasi muda. Penyelenggara menargetkan kegiatan serupa dapat digelar secara berkelanjutan untuk menjawab tantangan informasi di era digital.
Penulis: M. Antonio Qomaruddin
Editor: Fathur Rahman

