Oktober 16, 2021

Ponpes Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Santri Milenial Memilih Rebahan atau Tadarusan?

Ponpesgasek.idRebahan dan tadarusan, dua kata yang memiliki makna berbeda dan saling bertolak belakang. Rebahan adalah kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita terutama di masa pandemi ini. Rebahan merupakan kata yang sangat populer di kalangan pemuda yang mengandung arti bersantai, tiduran, dan mengurangi aktivitas. Banyak orang menganggap rebahan adalah suatu kegiatan yang sangat nyaman dan tepat untuk dilakukan saat masa pandemi ini, karena adanya larangan untuk keluar rumah dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Kegiatan work from home dan study from home juga sangat mendukung kegiatan rebahan karena kita dapat bekerja dengan tiduran, belajar dengan tiduran, ujian dengan tiduran, dan masih banyak kegiatan lainnya yang dapat dilakukan dengan tiduran.

Apalagi kemudahan teknologi saat ini yang menjadi peran utama dalam mendukung kita untuk tidak beranjak dari tempat tidur dan melanjutkan aktivitas rebahan. Bayangkan saja selama dua tahun pandemi ini kita tidak keluar rumah dan hanya rebahan, hal tersebut menyebabkan bertambah malasnya diri untuk melakukan aktivitas dan badan yang menjadi semakin “mengembang”. Padahal sebenarnya bukan hanya badan saja yang bisa “dikembangkan”. Namun, potensi dan kreativitas juga bisa dikembangkan selama masa pandemi ini, serta banyak kegiatan yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari rebahan saja, yaitu seperti halnya kegiatan santri di pondok pesantren.

Kegiatan santri di pondok pesantren cukup beragam dan tentunya sangat bermanfaat, salah satu kegiatan yang popular di kalangan santri adalah tadarusan. Tadarusan adalah kegiatan membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya secara bersama-sama. Kegiatan tadarusan ini sudah sering dilakukan oleh para santri di berbagai pondok pesantren, bahkan sudah menjadi kegiatan wajib bagi para santri. Manfaat dari tadarusan ini selain meningkatkan potensi membaca Al-Qur’an juga dapat mempererat silaturahmi para santri. Sebenarnya tadarusan dapat dilakukan bukan hanya di pondok pesantren saja, tetapi sudah menjadi ciri khas yang melekat bahwa tadarusan dilakukan oleh santri di pondok pesantren. Dengan adanya kegiatan tadarusan ini santri bisa mengalihkan kegiatan rebahan mereka pada kegiatan tadarusan yang lebih produktif dan tentu banyak pahalanya, apalagi sebagai santri milenial yang seharusnya bisa lebih produktif daripada hanya rebahan dan menyia-nyiakan waktu yang ada.

Sungguh disayangkan, banyak beredar citra santri yang pemalas dan kurang produktif di masyarakat yang harus diperbaiki, karena kebanyakan dari mereka hanya berargumen tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Masyarakat awam tidak tahu bahwa santri melakukan banyak kegiatan di era pandemi ini, mulai dari tadarusan, mengaji kitab, hafalan, dan masih banyak lagi. Bahkan santri mengurangi jam tidur mereka dan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang tentunya sangat bermanfaat bagi mereka seperti halnya tadarusan.

Dari kedua pengertian tersebut terlihat sangat jelas perbedaanya, rebahan yang menunjukan makna bersantai sedangkan tadarusan menunjukan makna kegiatan yang sangat bermanfaat dan banyak pahala. Rebahan mungkin menyenangkan dan juga sangat nyaman, tetapi tadarusan akan menjadikan kita lebih produktif. Bayangkan jika generasi santri milenial hanya rebahan saja, apa yang akan terjadi pada masa depan santri nantinya? Juga siapa yang akan meneruskan perjuangan para ulama, dan siapa yang akan menjadi penerus dalam memimpin negara?

Bersantai-santai tidak akan menjadikan kita cepat sukses dan dihampiri banyak uang, sebaliknya kita harus berusaha untuk mendapatkan semua yang kita cita-citakan dengan istikamah dalam melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti tadarusan atau mengulang pembelajaran yang sudah dipelajari, mungkin hal tersebut terlihat sederhana. Namun, dibalik kesederhanaan itulah ada berbagai manfaat yang akan membimbing kita ke arah kesuksesan. Seperti halnya kiai dan para ulama besar, mereka tidak mendapatkan kesuksesan secara instan atau hanya menunggu dengan rebahan saja, tetapi para ulama dan kiai berusaha untuk menggapai ilmunya dengan mengabdi di pondok pesantren, belajar-mengar, muroja’ah, melakukan tirakat, tawadhu’ kepada guru, serta mengistikamahkan amalan-amalan ilmunya.

Kita sebagai santri milenial yang dihadapkan dengan perkembangan zaman apa tidak malu kalau hanya rebahan yang dikedepankan, padahal diluar sana kontribusi santri untuk negeri sangat dinantikan. Menjalankan hal-hal yang sifatnya sederhana namun dengan istiqomah itu memberikan dampak yang lebih besar dalam diri kita daripada melakukan hal besar namun hanya sekali, begitu juga bagi santri dengan mengistikamahkan tadarusan dengan niat untuk mencari ridha Allah akan memberikan kita manfaat lebih daripada hanya melakukan satu kali kemudian dilanjutkan dengan rebahan.

Lalu, apa yang akan dipilih oleh santri milenial saat ini rebahan atau tadarusan? Hal ini kembali lagi pada hakikat dan tujuan seorang santri. Santri memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang harus  dilakukan, ketika santri memilih untuk rebahan tanpa melakukan kegiatan wajib pondok maka santri akan mendapat konsekuensi atas tindakan nya, santri tersebut juga tidak akan mencapai apa yang dia harapkan karena tidak ada usaha yang dilakukan dan hanya berangan-angan sambil rebahan. Namun, apabila santri tersebut memaksakan diri mengikuti tadarusan dan kegiatan pondok lainnya, maka dia berhasil untuk melawan rasa malas dan memperjuangkan dirinya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Nyatanya dengan memaksakan diri melakukan tadarusan menjadikan langkah awal yang baik bagi kita para santri untuk menentang rasa malas yang menyelimuti, ketika nantinya kita sudah terbiasa untuk menentang rasa malas tersebut langkah kita akan semakin ringan dalam melakukan berbagai aktivitas, kita juga akan menjadi lebih rajin dalam belajar, mengerjakan tugas, serta mengaji dengan tanpa mengeluh dan ikhlas dari dalam diri, manfaat inilah yang akan menjadikan kita semakin produktif kedepannya.

Masa pandemi ini bukan saatnya untuk bersantai-santai sambil menikmati keadaan yang ada, masa pandemi seharusnya menjadi masa perjuangan untuk lebih mengembangkan kemampuan karena banyak waktu luang yang tersedia. Sebagai santri millennial di masa pandemi ini kita juga harus berjuang, mengurangi rebahan, dan berusaha menambah wawasan, serta memperbanyak tadarusan untuk mempersiapkan diri sebagai penerus pemimpin bangsa dan agama nantinya.

Penulis : Alfina Nur Azri

Editor  : Cheppy Eka Juniar