Oktober 16, 2021

Ponpes Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Muara Kebaikan Persembahan Untuk Negeri

Ponpesgasek.id-Pandemi COVID-19 telah menyebar luas hingga ke seluruh dunia dan berhasil mengubah pola kehidupan manusia. Seiring dengan pudarnya perhatian masyarakat akan keberadaan COVID-19, membuat kebijakan New Normal berjalan lebih gencar. Beberapa lembaga dan instansi telah menerapkan sistem yang baru untuk membalas ketertinggalan selama bertahan di rumah. Hal tersebut membuat penyebaran Covid-19 kian masif di beberapa daerah. Tercatat pada tanggal 9 Juni 2021 terdapat penambahan 7.725 kasus baru. Sehingga total kasus COVID-19 di Indonesia saat ini mencapai 1,88 juta kasus dengan 1,72 juta sembuh dan 52.162 jiwa meninggal dunia. Meski demikian, usaha pemerintah dalam memerangi belenggu pandemi tidak pernah berhenti. Dalam hal itu diimplementasikan melalui program vaksinasi yang telah berjalan sejak 13 Januari awal tahun ini.

Tidak dapat ditampik bahwa kenyataan adanya pandemi ini membuat kekacauan dunia Internasional. Sehingga status pandemi tidak dapat dengan mudah dicabut meski telah dilakukan program vaksinasi. Sebab adanya vaksin tidak menutup kemungkinan penyebaran, hanya mengurangi risiko penularan. Pada masa pandemi seperti saat ini, hampir semua kegiatan dialihkan dengan sistem serba online. Dengan dukungan dari perkembangan teknologi, dapat mempermudah semua aktivitas manusia yang dibatasi oleh kebijakan pemerintah pada masa pandemi ini. Tentu kebijakan yang dibuat tidak pernah luput dari sisi negatif. Pandemi memunculkan beragam permasalahan sosial, seperti pengangguran, kemiskinan, hingga kriminalitas. Salah satu permasalahan yang paling menonjol adalah masalah kemanusiaan.

Permasalahan kemanusiaan dalam hal ini berkaitan dengan kondisi moral manusia. Degradasi moral remaja kian merosot karena pengaruh intervensi budaya luar yang masuk (tanpa filter) melalui berbagai media online, termasuk media sosial seperti Instagram, Twitter, atau Facebook. Tentu kondisi pandemi yang beralih dengan sistem online, membuat pengguna internet tidak dapat dibatasi dengan mudah. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Publik telah dialihkan dengan isu budaya populer yang terkadang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dampak yang paling dirasakan adalah pada usia remaja, di mana mereka mengalami masa transisi dari dunia kekanakan menuju kedewasaan. Sehingga kondisi mental dan pemikiran cenderung masih labil.

Remaja akan paling banyak diserang zaman. Hal tersebut diakibatkan oleh mudahnya akses teknologi di kalangan remaja. Selain dari kebutuhan edukasi, remaja juga membutuhkan media hiburan. Termasuk media untuk mengaktualisasikan diri guna memperoleh pengakuan dari khalayak publik. Tidak jarang kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik. Kondisi tersebut dapat mengguncang keadaan moral remaja. Masa remaja menjadi masa emas seseorang yang dapat menentukan arah masa depan. Pemahaman akan pentingnya menjaga tata krama dan akhlak harus ditanamkan sejak anak-anak. Tentunya akan terus dipupuk pada masa transisi, yaitu masa remaja. Oleh karena itu, perlu adanya penanaman karakter terhadap remaja agar tidak selalu kalah dengan tekanan budaya luar.

Dalam hal ini, santri sebagai salah satu golongan insan yang dididik dengan nilai-nilai ajaran Islam harus mampu membawa perubahan. Nilai agama yang diajarkan selalu mengandung prinsip “Amal Ma’ruf Nahi Mungkar”, yang artinya “mengajak pada kebaikan dan mencegah pada kemaksiatan”. Nilai dan norma yang diterima dalam lingkungan pesantren dapat diamalkan kepada masyarakat luas yang kemudian dapat berdampak signifikan bagi agama, bangsa, hingga negara. Santri memegang peran penting dalam kemajuan peradaban Islam di dunia. Tokoh besar seperti ulama berawal dari belajar sebagai santri. Dengan ajaran serta bimbingan menjadi pemimpin yang memiliki akhlakul karimah.

Akhlakul karimah menjadi bagian dari pilar karakter santri yang harus ditanamkan dalam hati. Dewasa ini, tata krama dan karakter menjadi nilai yang menentukan keunggulan sikap seorang santri. Tolok ukur dari keberhasilan pendidikan, baik formal maupun nonformal (pesantren) adalah mampu melahirkan calon pemimpin bangsa yang berkarakter mulia. Tidak dapat dipungkiri bahwa orientasi pendidikan di Indonesia adalah menciptakan generasi unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Sehingga negara Indonesia tidak akan pernah mengalami ketertinggalan dari negara lain, termasuk dalam bidang pendidikan. Santri diharapkan menjadi pelopor dalam pelaksanaan pendidikan karakter dengan wawasan kebangsaan yang tentu tetap mempertahankan nilai-nilai ajaran Islam yang disesuaikan dengan konteks zaman.

Islam adalah agama “Rahmatallil’alamiin” yang berarti bahwa Islam menjadi agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Pokok-pokok ajaran Islam tidak dapat dikatakan sebagai doktrin kuna, sebab hukum dan aturan dalam Islam selalu fleksibel sebagaimana konteks yang dibicarakan. Santri sebagai harapan negeri harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu termasuk dalam kaitannya dengan “Hablumminallah” atau berhubungan dengan Allah SWT (seperti beribadah, salat, puasa, zakat, atau haji) dan “Hablumminannas” atau berhubungan dengan sesama manusia (seperti muamalat, interaksi sosial, dan komunikasi). Dalam menjalin dua hubungan tersebut, tentu santri harus memiliki pegangan akhlakul karimah untuk dapat diterima amal perbuatannya, baik oleh Allah SWT atau oleh sesama manusia. Santri memegang peran dalam mengisi muara kebaikan .

Nilai-nilai karakter mulia yang dapat diterapkan, khususnya pada masa pandemi seperti saat ini adalah saling tolong menolong dalam kebaikan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan bantuan kepada orang-orang yang terdampak Covid-19. Hal itu dapat meningkatkan kekuatan relasi antarmanusia dalam jalinan kehidupan sehari-hari. Sebab, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Nilai akhlakul karimah yang harus diperjuangkan oleh seorang santri adalah sopan santun terhadap orang lain dan saling menghargai atau toleransi. Kemampuan santri dalam membaca situasi dapat dimulai dengan memahami sesama teman. Dengan demikian dapat saling toleransi dan saling menghargai. Pada dasarnya konteks akhlakul karimah sangatlah luas. Ibadah tidak melulu dengan bersedekah menggunakan uang banyak. Memberikan bantuan kepada orang yang tepat dan di waktu yang tepat dapat mendatangkan pahala dan keridhoan Allah SWT. Oleh karena itu, akhlakul karimah sebagai pilar karakter santri dapat dilakukan dengan beragam cara, selama tidak bertentangan dengan nilai dan norma agama. “Banyak jalan menuju Roma”.

Penulis : Bella Fadhilatus Sanah

Editor   : Ikbar Zakariya