Oktober 16, 2021

Ponpes Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Antara Santri, Budi Pekerti, dan Pandemi

Ponpesgasek.id-Santri merujuk pada seseorang yang mendalami ilmu agama di pondok pesantren. Biasanya terbagi menjadi santri kalong dan santri mukim. Santri kalong adalah santri yang ikut mengaji, tetapi tidak bertempat tinggal di pondok atau dengan kata lain pulang-pergi. Sedangkan santri mukim sesuai namanya, yaitu santri yang ikut mengaji sekaligus bermukim di pondok tersebut. Baik santri kalong maupun santri mukim keduanya memiliki nilai kesantrian yang selayaknya ada pada setiap santri. Nilai kesantrian tersebut adalah keluhuran budi pekerti atau dalam bahasa pesantren disebut dengan akhlaqul karimah.

Budi pekerti atau akhlaqul karimah didasarkan pada tuntunan agama (Al-Qur’an, Hadis, dan nasihat ulama), dan budaya masyarakat setempat. Contoh budi pekerti yang murni bersumber dari tuntutan agama yaitu berkata lemah lembut, jujur, optimis, disiplin, rajin, dan lain sebagainya. Sedangkan budi pekerti yang bersumber dari budaya masyarakat ini berbeda tergantung wilayah di mana masyarakat tersebut tinggal. Misalnya, jika di Arab memegang janggut seseorang ketika bertemu dianggap sebagai sebuah penghormatan berlainan dengan di Jawa yang justru akan dianggap tidak sopan. Salah satu budi pekerti yang turun temurun diajarkan di Jawa adalah membungkukan badan ketika melewati orang yang lebih tua di mana budaya ini tentunya tidak ditemukan di tempat lain.

Seorang santri bukan hanya dituntut menjadi pribadi yang jujur, ramah, baik hati, lemah lembut, tapi juga disiplin, kerja keras, ulet, rajin, dan sederet etos kerja baik lainnya. Seperti yang sudah dicontohkan oleh para kiai sebagai panutan kaum santri. Para kiai juga merupakan benang pengait antara santri dan Rasulullah sehingga dengan mencontoh sikap dan perilaku para kiai berarti juga mencontoh sikap  dan perilaku Rasulullah.

Salah satu bentuk nyata dari pembentukan budi pekerti di pondok pesantren adalah kerendahan hati seorang santri kepada guru-gurunya. Bahkan ada sebuah perkataan dari Ali bin Abi Thalib yang menjadi motto hidup kaum santri. Perkataan tersebut berbunyi : “Saya adalah hamba bagi siapapun yang mengajarkan saya walaupun satu huruf.” Ini merupakan sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa taatnya seorang santri kepada guru-gurunya. Banyak kisah santri nusantara yang terkenal akan kerendahan hatinya. Katakanlah kisah Hadratus syekh Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan yang selalu berebut untuk menata sandal Syekh Kholil Bangkalan. Terbukti setelah pulang ke daerah masing-masing, beliau berdua menjadi tokoh hebat pendiri dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Kaum sarungan digadang-gadang menjadi penyelamat moral bangsa di tengah zaman yang semakin tidak baik-baik saja. Zaman di mana budaya buruk dapat dengan mudah masuk melalui globalisasi. Apalagi di situasi pandemi yang menuntut kita untuk menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Lalu, apa hubungannya dengan budi pekerti? Hampir setahun lebih kita dikekang di dalam rumah tanpa banyak bertemu dengan orang lain. Sedikit demi sedikit kemampuan bersosialisasi akan menurun terlihat dari mudah bereaksinya seseorang ketika ada orang yang menyinggungnya di media sosial. Berkomunikasi hanya melalui media sosial pun seringkali menimbulkan salah paham karena tidak adanya intonasi, mimik, dan gestur yang digunakan saat berkomunikasi terutama jika melalui chat.

Pondok pesantren sejak dulu sudah mempunyai solusi atas permasalahan ini. Santri, terutama santri mukim, terbiasa berkumpul dengan santri lainnya sepanjang hari. Mereka saling berinteraksi, bertukar pikiran, melakukan pekerjaan bersama-sama, sehingga kemampuan sosialisasi para santri tentunya lebih terlatih. Ini tentunya sangat berguna pada masa pasca pandemi. Santri yang bukan hanya dilatih pola pikirnya, tapi juga pola sikapnya akan pentingnya budi pekerti yang luhur, tentunya akan lebih adaptif ketika masa pasca pandemi.

Selain berkumpul bersama santri lainnya, para santri juga biasanya berada satu lingkungan dengan kiai dan ustaz mereka. Sehingga jika ada perilaku santri yang kurang sesuai beliau-beliau bisa langsung mengingatkan mereka. Hal inilah yang juga menjadi alasan mengapa hubungan antara kiai dan santri lebih dari sekadar hubungan antara guru dan murid, tetapi sudah seperti orangtua dan anak.

Berkaitan dengan pembahasan terakhir, pandemi juga kerap menyebarkan rasa takut dan khawatir akan mengerikannya Covid-19 ini. Publik semakin gusar dan stres menghadapinya. Rasa takut, khawatir berlebihan, gusar, hingga stres dapat menurunkan imunitas tubuh di mana di situasi seperti ini harusnya imunitas tubuh dijaga dengan baik. Lagi-lagi pondok pesantren memiliki solusinya. Ada ajaran dalam dunia pesantren yang sangat cocok diterapkan di masa pandemi. Ajaran tersebut bernama tasawuf. Orang-orang yang sudah memelajari dan mengamalkan ilmu tasawuf biasanya memiliki pembawaan yang tenang, sabar, dan optimis. Sikap-sikap seperti inilah yang justru dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Tasawuf juga bisa diartikan sebagai budi pekerti yang berkaitan langsung dengan hati. Keyakinan yang kuat hasil dari mengamalkan ilmu tasawuf ini yang membimbing para santri untuk menerapkan berbagai akhlaqul karimah. Salah satu pandangan tasawuf tentang pandemi adalah pandemi merupakan sebuah ujian. Jika seseorang lulus dalam ujian ini maka Allah akan mengampuni dosanya dan mengangkat derajatnya. Bagaimana tidak senang jika seseorang dijanjikan akan diampuni dosanya dan diangkat derajatnya?

Maka dari itu, pondok pesantren benar-benar menjadi solusi dengan pendidikan akhlaqul karimahnya. Santri dengan budi pekertinya akan mampu menghadapi masa pasca pandemi bukan hanya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain terutama yang berada di lingkungan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis : Mohammad Muhson Al Farizi

Editor   : Cheppy Eka Juniar