Oktober 16, 2021

Ponpes Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Santri Harus Menulis

Ponpesgasek.id-Assalamualaikum wr. Wb.

Izinkan saya menyampaikan kembali apa yang saya dapatkan dari guru saya. Hari itu adalah hari pertama kami mengaji “Ta’limul Muta’allim”, kitab yang membahas adab dan tata cara mencari ilmu.

Pada awal pembelajaran, beliau menganjurkan kepada seluruh santri agar rutin membaca, selayaknya seorang akademisi. Selain membaca, beliau juga mengharapkan agar kami dapat menyebarkan apa yang telah kami terima baik melalui pengajaran secara langsung maupun melalui tulisan beliau.

Setelah itu beliau menjelaskan panjang lebar mengenai keduanya. Mengajar dan menulis. Dan inilah rangkuman dari apa yang beliau sampaikan terkait menulis buku ditambah beberapa tambahan dari saya pribadi.

Menulis Dengan Ikhlas

Mengapa ulama terdahulu karyanya bisa terus dinikmati hingga sekarang? Banyak sekali kitab-kitab karangan ulama sudah ditulis ratusan tahun yang lalu akan tetapi tetap populer hingga saat ini. Salah satu rahasianya terletak pada keikhlasan beliau dalam mengarang sebuah kitab.

Seperti kata pepatah “Apa yang disampaikan dari hati akan sampai pula ke hati.” Begitupun dengan sebuah buku. Buku yang ditulis dengan ikhlas akan berbeda dengan buku yang ditulis karena mengharapkan royalti, ketenaran, atau sekadar melakukan tugas.

Banyak kisah ulama yang sampai membuang kitabnya ke laut hanya demi menguji apakah beliau sudah ikhlas atau belum dalam menulisnya. Jika beliau ikhlas maka akan ada orang yang menemukannya namun jika beliau tidak ikhlas maka buku yang sudah susah payah dikarang tersebut akan hilang.

Menulis Untuk Mengabadikan Gagasan

Kerap kali manusia lupa dengan apa yang dipelajarinya dan apa yang dipikirkannya. Js. Khairen, penulis novel “Kami (bukan) Sarjana Kertas”, pernah berkata bahwa orang-orang pada umumnya mengira bahwa mereka akan ingat ide-ide atau gagasan yang pernah mereka pikirkan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Sebagian besar ide yang kita dapatkan akan mudah sekali hilang. Maka dari itu JS. Khairen menyarankan agar menulis setiap gagasan yang terlintas di pikiran kita.

Begitupun dengan yang disampaikan oleh guru saya. Beliau menuturkan bahwa sebuah gagasan jika hanya disampaikan lewat lisan saja rawan untuk diubah. Baik dikurangi ataupun ditambahi. Menulis dapat membantu seseorang untuk menyampikan kembali sebuah gagasan dengan mudah secara utuh tanpa ada perubahan.

Menulis Sebagai Jalan Mewariskan Pengetahuan

Melalui tulisan, kita dapat mewariskan ilmu-ilmu yang telah dipelajari kepada generasi mendatang. Bisa jadi apa yang kita terima dari guru kita hari ini tidak akan ditemui kelak di zaman anak cucu kita. Cara terbaik mewariskannya adalah dengan menulis. Mengubahnya menjadi sebuah buku yang kelak dapat mereka pelajari.

Kalau kita lihat dalam kasus sebuah penelitian, dapat kita temui poin ini pada penulisan artikel jurnal ilmiah. Seseorang akan tahu tentang penelitian yang sudah dilakukan oleh  ilmuan dengan membaca jurnal yang telah diterbitkan. Bayangkan saja jika jutaan hasil penelitian tersebut tak pernah dituliskan ? Bisa jadi pengetahuan tidak akan pernah berkembang seperti saat ini.

Menulis Sebagai Amal Jariyah Kita

Yang paling menguntungkan dari menulis buku bukanlah pada royaltinya. Katakanlah kitab-kitab yang umurnya sudah 500 tahun, penulis tidak akan lagi mendapatkan royaltinya. Ya tentu karena beliau sudah wafat. Tapi bacaan fatihah yang selalu dibaca setiap akan mengaji kitab beliau akan terus digaungkan selama kitab tersebut masih dipelajari. Pahalanya pun akan senantiasa beliau dapatkan. Mengalir terus walaupun beliau sudah di alam barzah.

Belum lagi sholawat yang selalu ada dalam setiap muqaddimah sebuah kitab. Orang yang menulis sholawat akan terus mendapatkan pahala selagi tulisan itu masih ada. Dan kitab-kitab beliau yang di dalamnya ada sholawatnya hingga kini masih terus dicetak ulang dengan jumlah yang tidak sedikit.

Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis : Mohammad Muhson Al Farizi

Editor   : Zuli Laila Khafida