Oktober 16, 2021

Ponpes Gasek

Khidmah Konten dari Pesantren

Penjelasan KH Marzuqi Mustamar Tentang Tauhid

Ponpesgasek.id- Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Allah SWT berfirman dalam QS Al Bayyinah ayat  5 :

. . . . . .وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

Nabi Muhammad bersabda :

إنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

Ajaran yang paling penting dan paling prinsip dalam Islam adalah ajaran tauhid.

Meyakini bahwa yang berkuasa hanya Allah, yang maha sempurna hanya Allah, yang berhak mengatur jagat raya hanya Allah, meyakini bahwa yang menentukan segalanya, sehat atau sakit, kaya atau miskin, selamat atau tidak itu adalah hanya Allah SWT. Dengan meyakini itu semua bahwa yang maha sempurna hanya Allah, yang maha berkuasa hanya Allah, yang mengatur semua hanya Allah, yang maha kaya hanya Allah, yang maha memiliki hanya Allah.

Maka konsekuensi dari itu semua adalah kita semua harus menyembah kepada Allah, yakinnya hanya kepada Allah, minta dan berharapnya hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Takut (khouf) hanya kepada Allah tidak kepada hal-hal lain. Itulah namanya tauhid yang tersimpulkan dalam kalimat Laa Ilaha Illallahu (لا إله إلا الله), yang artinya tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah SWT.

Supaya kita benar – benar bertauhid kepada Allah, maka ada 3 cara. Yaitu yang pertama, lakukan apa yang sesuai dengan hukum dan syari’at Allah SWT. Jangan menentang segala sesuatu yang Allah telah tetapkan. Kita harus menerima dengan sepenuh hati dan hati yang sangat ikhlas, tidak ada rasa tidak terima sedikit pun. Bila kemudian ada satu atau dua perkara dalam syari’at islam yang kita belum bisa kita laksanakan maka jangan menolak syari’at tersebut. Tetapi akui bahwa kita salah dan segera minta ampunan kepada Allah SWT.

Seperti yang terjadi kepada para Sahabat nabi, ketika diperintah tidak ada jawaban lain kecuali sami’na wa atho’na (سمعنا وأطعنا), yang artinya sepenuhnya kami mendengar dan kami ta’at. Jika ada perkara yang tidak bisa dilaksanakan maka para Sahabat segera mengucap Ghufronaka Robbanaa wa ilaikal Mashiir, yang artinya kami meminta ampun kepadamu Ya Allah dan hanya kepadamu kami kembali. Kemudian apabila ada suatu perkara yang belum diatur dalam Al Qur’an dan Sunah, seperti masalah budaya, lalu lintas, dll maka boleh disepakati bersama asalkan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunah.

Kedua, apabila kita melakukan hukum syari’at Al Qur’an dan Sunah maka lakukan dengan niat semata – mata karena Allah SWT. Terkadang ada orang secara dhohir melakukan hukum syari’at, tetapi niatnya untuk kepentingan pribadi, kepentingan partai, kepentingan golongan, kepentingan kampanye. Itu namanya bukan tauhid, tidak ikhlas, dan memperalat syari’at Allah untuk kepentingan pribadi atau partai. Dan tentu termasuk syirik dan riya’.

Didalam Al Qur’an sudah dijelaskan bahwa orang yang rajin sholat pun bisa masuk neraka wail apabila diikuti oleh rasa riya’, mereka rajin sholat bukan semata – mata untuk Allah SWT melainkan untuk mencari popularitas dan pujian orang lain. Dan itu bukan yang namanya tauhid.

Ketiga, kerjakan semua itu (syari’at islam) dengan penuh kesadaran bahwa ini semua bisa dilakukan bukan karena saya pintar, bukan karena saya hebat, bukan karena kekuatan saya. Namun semata – mata karena pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT. Jangan menganggap bahwa apa – apa yang sudah kita kerjakan dan kita bangun itu karena kehebatan dan kepinteran kita sehingga kita bisa menganggap bahwa itu adalah milik kita. Melainkan yakinlah bahwa semua itu berkat pertolongan dan kuasa Allah SWT. Karena segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi itu adalah hanya milik Allah SWT bukan milik kita. Bahkan diri dan nyawa kita ini pun adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT.

Maka dari itu lakukan kebaikan dengan penuh kesadaran bahwa kebaikan itu terwujud karena taufiq, hidayah, kekuatan dan pertolongan dari Allah SWT Laa Haula wa Laa Quwwata Illa Billah.

Dan kalau kita sudah bisa melakukan syari’at Allah semata – mata karena Allah dan tidak pernah kita menganggap itu semua karena kehebatan kita, kita semua kembalikan untuk Allah. Dan apabila kita sudah melakukan kebaikan hanya untuk Allah maka yang kita ucapkan adalah Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah dan yang berhak di puji hanya Allah SWT. Kalau sudah begitu maka kita bisa melaksanakan ayat Allah SWT yang artinya tidaklah manusia diperintah kecuali beribadah kepada Allah SWT dengan ikhlas. Yang dilakukan syari’at Allah, niatnya karena Allah dan mengandalkan pertolongan dan kekuatan hanya dari Allah SWT, bukan dari yang lain.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

*Disampaikan dalam Khutbah Jum’at, 25 Oktober 2018 di Masjid Nur Ahmad

Penulis : Rizal Abdul Aziz